Jalan Pembaruan yang Tak Mudah

Di pintu masuk, dua petugas keamanan berbaju safari warna gelap menghentikan langkah setiap tamu yang datang. Di genggaman mereka ada pemindai logam (metal detector). Tas-tas diminta buka untuk diperiksa. Tak jauh dari pintu masuk, dua mobil kesehatan terparkir berisi beberapa petugas berseragam putih. Juga sebuah minibus dari Angkatan Laut. Tak jauh dari meja tempat tamu membubuhkan tanda tangan, sejumlah orang berbadan tegap berambut cepak tampak berdiri mengamati orang-orang yang datang.

"Security kita memang memang profesional sekali. Mereka tidak mau disebutkan nama perusahaannya. Karena banyak undercover. Di sinipun katanya ada yang undercover," kata Albertus Patty saat memberi sambutan. Pendeta dari Gereja Kristen Indonesia (GKI) itu ketua Forum Pluralisme Indonesia, disingkat FPI, pelaksana perhelatan malam itu. Forum Pluralisme Indonesia adalah konsorsium sejumlah organisasi pegiat isu pluralisme dan demokrasi: Jaringan Islam Liberal (JIL), The Wahid Institute, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRP), Indonesian Center for Islam and Pluralism (ICIP), Lembaga Studi Agama dan Filsafat (LSAF), Masyarakat Dialog Antar-Agama (Madia), Moderat Muslim Society (MMS), Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), Gereja Kristen Indonesia (GKI), Komunitas Epistemik Muslim Indonesia (KEMI), dan Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK).

Pengamanan ketat untuk sebuah kegiatan yang biasa diselenggarakan kelompok-kelompok aktivis keagamaan sepertinya memang tak biasa. Apalagi tak banyak pejabat negara yang datang Jumat malam itu (8/7). Para aktivis muda, perwakilan tokoh agama, dan mahasiswa dari beberapa perguruan tinggi yang lebih banyak tampak. Namun, peristiwa teror bom buku pada Selasa sore, pertengah Maret silam (15/3) yang meledak di lokasi perkantoran Teater Utan Kayu (TUK), di bilangan Utan Kayu, Jakarta Timur, tempat kantor JIL beridiri, bisa saya mengerti mengapa pengamanan malam itu ketat. Bom laknat yang semula ditujukan untuk Ulil Abshar Abdalla, pendiri JIL, meledak dan mengakibatkan seorang petugas kepolisian luka parah. Beberapa satpam dilarikan ke rumah sakit.

Selama ini komunitas ini dikenal sebagai kelompok yang membawa gagasan-gagasan baru keislaman yang dinilai berbeda dari arus utama. Komunitas ini hendak "mengembangkan penafsiran Islam yang liberal". "Nama ‘Islam liberal' menggambarkan prinsip-prinsip yang kami anut, yaitu Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasandari struktur sosial-politik yang menindas. "Liberal" di sini bermakna dua: kebebasandan pembebasan,"begitu bunyi yang muncul dalam profil mereka di website resminya www.islamlib.com.

Tak heran komunitas ini sering disematkan dengan stigma-stigma negatif, di antaranya dianggap kelompok yang "merongrong" Islam dari dalam. Hujatan yang lebih kasar dari itu juga bertabur. Belum lagi ancaman-ancaman kekerasan yang diterima para aktivisnya. Umumnya orang menduga, bom itu juga sebentuk "peringatan" atas aksi-aksi JIL selama ini dari mereka yang tak setuju dengan ide-ide JIL. Tak hanya JIL, sejumlah organisasi yang selama ini giat menyuarakan pluralisme juga dituding sama.

Malam itu, bertempat di Graha Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, ide yang mungkin dianggap berbeda dari arus utama itu kembali disuarakan Koordinator JIL Abdul Moqsith Ghazali dalam perhelatan yang diberi tajuk Pidato Pembaruan Islam. Ini pertemuan ilmiah kedua. Setahun sebelumnya orasi budaya di tempat yang sama diisi Ulil Abshar-Abdalla. Intelektual muda muslim itu menegaskan pentingnya mendudukkan manusia sebagai subjek mulia di hadapan Kitab Suci. "Tugas intelektual Muslim mendatang adalah bagaimana mempertimbangkan aspek pengalaman manusia sebagai subyek yang karim (mulia) itu dalam perumusan hukum agama, dalam memahami ketentuan-ketentuan yang dianggap berasal dari Tuhan," katanya waktu itu. Malam ini, Ulil juga memberi pidato sambutan untuk koleganya di JIL itu.

