Kebudayaan Jadi Jalan Utama pada Peradaban

Jakarta, Kompas - Kebudayaan adalah jalan utama menuju peradaban. Peradaban membuat manusia mencintai kehidupan dan menjaga perdamaian. Jalan politik dan ekonomi sudah terlalu pengap dan memberatkan.

Hal itu terungkap dalam buku Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian terbitan Gramedia Pustaka Utama bekerja sama dengan Soka Gakkai Indonesia dan The Wahid Institute. Bedah buku dialog KH Abdurrahman Wahid dengan Daisaku Ikeda berlangsung di kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, Jakarta, Selasa (19/4). Narasumber adalah pengajar Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Romo Mudji Sutrisno, Wakil Sekretaris Jenderal PBNU Abdul Mun'im, Ketua Umum Soka Gakkai Indonesia Peter Nurhan, dan Direktur The Wahid Institute Zannuba Arifah Chafsoh (Yenny Wahid).

KH Abdurrahman Wahid atau sering dipanggil Gus Dur dan pendiri Institut Filsafat Timur Daisaku Ikeda, menurut Romo Mudji, mengingatkan masalah peradaban dengan dialog pemikiran Arnold Joseph Toynbee. Toynbee menilai peradaban hancur ketika kemampuan kreatif gagal menghadapi disintegrasi, ketika terjadi penolakan mayoritas penyusun peradaban untuk membentuk proses mimesis-proses kultural untuk mewujudkan mimpi bersama-serta ketika kohesi sosial dan saling percaya di antara masyarakat hilang. Peradaban justru muncul dari jalur kebudayaan yang kuat.

Oleh karena itu, dialog Gus Dur dan Daisaku Ikeda yang pendiri Soka Gakkai International, menurut Romo Mudji, semestinya dilanjutkan sebagai jalan kebudayaan untuk peradaban Indonesia. "Jalan politis terlalu pengap dan (orang-orangnya) berantem terus, sedangkan jalan ekonomi terlalu memberatkan dengan kalkulasi untung-rugi," tuturnya.

Kekuatan kebudayaan sebagai pembentuk peradaban yang disampaikan dialog kedua tokoh itu, menurut Abdul Mun'im, ditunjukkan dengan pemahaman mendalam kedua tokoh tersebut atas kebudayaan lawan bicaranya. Gus Dur, misalnya, mampu berbicara mendetail tentang sastrawan Jepang, seperti Yoshinari dan sutradara Akira Kurosawa, sementara Ikeda memahami karya Prapanca sampai Pramudya Ananta Toer.

Yenny Wahid menambahkan, kendati secara fisik Gus Dur dan Ikeda hanya beberapa kali bertemu, pemikiran mereka sangat cocok. Itu karena keduanya digerakkan pikiran yang berbasis kebenaran.(INA)

Sumber: Kompas, Kamis 21 April 2011