Gusdurian DKI Jakarta akan Desak PBNU Lindungi Hak Ahmadiyah

JAKARTA-GUSDUR.NET. Komunitas GUSDURian untuk Jakarta dan sekitarnya prihatin dengan terbitnya sejumlah keputusan atau peraturan daerah (perda) berisi larangan aktivitas jemaat Ahmadiyah. Tak hanya itu, pengikut Mirza Ghulam Ahmad ini juga banyak mengalami berbagai tekanan dari kelompok Islam di banyak tempat. Karena itu komunitas pengagum dan murid-murid pemikiran KH. Abdurrahman Wahid, akrab disapa Gus Dur, itu berencana mendesak Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) tegas dan tidak setengah-setengah untuk melindungi hak-hak warga Ahmadiyah sebagaimana telah dicontohkan oleh almarhum Gus Dur semasa hidupnya.

"Untuk menyikapi (larangan aktivitas Ahmadiyah -red) ini, kita agendakan untuk bertemu PBNU," kata putri pertama almarhum Gus Dur Alissa Wahid dalam pertemuan GUSDURian, Jum'at (4/3) sore di kantor Wahid Institute, Jalan Taman Amir Hamzah Nomor 8,  Pegangsaan, Jakarta Pusat. 

Alissa menanggapi desakan para peserta yang meminta agar pimpinan Ormas NU tidak tinggal diam melihat hak-hak keagamaan Ahmadiyah yang dijamin Undang-undang dikebiri sekelompok kecil umat yang mengatasnamakan agama. Putri pertama almarhum Gus Dur yang juga menjadi Sekretaris Nasional Jaringan GUSDURian itu menambahkan, sikap ini menjadi satu bentuk tekanan agar PBNU bersikap tegas terhadap perlindungan hak-hak warga negara, termasuk jamaah Ahmadiyah.

GUSDURian menilai Ketua Umum PBNU KH. Said Aqil Siraj belum tegas, bahkan terkesan diam melihat hak asasi warga Ahmadiyah beribadah dilarang. Kejadian terakhir yang sangat memprihatinkan, dibongkarnya makam warga yang diduga pengikut Ahmadiyah oleh sekelompok warga di kabupaten Bandung Barat. "ini PBNU kok diam-diam saja, saya gak tahu persis sikap PBNU kaya gimana," ujar Arif salah satu GUSDURian.

Selain mengingatkan PBNU, GUSDURian DKI Jakarta juga akan melakukan kampanye solidaritas. Kampanye ini bermaksud untuk memberikan pemahaman serta sosialisasi kepada masyarakat luas agar selalu menghargai hak-hak warga negara serta menjunjung tinggi konstitusi.

Untuk meneruskan perjuangan Gus Dur itu, dibentuk pula empat klaster atau kelompok-kelompok intensif sesuai tema dan sasaran sekaligus penanggung jawab. Klaster Kebhinekaan diharapkan akan menjadi kelompok yang menggerakan dan terus mengkampanyekan kepada masyarakat luas pentingnya menjaga kebhinekaan. Klaster Anak Muda dibentuk untuk mensasar anak-anak muda. Klaster ini dipimpinan puteri bungsu Gus Dur Inayah Wahid. Ada lagi klaster Epistemologi, Penulisan, Pendidikan dan Kebangsaan, masing-masing akan mengembangkan kegiatan-kegiatan nyata berupa kajian pemikiran, penulisan populer dan ilmiah, serta pelatihan untuk memperkuat nilai-nilai kebangsaan.

GUSDURian Jepang

Kongkow GUSDURian DKI Jakarta Jum'at kemarin juga terasa spesial lantaran diisi "tausiyah" dari Kobayashi Yasuko. Perempuan asal Jepang, yang juga salah seorang kontributor dalam buku Islam In Contention yang diterbitkan WI, itu mengaku mengenal Gus Dur dari tulisan-tulisannya. "Baru mulai akhir tahun 1990 mulai rajin membaca karya Gus Dur," kenang Yasuko dengan sedikit terbata-bata, berlogat Jepang.

Namun sebelum tahun-tahun itu, Yasuko juga sudah sering mendengar bagaimana kiprah Gus Dur dalam hal pemikiran-pemikirannya, terutama tentang pribumisasi Islam.

Selain karya-karya Gus Dur, Yasuko mengagumi upaya keras Gus Dur dalam memperjuangkan demokrasi dan pengembangan masyarakat. "Beliau melihat demokrasi atau perkembangan masyarakat itu bagi kaum yang lemah atau tertindas, (Gus Dur) selalu melihat dari posisi orang yang lemah. Itu yang saya dapat dari Gus Dur," ungkap Yasuko.

Melihat komunitas GUSDURian, Yasuko juga merasa senang sekaligus memberikan apresiasi. Bahkan Ia mengaku siap menjadi GUSDURian dari Jepang. "malam ini saya kebetulan hadir di sini, tapi senang ada perkumpulan GUSDURian, saya GUSDURian dari Jepang," tutup Yasuko disambut tepuk tangan hadirin. (wrf)