Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Islam janganlah dihayati sebagai ideologi alternatif. Ia harus dilihat sebagai hanya salah satu elemen ideologis yang melengkapi bangunan keindonesiaan yang telah terbentuk.

Berita

    Haul Gus Dur

    Mahfud MD: Belajar Sejarah Orang Besar

    JAKARTA-GUSDUR.NET. Memperingati satu tahun meninggalnya KH. Abdurrahman Wahid   (30 Desember 2009), seyogyanya menjadi pelajaran yang berharga bagi kita untuk berguru pada sejarah. Sejarah yang di dalamnya muncul orang-orang besar.

    Pernyataan tersebut disampaikan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD yang turut memberikan taushiyah dalam acara peringatan setahun meninggalnya Gus Dur (haul) pada Kamis  malam (30/12) di kediaman almarhum Gus Dur di Jalan Warung Sila, Ciganjur, Jakarta Selatan.

    Laki-laki yang sempat menjabat Menteri Pertahanan di era Gus Dur ini menyebut alasan mengapa perlu diadakan sebuah peringatan setahun kematian Gus Dur (haul). Haul seperti ini penting karena dengannya kita bisa belajar sejarah orang-orang besar. "orang besar yang jahat maupun orang besar yang baik," kata Mahfud.

    Nah, dari Gus Dur inilah, tambah Mahfud, kita bisa belajar dari orang besar yang baik. Bagi Gus Dur sendiri mungkin tidak diperlukan seremonial haul seperti itu, namun kitalah yang musti mengambil manfaat darinya.

    Salah satu pelajaran dari Gus Dur, Mahfud sempat menceritakan bagaimana sikap Gus Dur saat ‘dihantam' ramai-ramai menjelang kejatuhannya dari kursi presiden. Di saat-saat genting itu, datang menteri Luar Negeri Alwi Shihab, kemudian menyampaikan sesuatu ke Gus Dur. "Gus ini kan politik. Mbok Gus Dur gak usah banyak komentar ngelawan lah, dibiarin aja orang nanti kan bisa reda, pemerintahan bisa jalan tenang," kata Alwi seperti diceritakan Mahfud.

    Apa jawab Gus Dur? "Alwi, ente urusi aja itu orang-orang yang baik agar tetap baik. Yang preman-preman ini biar saya yang menghadapi, saya selesaikan sendiri," kata Gus Dur dengan nada tinggi.

    Jauh sebelum kejadian itu, di sebuah pesantren di pelosok kota Magelang, pun ada warisan kisah yang patut menjadi pelajaran.

    Kepada hadirin pengasuh pondok pesantren Tegalrejo Magelang, KH. Yusuf Chudlori-akrab disapa Gus Yusuf-turut urun kisah-kisah yang mencerahkan dari sosok Gus Dur. Suatu malam, Gus Dur yang tengah nyantri kepada kyai Khudlori itu mengajak lima teman sekamarnya untuk mengambil ikan di empang milik Kiai Khudlori. "Ayo sopo sing pengen mangan iwak, melu aku," ajak Gus Dur kepada kelima temannya seperti ditirukan Gus Yusuf.

    Di tengah ‘aksi curi' Gus Dur dan teman-teman itu, datanglah kiai Khudlori dengan suara gapyak-nya (sandal yang terbuat dari kayu, red). Mendengar suara sandal Kiai, kelima teman Gus Dur panik dan berharap ada solusi dari Gus Dur atas kekalutan itu. "Wis ndang lungo (Sudah pergi, sana!) tegas Gus Dur kepada kelima temannya membiarkan dirinya sendiri dengan beberapa ikan hasil tangkapan yang dipegangnya.

    "Sopo kui (siapa itu)," tanya kiai Khudlori curiga.

    "Kulo Kiai (saya Kiai), Abdurrahman," jawab Gus Dur.

    "Ono opo? (ada apa?)" lanjut kiai

    Gus Dur menjawab dengan sedikit mengelak. "niki wau onten lare-lare bade nyolong iwak, sampun kulo usir kiai(tadi ada anak mau mencuri ikan, tapi sudah saya usir Kiai)," jawab Gus Dur berlagak pahlawan. 

    Akhirnya, tambah Gus Yusuf, kehalalan ikan hasil curian itu sirna setelah kiai mempersilakan Gus Dur untuk memasak ikan itu di dapur. Dan teman-teman Gus Dur turut menikmatinya, meski dengan rasa dongkol akibat kenakalan Gus Dur. 

    Putri bungsu almarhum Gus Dur Inayah Wulandari Wahid yang didapuk menyampaikan sambutan mewakili keluarga juga merasa heran betapa Gus Dur begitu ikhlas dan berbesar hati untuk menerima siapapun orang-orang tanpa memandang bulu. Meski orang itu telah mengkhianati, menyakiti dan menghina  Gus Dur.

    Kiai Dadang Zaim kemudian menutup acara haul dengan memimpin doa, setelah sebelumnya hadirin membacakan tahlil dan doa bersama untuk Gus Dur.

    Atraksi ‘Kaukus Gede'

    Hari sebelumnya, rangkaian acara peringatan Haul Gus Dur diisi dengan ziarah budaya. Acara ini menampilkan beragam macam bentuk seni budaya sebagai bentuk penghormatan terhadap gagasan dan perjuangan Gus Dur. Salah satu yang menarik adalah atraksi puluhan orang yang tergabung dalam Kaukus Gede yang menampilkan kentongan.

    Kepada gusdur.net, ketua rombongan Samsul mengatakan bahwa sekira 25 orang ini khusus didatangkan dari Cilacap. "saya datangkan langsung dari Cilacap atas permintaan Ibu Shinta," jelas Samsul.

    Kaukus Gede ini, tambah Samsul, merupakan singkatan dari komunitas alit untuk keutuhan santrine gus dur. "Organ ini lahir dari kegelisahan, keprihatinan dan kedukaan atas wafatnya Gus Dur," kenang pengurus PKB Gus Dur di Cilacap. (wrf)