***

Dari atas podium di bawah tembakan sinar bulat lampu, Moqsith memulai pidato dengan memberi empat alasan penting melakukan pembaruan pemikiran Islam. Pertama, umat Islam tak cukup hanya bersandar pada pikiran keislaman lama yang tak relevan. Kedua, adanya kebutuhan cara pandang baru terhadap al-Quran. Ketiga, munculnya diskriminasi dan dehumanisasi -di antaranya, terhadap perempuan - atas nama Islam. Keempat, kekerasan yang mendominasi diskursus umat Islam. "Kita tak menyalahkan kucing karena memakan tikus, atau anjing karena menyerang kucing. Kita mempertanyakan manusia yang memancung manusia lain," tegasnya.

Pembaruan itu, kata peneliti senior the Wahid Institute ini, bisa dimulai dengan cara mendekati al-Quran. "Kita memerlukan metodologi sederhana dan ringkas dalam menafsirkan al-Quran, sehingga penafsiran al-Quran bisa dilakukan banyak orang," katanya diikuti tepuk tangan sekitar lima ratusan orang yang hadir malam itu.  

Ia lalu membagi ayat-ayat dalam al-Quran itu menjadi dua kategori. Pertama, "ayat fondasional" (ushul al-Quran) meliputi ayat-ayat yang membincang tentang tauhid (keesaan tuhan), cinta-kasih, penegakan keadilan, dukungan terhadap pluralisme, termasuk perlindungan kepada minoritas. "ayat ushul tak kan lekang oleh panas dan tak kan lapuk oleh hujan," Moqsith berperibahasa.

Sementara yang kedua ayat-ayat yang disebutnya sebagai ayat partikular (fushul al-Quran). Di dalamnya misalnya ayat-ayat yang membicarakan mengenai jilbab, aurat perempuan, waris, potong tangan, atau qishash (jenis sanksi pidana setimpal -red). Karena ayat-ayat itu partikular, lanjut Moqsith, maka umat Islam tak seharusnya bersikeras merumuskannya dalam sebuah perangkat undang-undang. Mungkin atas dasar itu pula para guru dan santri jarang mengunjungi bab tentag pidana Islam. Hukum itu dinilai tak cocok dengan konteks Indonesia.

Dengan menjelaskan dua kategori itu, ia hendak kembali menegaskan bahwa dalam al-Quran ada ayat yang tetap-tak berubah (at-tsawabit) dan ada ayat yang maknanya kontekstual; tidak tetap dan lentur (al-mutaghayyyirat). "Yang tetap, kita dogma-statiskan. Sementara, terhadap yang al-mutaghayyyirat,kita dinamisasi dan kontekstualisasikan," tandasnya.

Pidato Moqsith sendiri diakhiri dengan satu penjelasan tentang posisi akal yang mendapat tempat istimewa dalam ajaran Islam. "Agama itu akal, tak ada agama bagi orang yang tak berakal," katanya mengutip sebuah hadis. Sejumlah ulama klasik, tambahnya, juga menyepakati jika kebebasan berpikir (hifz al-aql) termasuk salah satu pokok ajaran Islam (maqashid asy-syariah).

Berlangsung sekitar sejam, pidato itu tak terasa membosankan. Di sela-sela membaca teks pidato, ia sering melontar guyon. Dengar saja gunyonnya. "Pertanyaan saya, apakah bisa menafsirkan pakai kaki?" katanya disambut gemuruh tawa saat mengkritisi hadis yang menyatakan jika orang menafsirkan al-Quran dengan akalnya sendiri, tempatnya di neraka.

Acara juga meriah setelah sebelumnya dibuka nyayian "Lembayung Senja" Saras Dewi. Perempuan Bali yang September mendatang genap 28 tahun itu menghiptonis penonton lewat lirik-lirik syair yang mengisahkan kepedihan korban bom Bali. Ia menyanyi dengan gaya yang memesona, khidmat, dan manja. Dosen luar biasa Filsafat UI  dan kolumnis di berbagai media itu juga pengagum Moqsith. Akhir Juni lalu, Puteri pasangan Nyoman Dhamantra dan  Nyoman Dhamantra itu sempat diundang JIL menjadi  narasumber Diskusi Bulanan "Mistisisme Upanishad". Uphanishad, salah satu kitab suci Hindu Selain Weda, dan Bhagawadgita.

