Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Demokrasi itu bukan hanya tak haram, tapi wajib dalam Islam. Menegakkan demokrasi itu salah satu prinsip Islam, yakni syuro.

Berita

    Antusiasme Peziarah meningkat, Pemerintah Kucurkan Dana Rp. 180 Miliar

    JAKARTA-GUSDUR.NET. Sahabat dekat Gus Dur, KH. Mustofa Bisri, akrab disapa Gus Mus, menyatakan saat ini banyak orang menambahkan program ziarah Wali Songo (Wali Sembelian) atau wisata religi dengan berziarah ke makam Gus Dur. "Program ziarah walisongo itu sekarang ditambah satu, ke Tebuireng (makam Gus Dur -red)," katanya saat menyampaikan tausiyah di acara Istighotsah dan Peringatan Hari Lahir Gus Dur di Ciganjur, Jalan Warung Sila Jakarta Selatan, Sabtu (7/8).

    Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatuth Thalibin Rembang ini mengaku heran dengan fenomena ketokohan Gus Dur yang ketika meninggalnya hingga sekarang masih tetap ditangisi dan didoakan banyak orang. "Fenomena Gus Dur ini saya sampai tulis tiga tulisan," aku Gus Mus.  

    Melihat antusiasme masyarakat yang terus memberikan penghormatan ke makam Gus Dur, Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono menyatakan pemerintah telah menyiapkan Rp 180 miliar untuk membuat kawasan wisata religi di pemakaman Gus Dur di Jombang, Jawa Timur. Besarnya pembiayaan tersebut, sudah sesuai arahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

    "Beliau mengarahkan untuk membangun tempat tersebut sebagai penghormatan kepada Gus Dur, selaku Presiden ke-empat RI," kata Agung seusai rapat kerja di kantornya, Selasa (10/8), seperti dikutip Tempointeraktif.com, Selasa (10/8).

    Pemerintah, lanjut Agung, tidak akan merubah areal makam, atau melakukan pemugaran secara total, karena akan mempertimbangkan budaya setempat. "Bukan untuk memperbaiki makam, tapi infrastruktur pendukung, seperti, parkir dan jalan raya," ujarnya kepada Tempointeraktif. 

    Mengenai pembiayaan ini, Pemerintah tidak akan menanggung sendirian. Karena di sana ada tanggung jawab pemerintah Jombang dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur. 

    Wakil Gubernur Jawa Timur Syaifullah Yusuf menyatakan, pemerintah kabupaten Jombang menyediakan anggaran sebesar Rp 9 miliar dan Rp 30 miliar dari pemerintah Propinsi Jawa Timur. "Pak Gubernur ingin agar usulan menjadikan pemakaman Gus Dur sebagai wisata religi," ujarnya dalam kesempatan yang sama.

    Masalah utama di  kawasan pemakaman Gus Dur, kata Gus Ipul sapaan akrab Syaifullah Yusuf, adalah area parkir dan toilet yang belum mencukupi. Padahal kunjungan per hari bisa mencapai 100 bus. Saat ini pengelolaan kawasan pemakaman hanya dilakukan oleh  keluarga dan dibantu pemerintah kabupaten. "Kalau akhir pekan, parkir macet," ujarnya. "Kami sudah membebaskan empat hektar untuk areal parkir dan pedagang kaki lima."

    Entaskan kemiskinan

    Menanggapi pembiayaan areal makam Gus Dur, Yenny Wahid menginginkan tidak ada perlakuan yang berlebih untuk makam Gus Dur. Keluarga menginginkan makam Gus Dur tetap dibuat sederhana.

    Putri kedua Gus Dur ini sangat menghargai perhatian yang diberikan Pemerintah. Namun keluarga juga mengusulkan, kalau anggaran sebesar itu bisa lebih bermanfaat untuk pengentasan kemiskinan di daerah Jombang. "Ini sesuai dengan semangat perjuangan Gus Dur selama ini," kata Yenny seperti dikutip detik.com, Kamis (25/2/2010).

    Sementara itu adik kandung Gus Dur Solahudin Wahid (Gus Solah) mendukung pembangunan prasarana di kawasan komplek pemakaman Gus Dur. Untuk itu pihaknya sedang menginventarisir unit-unit apa saja yang perlu dibangun di kawasan pemakaman. "Kuburannya tidak diapa-apakan, tapi kompleks, dan fasilitas pendukung yang diperbaiki," ujarnya.

    Gus Solah  mengakui, pengelola makam kesulitan  menghadapi jumlah penziarah yang semakin membludak. Setiap tahun sedikitnya sejuta peziarah datang ke makam Gus Dur.

    Berdasarkan liputan Gatra Nomor 32, 17 Juni 2010, diperkirakan pengunjung yang memadati areal makam setiap harinya mencapai 2.000 peziarah.

    Mereka datang dari berbagai kota. Selain dari Jombang, pengunjung juga berasal dari Kediri dan Blitar. Ada pula peziarah yang berasal dari Jawa Tengah, Jawa Barat, Bali, Lampung, dan Kalimantan.

    Bahkan seperti dikutip Tempointeraktif.com,  Selasa, (26/1) Enam tokoh Islam asal Kanada, Inggris, dan Amerika Serikat juga sempat berziarah ke makan mendiang mantan Presiden Republik Indonesia ke empat itu.

    Itu belum termasuk 1.500-an santri yang juga berdoa di sana. Setiap hari, dari pagi hingga tengah malam, mereka bergantian mendekati makam mantan Ketua PBNU itu. Bahkan tak sedikit yang rela antre menunggu giliran masuk. (wrf)