Hasyim Ungkap Tiga Kebesaran Gus Dur

JAKARTA-GUSDUR.NET. Mantan anggota DPRD tingkat I dan II di Jawa Timur ini bertemu kali pertama dengan KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 1977. Dari pertemuan itu, muncul pengalaman menarik satu tahun setelahnya (1978): mendapat ‘getah' atas ‘ulah' Gus Dur. Gus Dur-yang saat itu berusia 37 tahun-mengajar di sebuah Gereja Kristen di Kota Malang. Akibat aksi ini, para kyai di Jawa Timur geger, hingga kemudian memanggil tuan rumah dimana Gus Dur sehari-hari tinggal waktu itu. "Apa betul Gus Dur mengajar di rumahnya orang Kristen?" begitu tanya salah seorang kyai kepada si tuan rumah.

Si tuan Rumah sekaligus mantan anggota DPRD itu tak lain adalah KH. Hasyim Muzadi. Ia mengiyakan sembari menjelaskan duduk persoalan yang sebenarnya tentang Gus Dur. "beliau itu mengajar, bukan diajar oleh orang Kristen," kelit kyai Hasyim setelah dianggap abai mencegah Gus Dur untuk mengajar orang kristen oleh para kyai.

Sekelumit kisah itu terlontar saat KH. Hasyim Muzadi memberikan sambutan acara Musyawarah Pimpinan Nasional (Muspimnas) Dewan Pengurus Pusat Partai Kebangkitan Bangsa (DPP-PKB) Gus Dur di kantor DPP, Jalan Kalibata Timur 1 Nomor 12 Jakarta Selatan Sabtu (9/4) sore.

Ketua umum PBNU dua periode ini mengungkapkan Gus Dur sebagai sosok reformis yang berperan besar dalam peremajaan pemikiran di Nahdlatul Ulama (NU). Bersama KH. Ahmad Siddiq, Gus Dur disebut sebagai dua pendekar penjaga Khittah NU 1926. "pendekarnya dua, yang pertama almaghfurlah KH. Ahmad Siddiq. Yang kedua, Gus Dur," ungkap Hasyim.

Sejak menduduki posisi ketua umum PBNU menggantikan KH. Idham Halid pada muktamar ke-27 di Situbondo tahun 1984, banyak yang mengagumi Gus Dur, termasuk orde baru Soeharto saat itu. Tapi ketika Gus Dur membentuk Forum Demokrasi (Fordem) bersama Marsilam Simandjuntak, Bondan Gunawan, Y.B. Mangunwijaya, Arief Budiman, Franz Magnis Suseno dan lainnya, mulai ada pengawasan ketat kekuasaan terhadap diri Gus Dur.

Hal ini, lanjut Hasyim, terjadi akibat ketidaksenangan pemerintah orde baru terhadap upaya Gus Dur membawa gerbong NU dalam eksistensi politik. "Bahwa sesungguhnya tidak ada kekuasaan di Indonesia ini yang senang kalau NU mengkristal menjadi kekuatan politik," terang mantan aktifis Ansor dan PMII.

Tiga Kebesaran

Sekretaris Jenderal International Conference of Islamic Shcolars (ICIS) ini juga menyebut Gus Dur sebagai orang besar. Kebesarannya dilihat dari tiga sifat. "Pemikiran, konsistensi dan kemandirian, dan pengorbanan terhadap orang lain," paparnya. 

Tiga sifat ini, lanjut Hasyim, yang menjadikan NU secara visioner jaya dan diakui baik tingkat nasional maupun kancah internasional. Dalam hal konsistensi dan kemandirian, Hasyim mencontohkan bagaimana Gus Dur tidak gampang disetir (dipengaruhi) oleh kekuasaan, apalagi tunduk dengan presiden. "kelasnya Gus Dur itu Presiden. Jadi ketua umum PBNU kelasnya presiden, bukan cuma bangga karena dipanggil presiden," sindir Hasyim yang kemudian disambut tepuk tangan peserta Muspimnas. 

Gus Dur juga menjadi contoh bagaimana Ia siap ‘terbakar untuk orang lain'. "kalau yang lain-lain itu siap ‘membakar' seorang yang lain-lain," tegas Hasyim kembali disambut tepuk tangan hadirin. Pengorbanan Gus Dur ini menjadi teladan tentang sikap siap mau mengalah untuk kepentingan yang lebih besar.

Mantan ketua PWNU Jawa Timur ini berharap, kita bisa mengembangkan dan melanjutkan pemikiran Gus Dur. "mengerti Gus Dur itu, apa dan siapa, mau kemana, dalam mindset seperti apa," pesan Hasyim. Bukan menikmati kebesaran Gus Dur, padahal dia tidak sama dan setara dengan Gus Dur. Bukan juga orang yang menikmati kebesaran Gus Dur, berlindung di bawah naungan Gus Dur, tapi sebenarnya dia menendang dan menghalau Gus Dur. "ini adalah penuh kemunafikan. Menyanjung Gus Dur, pada saat yang sama melukai."

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Tanfidz DPP PKB Gus Dur, Zannuba Arifah Chafsoh  atau Yenny Wahid menegaskan, PKB tidak boleh menghamba pada kekuasaan, tapi harus kembali pada jatidiri untuk memperjuangkan kepentingan rakyat, bangsa, dan Negara. 

Selain KH. Hasyim Muzadi, turut hadir istri almarhum Gus Dur Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid, pengurus Dewan Syura dan Tanfidz serta 33 DPW PKB Gus Dur se-Indonesia. (wrf)