Pidato Moqsith diberi tajuk "Menegaskan Kembali Pembaruan Islam". Ide-ide pikirannya itu diterbitkan dalam buku tipis setebal 24 halaman yang disiapkan panitia dan dibagikan kepada tamu yang datang. Bersampul hijau dengan lis kuning di bagian bawah dan merah di atas, terpampang wajah Moqsith tak berkopiah. Isi pidatonya juga bisa diakses di website resmi JIL.

***

Lahir di daerah kantong tradisi Nahdlatul Ulama, Moqsith tumbuh dan besar dalam tradisi pesantren yang kuat di Madura. Pria kelahiran Situbondo, 7 Juni 1971 ini alumnus Pondok Pesantren Salafiah As-Syafi'iyah, Asembagus, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur. Selain menguliti kitab-kitab kuning, sejak di pesantren inilah putera pertama pasangan KH A Ghazali Ahmadi dan Hj Siti Luthfiyah itu mulai mengenal pemikiran-pemikiran progresif. Salah satunya pemikiran Gus Dur, tokoh idolanya.

Pendidikan magister Moqsith didapat di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Lulus tahun 1999, kemudian meneruskan doktoralnya di kampus yang sama. Ia menulis disertasi yang diberi judul "Pluralitas Umat Beragama dalam Kitab Alquran: Kajian terhadap Ayat-ayat Pluralis dan Tak Pluralis". Disertasi itu kemudian dibukukan penerbit Katakita, Jakarta pada 2009 dengan judul "Argumen Pluralisme Agama". Di sini ia banyak menyajikan ayat-ayat yang mendukung prinsip toleransi berikut tafsir yang digali dari khazanah klasik keislaman.

Selain menjadi bergiat di JIL, ayah dari dua anak, Faaza Dildari Farzanggi dan Alviss Davie Hunafa, buah kasihnya dengan Siti Soleha Razak, itu kini juga mengajar di Fakultas Ushuludin UIN Jakarta dan Paramadina Jakarta.

"Bagi saya, Moqsith adalah contoh sempurna yang memadukan model pemikiran Islam Wahib, Gus Dur, dan Cak Nur," kata Lies Marcoes -Nastir, aktivis perempuan yang tumbuh dari lingkungan Muhammadiyah dalam pidato pengantar yang diberi judul "Mengantar Moqsith ke Mimbar".

Wahib tak lain Ahmad Wahib, pemikir pembaru kelahiran Sampang yang dikenal dengan karyanya yang "berani" dan "nakal" Pergolakan Pemikiran Islam. Aktivis HMI yang meninggal muda itu banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis seputar tuhan dan agama. "Aneh, mengapa berpikir hendak dibatasi? Apakah Tuhan itu takut terhadap rasio yang diciptakan oleh Tuhan itu sendiri? Saya percaya kepada Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah daerah terlarang bagi pemikiran," kata Wahib suatu ketika.

Gus Dur atau KH. Abdurrahman Wahid dikenal sebagai pejuang pluralisme dan demokrasi. Ia membawa gagasan tentang pribumisasi Islam. Presiden RI ke-4 dan mantan Ketua Umum PBNU ini ingin agar sebagai ajaran Islam ramah terhadap kebudayaan dan mempertimbangkan konteks sosial masyarakat setempat. Sedang Cak Nur atau Nurcholish Majid dikenal dengan gagasan "Islam Yes, Partai Islam No". Melalui slogan itu, pendiri yayasan Paramadina itu ingin agar Islam tak terjebak dan dijadikan ajang politisasi.

"Moqsith memiliki modal besar yang boleh jadi tak dimiliki para pemikir Islam lainnya," lanjut Lies. Moqsith, memiliki penguasaan khazanah kitab klasik sebagaimana Cak Nur dan Gus Dur. Dalam berdebat, Lies melihat wajah Cak Nur pada Moqsith. "Moqsith memiliki kesantunan dalam berdebat dengan artikulasi yang prima," nilai Lies. Di samping itu, tambah Lies, dari Gus Dur Moqsith sesungguhnya belajar tentang percaya diri yang luar biasa.  

***

Usai pidato saya pergi ke toilet. Dua lelaki berbadan tegap yang memegang tali dan tersambung dengan leher anjing setinggi setengah meter saya lihat berdiri menyender di sebuah tiang tak jauh dari pintu masuk dan meja tamu. Seorang di antara mereka sesekali menepuk-nepuk leher anjing peliharannya. Beberapa pria tegap lain yang tak membawa anjing berjaga-jaga di pintu keluar. "Moqsith dikawal!," kata seorang teman berbisik (Alamsyah M. Dja'far).