Garis Keras Jangan Kuasai Simbol Agama

Direktur The Wahid Institute Yenny Wahid mengatakan kekerasan yang terjadi atas nama agama lantaran negara dan aparat hukum tidak percaya diri, oleh karena itu simbolisme agama jangan dibiarkan dikuasai kelompok garis keras.

"Jangan dibiarkan simbolisme agama dikuasai oleh kelompok ekstrem. Jangan sampai kepercayaan diri dibenamkan oleh kelompok radikal yang memperlakukan simbol agama," kata Yenny yang bernama asli Zannuba Ariffah Chafsoh dalam diskusi panel "Merawat Republik dengan Kebhinekaan" di Jakarta, Jumat.

Menurut dia, penguasaan simbol agama oleh kelompok ekstrem karena kelompok mayoritas tidak percaya diri dengan simbol agama mereka sendiri. "Justru kelompok ekstrem yang merebut simbol tersebut untuk kepentingan mereka," ujarnya.

Kelompok garis keras seperti, lanjut dia, terlalu percaya diri dengan ajaran agama yang mereka yakini sehingga mereduksi kepercayaan diri penganut agama Islam yang mayoritas menjadi tak berani untuk melawan pemikiran mereka.

Dengan situasi seperti itu, dia berharap institusi pemerintah, khususnya aparat keamanan, bertindak tegas pada kelompok garis keras yang memanfaatkan simbol agama. "Jangan sampai pemerintah ikut-ikutan tidak percaya diri untuk melawan mereka. Negara menjadi 'leader' untuk meredam tindakan anarkisme," tuturnya.

Ia menambahkan, pemerintah harus menegakkan konstitusi agar semua masyarakat Indonesia merasa terlindungi dengan adanya kasus-kasus kekerasan atas nama agama.

Pengajar Filsafat Universitas Indonesia, Rocky Gerung menambahkan negara harus tunduk pada kedaulatan rakyat seperti yang terdapat dalam UUD 1945. "Negara harus bertakwa pada konstitusi," ujarnya.

Ia berharap mahasiswa yang harus menjadi perawat utama kebhinekaan karena mereka akan akan meneruskan kepemimpinan bangsa.

Diskusi panel itu digelar dalam rangka memperingati hari jadi Sekretariat Bersama Organisasi Mahasiswa Lokal (SOMAL) ke-46 yang dihadiri oleh ratusan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi di daerah, termasuk Jakarta.

SOMAL merupakan sebuah konfederasi organisasi mahasiswa yang terdiri dari beberapa organisasi mahasiswa lokal independen, pluralis, non sektarian dari Jakarta (IMADA), Bandung (PMB, CSB, IMABA), Yogyakarta (IMAYO), Surabaya (CSB), Bogor (MMB) dan Pontianak (IMAPON).

Ketua panitia acara diskusi, Didiet Budi Adiputro, mengatakan, SOMAL merasa perlu mengangkat tema ini karena terusik dengan maraknya berbagai tindak kekerasan atas nama agama yang terjadi di masyarakat.

"Indonesia adalah negara yang majemuk. Saat ini bagaimana kita bisa hidup, menjalankan dan merawat negara ini dengan menghormati kebhinnekaan yang ada," tuturnya.

Sumber : Kompas.com | Sabtu, 23 Juli 2011 | 09:38 WIB