Haul Gus Dur, Menggerakkan Tradisi Untuk Indonesia

Akan menjadi momentum untuk mengingat, mengimajinasikan, dan meneladani nilai luhur, pemikiran, dan laku perjuangannya.

Tak terasa sudah seribu hari KH Abdurrahman Wahid meninggalkan kita.

Gus Dur, begitu biasa ia disapa, wafat pada 30 Desember 2009. Tangis jutaan orang yang menyertai kepulangannya menjadi saksi atas hidup yang penuh pengabdian dan pelayanan kepada umat dan rakyat Indonesia.

Bukan hanya Kaum Nahdliyin dan ulama yang menangisi kepergiannya, tetapi juga rakyat kecil, kelompok-kelompok minoritas, pemimpin-pemimpin agama, aktivis pejuang rakyat, politisi, pemimpin dunia menghormatinya dan melepas kepergiannya.
 
27 September 2012 akan menggenapkan 1000 hari sejak Gus Dur wafat. Dalam kurun waktu ini, masyarakat semakin jernih melihat betapa bernilainya kehadiran Gus Dur.

Sudah sering kita dengar komentar \"andaikan Gus Dur masih ada..\" atau \"sekarang baru paham mengapa Gus Dur dulu berkata....\" Setiap kekonyolan politik, setiap insiden kekerasan atas nama agama dan penindasan kepada kelompok minoritas, setiap insiden rakyat kecil yang terdesak oleh kepentingan kekuasaan; nama Gus Dur kembali disebut. 

Jejak perjuangannya tersebar di seluruh sudut Indonesia, dari Aceh sampai Papua. Bahkan sampai ke negeri China, kaum Muslim di Mindanao Filipina, dan Timur-Tengah.

\"Peringatan 1000 hari wafatnya Gus Dur akan menjadi momentum untuk mengingat, mengimajinasikan, dan meneladani nilai luhur, pemikiran, dan laku perjuangan Gus Dur,\" ujar Alissa Wahid, putri tertua Gus Dur-Sinta Nuriah dalam rilisnya di Jakarta, hari ini, Senin (24/9).

Menurutnya, melalui rangkaian acara Haul Gus Dur, diharapkan dapat menggali keteladanannya, memutakhirkan keteladanan sesuai kondisi kekinian, dan meneguhkan semangat Indonesia berlandaskan kearifan lokal yang telah dimiliki bangsa ini.

Alissa menjelaskan rangkaian acara Haul Gus Dur ini, diisi kegiatan diskusi dan peluncuran buku Sang Zahid - Mengarungi Sufisme Gus Dur, karya KH Husein Muhammad, pada Selasa (25/9) di Kantor The Wahid Institute, jam 14.00-17.00 WIB.

Juga ada pentas wayang kulit dengan dalang Ki Enthus Susmono, pada Rabu (26/9) di Kediaman Gus Dur, Jl Warung Sila 10 Ciganjur, khataman Al Qur\'an dan tahlilan, pada Kamis (27/9) di Ciganjur. \"Tahlilan akan dipimpin Habib Syekh Abdul Qodir Assegaf dari Solo. Untuk pengisi tausiah KH Musthofa Bisri (Rembang), KH Quraish Shihab (Jakarta),\" jelasnya.
 
Puncak kegiatan Haul akan ditutup dengan Panggung Budaya, Jumat (28/9), di Taman Ismail Marzuki. Acara ini akan dimeriahkan dengan penampilan Glenn Fredly, Jaya Suprana, Kang Sobari, Zawawi Imron, Arswendo Atmowiloto, Inayyah Wahid, Agus Nuramal PMTOH, Paduan suara GKI, Marawis, Candra Malik, KH.Husein Muhammad, Imam Malik, Dibyo Primus.

Sumber: beritasatu.com | Senin, 24 September 2012 | 19:04

Related Posts