Banyak Pemimpin Gagal Beri Inspirasi

JAKARTA - Direktur The Wahid Institute Yenny Zannuba Wahid mengatakan, saat ini banyak tokoh dan orang yang punya kekuasan besar, tetapi tidak mampu membuat gagasan yang inspiratif. Para tokoh tersebut, sindir putri Abdurrahman Wahid atau Gus Dur itu, berhenti sampai level "rezim" semata.

''Mereka punya kedudukan, tetapi tidak mampu mencerahkan dan memberi inspirasi,'' kata Yenny Wahid dalam bedah buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian karya Abdurrahman Wahid dan Daisaku Ikeda di Gedung PB NU, Jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, kemarin.

Acara tersebut dibuka langsung Ketua Umum PB NU Said Aqil Siradj. Selain Yenny Wahid, juga tampil sebagai pembicara Ketua Umum Soka Gakkai Indonesia Peter Nurhan dan Budayawan Romo Mudji Sutrisno.

Menurut Yenny, Gus Dur merupakan sosok pemimpin yang sukses memberi inspirasi. Bahkan setelah presiden keempat RI itu meninggal, pemikirannya tetap abadi. ''Masih dibedah bukunya, masih diperdebatkan pemikirannya. Malah belakangan ini muncul Jaringan Gusdurian,'' tutur Yenny.

‘Kawan dialog' Gus Dur yang dalam diskusi itu, Daisaku Ikeda adalah presiden ketiga Gerakan Sokka Gakkai Internasional (SGI). Ini adalah suatu organisasi penganut Budhisme Nichiren yang telah memiliki 12 juta anggota di 192 negara.

Gus Dur dan Ikeda hanya beberapa kali sempat berjumpa secara fisik. Pertemuan pertama terjadi pada tahun 2002. Kebanyakan proses dialog selanjutnya dilakukan dengan surat menyurat. Meski begitu, Yenny menilai keduanya dipertemukan ide besar yang sama.  ''Mereka digerakkan semangat pencarian kebenaran, kedamaian, dan pemikiran besar.''

Proses dialog semacam itu, imbuh Yenny, semakin menemukan relevansinya belakangan ini. Terutama ketika muncul banyak paham  kegaaman yang memaksakan kebenaran atas orang lain.

''Padahal, bukan manusia yang menentukan kebenaran mutlak. Itu bukan tugas kita lagi. Yang terpenting bagaimana kebenaran kita bisa bersanding dengan kebenaran yang diyakini orang lain.''

Sementara Said Aqil Siradj memuji proses dialog kemanusiaan antara Gus Dur dan Ikeda. ''Kedua orang ini luar biasa,'' katanya. Dia lantas menyentil peristiwa meledaknya bom di Masjid Adz-Dzikra Kompleks Mapolresta Cirebon.

Menurut dia, gerakan Islam garis keras lahir karena sejumlah faktor. Mulai kemiskinan, kebodohan, sampai pemahaman islam yang keliru dan masih bernuansa abad pertengahan. ''Ditambah ada yang membiayai dari luar negeri,' katanya.

Said mengajak masyarakat memantau keberadaan yayasan atau organisasi Islam di Indonesia yang memperoleh bantuan dana dari negara - negara Arab beraliran wahabi. Dia menenggarai yayasan atau organisasi ini memiliki konstribusi terhadap pengembangan ajaran Islam yang cenderung mengedepankan kekerasan.

''Kita perlu mewaspadai yayasan - yayasan Islam yang dapat dana dari Arab. Karea mereka membawa ajaran teologi kekerasan yang diajarkan kelompok - kelompok Islam di Arab,'' ingat Said.

Sebagai orang yang dilahirkan di Cirebon, Said mengaku kaget dengan peristiwa bom Cirebon. Menurut dia, Cirebon sebenarnya sudah mapan dengan kultur dan tradisi Islam yang damai. Apalagi, ada enam pesantren lokal yang meneruskan ajaran sunan Gunung Jati.

''Tapi, semua diobrak abrik anak kemarin sore (pelaku bom bunuh dir Muhammad Syarif, Red),'' sesalnya. Said menuding ini tak terlepas dari maraknya organisasi yang menularkan ajaran Wahabi yang mengajarkan radikalisme agama di Cirebon belakangan ini. []

Sumber : www.radarjogja.co.id | Wednesday, 20 April 2011 10:51