Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Saya tidak khawatir dengan dominasi minoritas. Itu lahir karena kita yang sering merasa minder. Umat Islam --mungkin karena faktor masa lalu-- sering dihantui rasa kekalahan dan kelemahan.

News

    Kebijakan Pemerintah Timbulkan Bias Gender

    Jember, gusdur.net
    Kebijakan pemerintah Indonesaia selama ini yang menyangkut tentang perempuan sering menimbulkan bias gender. Pernyataan ini dilontarkan Hj Dra Sinta Nuriyah Abdurahman MHum dalam dialog “Rahmatan lil Alamin Sebagai Wahana Menggalang Kebersamaan”, digelar PCNU dan PC Muslimat Jember, di Rumah Sakit Muna Parahita Jember, Sabtu (16/11) Malam.

    Dalam dialog yang dilakukan dalam rangka sahur keliling bersama Yayasan PUAN Amal Hayati itu hadir sebanyak kurang lebih 1000 orang. Sahur keliling itu selain mengundang para pengurus NU dan Muslimat se-Jember, juga mengundang kalangan masyarakat kurang mampu, serta anak yatim piatu.

    Hj Sinta Nuriyah, dalam paparannya mengatakan, dengan dasar rahmatan lil alamin maka kita sebagai bangsa, dan umat manusia dapat menjalin ukhuwah secara hakiki. Tak ada lagi perbedaan disebabkan agama, ras, suku, golongan maupun jenis kelamin.

    Menurut Pimpinan Yayasan PUAN Amal Hayati ini, kaitannya dengan jenis kelamin atau gender selama ini perempuan sering menjadi korban karena perbedaan gender. Padahal menurutnya, atas dasar rahmatan lil Alamin, maka perebedaan itu sudah tidak ada dan semua dalam posisi yang sama.

    Ia mengungkapkan, atas dasar persamaan, maka menjadikan kebersamaan yang setara tanpa ada lagi jarak ataupun celah antar umat manusia. Ibu Sinta mengatakan kebijakan yang ada saat ini di pemerintah Indonesia, banyak yang tidak menujukkan adanya rahmatan lil alamin yaitu menempatkan persamaan dan kebersamaan.

    Justru kebijakan yang ada sering merugikan dan menjadikan perempuan sebagai objek dari sebuah kebijakan. Bahkan, tidak sedikit kebijakan yang membuat posisi perempuan selalu dipojokkan.

    Ia mencontohkan kebijakan Keluarga Berencana(KB) maka yang diberikan penyuluhan dan penataran selalu perempuan. Dan seakan kalau KB tidak berhasil yang disalahkan perempuan.

    “Kebijakan itu ‘kan tidak adil, dan tidak menempatkan perempuan dalam posisi yang sama dengan laki-laki. Dan tidak adanya kebersaman dalam mewujudkan sebuah persamaan,” kata Sinta Nuriyah.

    Setetalah acara dialog, dilanjutkan dengan sahur bersama. Sahur keliling bersama Ibu Sinta Nuriyah selain dilakukan di Jember juga dilakukan di sejumlah kota di Jawa Timur dalam Ramadhan 1423 H.

    (Sumber: dutamasyarakat.com, Senin 18/11)