Salurkan sumbangan Anda ke Dompet Gus Dur untuk bencana atas nama Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid di Bank Mandiri No. Rekening 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara - Jakarta / Kode Swift: BMRIIDJA <---> Transfer your donation for Wasior, Mentawai and Merapi victims through Dompet Gus Dur to Yayasan Lembaga Abdurrahman Wahid (Account Number: 070 000 46 89 621 / Bank Mandiri Cabang Menara Bidakara Jakarta 12190 - Indonesia / SWIFT Code: BMRIIDJA)

Indonesia English


Islam janganlah dihayati sebagai ideologi alternatif. Ia harus dilihat sebagai hanya salah satu elemen ideologis yang melengkapi bangunan keindonesiaan yang telah terbentuk.

News

    Gus Dur di Jerman Jelaskan Bangkitnya Radikalisme Islam Indonesia

    Hamburg, gusdur.net
    Tokoh Muslim Dunia, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dalam ceramahnya di Universitas Hamburg, Jerman, menjelaskan bahwa bangkitnya radikalisme Islam di Indonesia disebabkan adanya sebagian umat yang belum sepenuhnya memahami Islam secara mendalam.

    Kabid Penerangan Konsulat Jenderal RI (KJRI)Hamburg, Eddy Basuki, yang dihubungi Kantor Berita Antara, Brussel, Rabu sore waktu setempat atau Kamis (14/11) WIB, menyatakan, Gus Dur juga menegaskan bahwa ajaran Islam sendiri sebenarnya tidak bertentangan dengan demokrasi.

    Ceramahnya yang menarik dan disampaikan dalam bahasa Inggris itu, dipadati para akademisi Jerman, anggota perhimpunan persahabatan Jerman-RI, Ormas Indonesia di Hamburg, serta masyarakat umum Jerman dan Indonesia lainnya.

    Berkaitan dengan bangkitnya radikalisme Islam di Indonesia, Gus Dur mengawali ceramahnya dengan menjelaskan mengenai gejala-gejala sosial yang melibatkan umat muslim di Indonesia, yang dapat diterangkan melalui dua faktor.

    Faktor pertama, kata Gus Dur, yakni faktor dari internal Islam itu sendiri, dengan mayoritas muslim di Indonesia merupakan kelompok "non movement" (bukan Islam gerakan), namun lebih merupakan kelompok abangan serta berorientasi pada kultur setempat. Faktor kedua, yakni faktor pendangkalan pemahaman dan kesadaran beragama dan proses inilah yang sedang dan terus terjadi di Indonesia.

    Menjelaskan lebih rinci mengenai faktor kedua tersebut, Gus Dur mengatakan bahwa saat ini dimana-mana di Indonesia bermunculan cendekiawan muslim dalam berbagai bidang ilmu dan mereka melahap ajaran Islam dalam Al Quran, namun hanya sebatas apa yang tertulis.

    "Karena itu pemahaman agama mereka juga tidak mencapai tingkat kedalaman beragama. Padahal, Islam itu telah berkembang dari abad ke abad, dari mashab ke mashab, dari satu kawasan ke kawasan lain dan telah mengalami proses pengayaan yang luar biasa sepanjang sejarah, terutama dalam hal tafsir Quran dan Hadist," kata Gus Dur.

    Menurut dia, kelompok cendekiawan muda Islam yang disebutnya sebagai "the clever young" inilah yang dirasakan kurang pemahaman agama secara mendalam, terutama menyangkut tafsir ajaran agama Islam. Di sisi lain, Gus Dur juga menjelaskan bahwa umat muslim di Indonesia dalam perspektif politik dapat dipilah atas dua kelompok, yakni muslim "conscious" dan muslim "nationalistic".

    Dikatakan bahwa muslim "conscious" adalah kelompok muslim yang memandang segala sesuatu hanya dari kacamata Islam dan menghendaki agar seluruh tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara diatur menurut kaidah Islam, sementara muslim "nationalistic" adalah kaum nasionalis yang beragama Islam.

    Pada bagian lain, Gus Dur juga menjelaskan mengenai situasi politik di Indonesia yang menurut dia saat ini ditandai oleh gejala kembalinya kekuasaan dan kekuatan rezim lama Orde Baru. Dia menyerukan agar semua pejuang demokrasi berupaya mencegah Orde Baru dalam segala bentuknya, agar tidak diberi kesempatan untuk kembali dan berkuasa di bumi Indonesia.

    (Sumber: Antara)