Dari Pojok Itu, Spirit Gus Dur Dibangkitkan

Sekilas tidak ada yang istimewa dari ruangan di pojok lantai dasar gedung Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu. Tapi siapa yang menyangka ruangan 4x5 meter itu pernah dikunjungi banyak orang dari segala latar belakang di negeri ini.

Para pengunjung datang dengan satu tujuan bertemu sang penunggu pojok, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Ketua PBNU 1984-2000. Bahkan, hingga sebelum Gus Dur wafat 30 Desember 2009, pojok itu masih ramai dikunjungi. Gus Dur, yang duduk di kursi pijatnya, pun masih melayani para 'pasien' semampunya.

Alissa Wahid, putri pertama Gus Dur menceritakan, ruang itu pernah dikunjungi oleh para pemuka dari berbagai macam agama, politikus, aktivis, demonstran, bahkan sampai rakyat biasa.

"Bahkan pernah seorang pendeta yang patah semangat kembali dibangkitkan untuk kembali ke jalan pelayanan, setelah bertemu Gus Dur di pojok itu," kata Alissa dalam peluncuran Pojok Gus Dur, Minggu (7/8/2011).

Setelah Gus Dur tiada, kini ruangan 4x5 meter itu, ditambah ruang perpustakaan dengan luas yang sama, dibuka untuk semua kalangan yang ingin mengenang Sang Bapak Pluralisme. Di ruang itu, meja dan kursi pijat Gus Dur dibiarkan apa adanya. Bahkan peci dan tasbih yang sering dipakai Gus Dur juga sengaja digeletakkan di atas meja kayu tersebut.

Di ruang itu juga terdapat kaset dan CD kesukaan Gus Dur, berikut televisi dan tape yang suka menemani hari-hari Gus Dur saat berkantor dulu. Sedang di perpustakaan, berjejer sejumlah buku tentang Gus Dur. Sejumlah foto dan poster Sang Guru Bangsa itu juga terpampang.

"Ini sebuah langkah baru, sudut monumental buat ayah kami tercinta dan buat kita semua," kata Alissa.

Ketua PBNU Said Aqil Siradj mengaku langsung setuju saat usul pembuatan Pojok Gus Dur itu diajukan. Dia berharap Pojok Gus Dur juga bisa terus bertahan selama gedung PBNU masih ada.

"Perjuangan rasulullah juga dimulai dari sebuah pojok di gua Hiro," kata Said menekankan pentingnya sebuah pojok.

Rencananya, Pojok Gus Dur yang merupakan pojok dokumentasi, perpustakaan dan kenangan itu juga akan dijadikan tempat untuk diskusi rutin. Diharapkan pemikiran Gus Dur tetap mengiringi pergerakan kebangsaan Indonesia ke depan.

"Kita jaga spirit dan semangat Gus Dur di sini," kata Alissa. 

 

Sumber: www.detiknews.com| Minggu, 07/08/2011 18:51 WIB