Indonesia English


Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder. Umat Islam --mungkin karena faktor masa lalu-- sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.

Berita

    SBY-JK Saksi Pernikahan Yenny-Dhohir

    Ciganjur-wahidinstitute.org. Di depan KH. Abdurrahman Wahid dan H. Anshori sang penghulu, Dhohir Farisi lancar menjawab ijab-kabul dalam bahasa Arab. Sekali jawab, dua saksi akad nikah Kamis siang itu (15/10), Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan sah, dan langsung diikuti tempik sorak para hadirin yang memadati Masjid Al-Munawwarah. Di antara para hadirin tampak beberapa tokoh penting: Dewan Pembina Partai Gerindra Prabowo Subianto yang mengenakan batik warna krem, Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf, dan beberapa politisi lainnya. Hadir juga para kiai Nahdlatul Ulama (NU) seperti KH. Mustofa Bisri, Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi dan Ketua PBNU Said Aqil Siradj, termasuk tokoh muda NU Ulil Abshar Abdalla.

    Prosesi pembacaan ijab-kabul Dhohir Farisi dengan Zannuba Arifah Chafsoh, akrab disapa Yenny Wahid, dimulai pukul 14.13 WIB dimana Gusdur, sapaan akrab KH. Abdurrahman Wahid, langsung bertindak sebagai wali nikah. Setelah Ijab-kabul, acara dilanjutkan dengan penyerahan mas kawin berupa 10 ekor sapi seharga Rp.90,9 juta oleh Dhohir kepada Gudur. Sepuluh sapi diserahkan secara simbolis dalam bentuk lonceng dan sertifikat yang dibingkai. Setelah itu sang penganti pria bersama rombongan menuju kediaman Gus Dur diiringi tabuhan rebana dari mahasiswa Perguruan Tinggi Ilmu al-Quran (PTIQ).  

    Sebelumnya, prosesi akad nikah dimulai dengan acara serah terima dari keluarga besar mempelai laki-laki kepada keluarga perempuan yang digelar di lokasi samping masjid, tempat akad dilakukan. Kepada keluarga perempuan, perwakilan pengantin pria menyatakan menyerahkan Dhohir Farisi kepada keluarga besar Gusdur dan kelak akan menjadi anggota baru keluarga tersebut. Perwakilan keluarga Dhohir juga meminta Gusdur kelak bisa membimbing Dhohir menjadi suami sekaligus bagian keluarga seperti yang diharapkan. "Ananda Dhohir Farisi akan memegang teguh prinsip dan nilai-nilai Islam Ahlussunnah Waljamaah," ungkap perwakilan keluarga itu.

    Dhohir sendiri lahir dan besar dalam lingkungan keluarga Nahdliyin dari pasangan H. Ma'ruf Al-hasyim dan Hj Ma'rufah. Sang ibu tercatat pernah menjadi sebagai ketua Fatayat Cabang Kraksaan, Probolinggo, organisasi perempuan di bawah organisasi NU. Bersekolah di  Ma drasah Ibtidaiyah (MI) NU Kraksaan, Dhohir kecil terbiasa membagikan majalah Aula, media komunikasi warga NU ke rumah-rumah pengurus dan anggota NU setempat.

    Prosesi akad nikah ditutup dengan pembubuhan tanda tangan Yenny-Dhohir di buku nikah mereka dan dilanjutkan dengan ucapan selamat di pelaminan. Namun saat membubuhkan tandatangan Yenny Wahid tampak kesulitan dan bingung di mana dia harus membubuhkan tanda tangan. "Maklum, pengalaman pertama, dan mudah-mudahan yang terakhir," goda pembawa acara melalui mikropon.Yenny pun tampak tersipu malu.

    Wapres Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Kalla datang lebih dulu sekitar pukul 13.25 WIB.Tak lama kemudian Presiden SBY datang bersama Ibu Negara Ani Yudhoyono dan rombongan. Setelah sesi foto dengan pasangan pengantin dan ramah-tamah, sekitar 15.20 WIB Presiden SBY dan  Ibu Negara langsung meninggalkan tempat dengan kawalan ketat. Sementara Jusuf Kalla masih menyempatkan makan hidangan tuan rumah sebelum akhirnya juga meninggalkan tempat.

    Sehari sebelumnya, keluarga juga menggelar acara pemasangan bleketepe, anyaman daun kelapa dan padi, oleh Gus Dur di Ciganjur sebagai tanda pemilik rumah tengah memiliki hajat. Acara ini kemudian dirangkai dengan pengajian al-Quran, siraman dengan air dari tujuh sumber, sungkeman dan ditutup midoderani pada malam harinya (AMDJ) []