Kristalisasi Pemikiran Gus Dur

Gus Dur adalah tokoh Indonesia yang memiliki spektrum pemikiran dan perjuangan yang luas. Ia mampu menghubungkan, memfasilitasi, dan mendinamisir berbagai elemen masyarakat secara komprehensif. 

Meski dia sudah wafat, gagasan, cita-cita dan semangatnya, tetap relevan. Karena itulah, diperlukan sebuah kajian yang komprehensif untuk \"kritalisasi\" dari perjuangan mantan Presiden ke-4 RI ini. Tujuannya, sebagai panduan penting bagi generasi mendatang. Juga mengimplementasikannya dalam konteks kekinian.

Untuk itu, Yayasan Bani KH Abdurahman Wahid, yang digawangi Alissa Wahid, mengadakan simposium \"Kristalisasi Pemikiran Gus Dur\". Acara yang berlangsung di hotel Best Western, Jakarta, (16-18/11) ini menghadirkan pembicara dari berbagai kalangan. Hadir misalnya KH Mustofa Bisri, D Zawawi Imron, Ahmad Tohari, MM. Billah, Martin Aleida, Mohammad  Sobary, Marsilam Simanjuntak, Rizal Ramli, dll. 

Pembicara-pembicara tersebut berupaya \"mengkristalisasi\" dari gagasan, perjuangan dan cita-cita mantan ketua umum PBNU ini, seperti kebhinekaan, civil society, demokrasi, kebudayaan, politik, agama.

Dalam penutupan, Jumat sore, (18/11) Shinta Nuriyah Abdurahman Wahid berkenan menutup simposium itu. Ia sempat menyimak diskusi kelompok yang sedang mencerna kembali dari apa yang disampaikan pembicara-pembicara sebelumnya. Ia berpandangan ada satu hal penting yang luput dari para peserta, yaitu bahwa Gus Dur sosok \"tanpa pamrih\".

\"Dari tadi saya perhatikan, ada yang abai dari pembicaraan peserta,\" ungkapnya, \"yaitu, bahwa Gus Dur melakukan semua itu dengan tanpa pamrih. Jangan lupa itu. Gus Dur melakukan perjungan dengan ketulusan dan keikhlasan,\" pungkasnya. 

Sumber : www.nu.or.id | 20/11/2011 12:33

Related Posts