Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Islam janganlah dihayati sebagai ideologi alternatif. Ia harus dilihat sebagai hanya salah satu elemen ideologis yang melengkapi bangunan keindonesiaan yang telah terbentuk.

Berita

    "Bukannya Overconfidence, Kalau Saya Yakin Menang" (Bag. 2)

    Jakarta, gusdur.net
    Dalam jajak pendapat yang ditayangkan dalam dialog bertajuk Indonesia Recovery itu, nama Gus Dur disebut-sebut oleh responden sebagai salah satu calon presiden yang diunggulkan.

    Makanya, Rizal Malarangeng bertanya kepada Gus Dur, “Kelihatannya asumsi dari masyarakat bahwa Gus Dur mau ikut run for the president(mencalonkan –red) lagi?”

    “Saya itu kalau diperintahkan oleh kyai-kyai saya mau maju. Menang atau kalah nggak ada masalah bagi saya, karena hanya menjalankan perintah kyai. Ada pun kyai-kyai itu representasinya ada 4 orang, kyai Abdullah Faqih dari Langitan, Tuban, kyai Muhaiminan dari Parakan, Temanggung, kyai Abdurahman Chudori dari Magelang, tempat saya mondok dulu. Dan yang terakhir kyai Masubadar dari Pasuruan,” tutur Gus Dur.

    “Kalau kyai-kyai memberikan lampu hijau, Gus Dur maju? Persiapannya sekarang kira-kira seperti apa, Gus?” tanya Rizal.

    “Sekarang memang sudah diberi ijin, tapi kan saya nggak bikin persiapan. Karena apa, karena belum diperintah,” jawab Gus Dur.

    “Tapi dari segi persiapan segala macam, siap?” kejar Rizal.

    “Kita sih kapan saja siap,” ucap Gus Dur santai.

    Panda Nababan yang tampak heran mendengar soal “perintah kyai” yang ditunggu Gus Dur menyela, “Saya ingin tanya kepada Gus Dur, mesti diperintah Gus Dur (baru) mau?”

    “Iya, karena yang dulu juga begitu. Cuma ada orang yang namanya Amien Rais itu,” kata Gus Dur. Ia lalu menceritakan ihwal langkahnya ketika dicalonkan menjadi presiden pada Sidang Umum MPR 1999. Tuturnya, Amien Rais suatu hari datang bersama Fuad Bawazier dan Al Hilal Hamdi ke Pesantren Buntet di Cirebon menemui 60 kyai besar di Indonesia.

    “Amien minta supaya saya menjadi calon Presiden, waktu itu sebelum SU MPR yang kurang 2 bulan lagi. Lalu kyai Abdullah Abbas sebagai wakil para kyai berkata: “Kami punya Gus Dur cuma satu. Nanti kalau setelah menjadi presiden kemudian dilengserkan dalam 2 bulan bagaimana? Sumpah-sumpahlah Amien Rais (saat) itu, bahwa dirinya tidak akan (melengserkan) begitu. Tapi ternyata, memang nggak dua bulan, 20 bulan kemudian saya dilengserkan,” kata Gus Dur disambut tawa peserta diskusi.

    Jadi, sambung Gus Dur, Amien Rais telah mencederai sumpahnya sendiri. Sumpah di hadapan para kyai besar NU. “Saya pidato begini sudah lebih 40 kali dan tidak pernah ada peringatan atau keberatan Amien Rais. Kalau nggak benar, bawa dong (saya) ke pengadilan,” katanya.

    Selanjutnya Gus Dur mengingatkan peserta dialog akan adanya silent majority yang biasanya sangat menentukan perkembangan politik di Indonesia.

    “Saya berpandangan silent majority, suara yang tidak ditanya atau tidak menjawab (jajak pendapat), itu penting diperhitungkan. Sekarang memang belum menentukan apa-apa. Tapi mari kita tunggu pada pemilu nanti,” ujar Gus Dur.

    Untuk itulah, Gus Dur akan berusaha keras mengumpulkan suara dari silent majority. “Caranya saya meneruskan apa yang sudah saya kerjakan. Karena nggak punya duit untuk ngurusi koran , TV segala macem , ya sudah saya turun ke bawah. Istilahnya itu komunikasi langsung dengan rakyat, jadi terus saja nggak apa-apa .

    Mengenai kansnya untuk memenangkan pemilu mendatang, dengan yakin Gus Dur menjawab "kalau saya jangan dibilang over confidence (terlalu percaya diri –diri-red). Pikiran saya saya yang menang nanti."

    Namun, Gus Dur menambahkan ada concern (kepedulian -red) yang lebih besar dari sekedar memenangkan pemilu, yaitu mengugah suara pemilih-pemilih muda yang dinilainya saat ini apatis.