Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder. Umat Islam --mungkin karena faktor masa lalu-- sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.

Berita

    Tuan Guru Turmudzi Menguji Kewalian Gus Dur

    INILAH.COM, Yogyakarta - Ulama terkemuka dari Nusa Tenggara Barat (NTB) Tuan Guru Turmudzi Badruddin merupakan sahabat Gus Dur. Turmudzi termasuk yang sangat mempercayai kewalian Gus Dur.

    Bahkan, Turmudzi sempat menguji, apakah Gus Dur termasuk wali atau bukan. Kisahnya bermula ketika Gus Dur meninggal pada Rabu (30/12/2009) pukul 18.45 WIB. Ketika itu Turmudzi bersama dengan rombongan malam itu pun langsung mencari tiket untuk penerbangan pagi ke Surabaya untuk mengikuti pemakaman Gus Dur di Jombang.

    Kebetulan sekali, tibanya pesawat jenazah Gus Dur dari Jakarta dan penerbangan Turmudzi dari NTB hampir bersamaan. Dengan pengawalan, jenazah Gus Dur bisa melaju cepat dari Surabaya ke Jombang, sementara ia mengikuti dari belakang rombongan tersebut.

    Sayangnya, begitu memasuki Jombang mobil rombongan yang ditumpangi ketinggalan jauh dari mobil jenazah Gus Dur karena tumpah ruahnya para peziarah yang memasuki Jombang.

    Kemacetan pun sangat parah, mobil-mobil semuanya menuju pesantren Tebuireng, untuk mengikuti prosesi pemakaman. Karena sudah tidak bisa berbuat apa-apa, ia pun mengajak teman-temannya berdoa.

    "Mari kita baca surat Al Fatihah, jika Gus Dur benar-benar wali, maka kita akan diberi kemudahan," ujar Turmudzi ketika itu.

    Tiba-tiba saja, terdapat motor pengawalan Kepolisian, yang memintanya untuk cepat-cepat bergerak sehingga ia dengan lancar dapat memasuki kompleks pesantren Tebuireng dengan mudah. Anehnya, tak jauh sebelum memasuki Ponpes Tebuireng, tiba-tiba motor pengawal Kepolisian itu tak terlihat lagi. [nu/mah]

    sumber www.Inilah.com