Membedah Strategi Sosiologis Gus Dur

JAKARTA-GUSDUR.NET. Kata "strategi" yang diangkat dalam tema diskusi Jumat malam itu (1/7) sebenarnya tak mencukupi untuk melihat gerakan KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Mengapa? Karena jika strategi diartikan sebagai rencana rapi yang diketahui arahnya, maka gerakan Gus Dur cenderung tak menggunakannya. Strategi Gus Dur memang bukan manajemen modern yang menuntut sistematisasi perencanaan. Strategi Gus Dur lebih berisi capaian-capaian besar yang jarang dikemukakan secara eksplisit.

Demikian benang merah yang disampaikan aktivis sejawat Gus Dur yang juga mantan komisioner Komnas HAM Muhammad Mu'tashim Billah dalam Diskusi Forum GUSDURian Jakarta bertajuk "Strategi Sosiologis Gus Dur" di aula pertemuan The Wahid Institute, Jakarta. Menurutnya, Gus Dur jarang memberitahukan apa tujuan gerakannya kepada para pengikutnya, meski tak sedikit yang mengerti jika keadilan, demokrasi, dan kemanusiaan adalah target besar yang hendak dicapai mantan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu.

Dalam pengantarnya, aktivis muda Nahdlatul Ulama Syaiful Arif yang didapuk sebagai moderator memaparkan. Pembedahan strategi sosiologis Gus Dur ini bermaksud dua hal. Pertama, untuk menempatkan Gus Dur sebagai seorang aktivis gerakan sosial, yang telah menggerakkan pengembangan masyarakat, khususnya melalui pesantren dan Nahdlatul Ulam. Di era Orde Baru, bersama para sejawat aktivis seperti MM. Billah -sapaan akrab Muhammad Mu'tashim Billah- Gus Dur telah mencipta eksperimentasi sosial berupa pengembangan masyarakat melalui pesantren. Jadi saat itu Gus Dur sadar, pesantren adalah modal sosial yang ampuh bagi agenda pengembangan masyarakat.

Kedua, tema ini hendak melihat "strategi sosial" Gus Dur. Artinya, meskipun Gus Dur berada di banyak ruang pergerakan, khususnya dalam ruang politik praktis, namun gerakan Gus Dur tidak bisa murni dilihat sebagai gerakan politis. Segenap perjuangan Gus Dur, baik kultural maupun struktural, bisa dilihat dalam kerangka "strategi sosial" tersebut, yakni strategi perubahan sosial secara mendasar.

MM Billah kemudian merumuskan tiga tujuan atau cita-cita besar dalam pergerakan Gus Dur. Pertama, pengangkatan harkat manusia. Perjuangan Gus Dur melandas pada hal ini. Karena Gus Dur melihat manusia saat itu dan hingga sekarang masih berada dalam situasi timpang, yang membuat keluhuran derajatnya terabaikan. Hal ini tentu bisa terpahami dalam konteks pembangunan Orde Baru yang menimpangkan keadilan, dan membuat rakyat Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

Kedua, Gus Dur ingin mengangkat derajat pesantren. Kala Orde Baru itu, pesantren dipandang sebelah mata, sebab kaca mata modernis yang melihatnya sebagai sub-kultur terbelakang. Gus Dur dengan segenap kemampuan kelimuan modernnya memperkenalkan jati diri pesantren melalui kaca mata modern. Ini yang membuat orang-orang di Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) ketika itu kagum. Gus Dur mampu menjadi antropolog modern dari kalangan santri sendiri yang mengupas sistem nilai pesantren melalui alat baca antropologi. Berkat perjuangan Gus Dur ini, pesantren dan kaum santri terangkat derajatnya, meskipun pada satu titik ia juga menimbulkan apa yang Billah sebut sebagai "dilema kaum santri". Dilema ini terletak pada resiko logis dari transformasi sosial Gus Dur. Misalnya pola hubungan santri-kiai yang masih paternalistik. "Jika Gus Dur ingin melakukan perubahan relasi sosial di kalangan santri, maka pola hubungan kiai-santripun perlu diubah. Inilah dilema itu." Kata Billah.

Ketiga, rukun Islam. Menarik, karena rukun Islam ala Gus Dur berisi tigal hal. Ini lontaran ide Gus Dur yang saat itu mendapat tentangan dari publik. "Saat itu, Gus Dur melontarkan gagasan yang kontroversial. Karena menurut Gus Dur, rukun Islam berisi tiga pilar, bukan lima. Tiga pilar itu meliputi, keadilan (‘adalah), persamaan (musawah) dan persaudaraan (ukhuwah). Inilah yang menjadi cita-cita utama dari perjuangannya". Jelas Billah.

Sayangnya kata Billah, karena Gus Dur bukan manajer yang baik, maka segenap strategi dan perjuangannya sering tak dipahami dan tak bisa ditindak lanjuti oleh warga NU. Kata Billah, "Leadership Gus Dur itu amat kuat. Tetapi manajemen ke bawah lemah. Ini yang membuat gagasan besarnya tidak aplikatif dalam konteks manajemen organisasi di NU". Hanya saja, kelemahan ini tak mengurangi keberhasilan gerakan Gus Dur, yang oleh Billah sebut, seperti komet besar yang melintas begitu cepat, dan sering. Artinya, Gus Dur adalah komet gagasan dan gerakan yang melintas begitu cepat, menyilaukan, mencerahkan, dan membingungkan warga NU dan masyarakat Indonesia. "Sebagai komet, Gus Dur telah menginspirasi banyak orang. Namun karena ia komet, maka gagasan dan gerakannya sering disalahpahami," demikian tandas Billah.

Pembicara lainnya, Robi Muhammad, staf pengajar psikologi Universitas Indonesia (UI) dan sosiolog lulusan Columbia University, AS, menyatakan strategi Gus Dur memang bersifat ambigu. "Namun, justru dalam ambiguitas inilah, Gus Dur bisa besar, sebab gerakannya tidak bisa dibaca oleh kawan-lawan. Jika strategi Gus Dur bisa dibaca, maka perjuangannya akan mudah dipatahkan". Demikian papar Robi.

Selanjutnya Robi juga menyebut salah satu keistimewaan Gus Dur: kemampuan story telling, mendongeng. "Ini yang jarang dimilki oleh tokoh-tokoh di Indonesia," katanya. Kemampuan mendongeng ini yang membuat Gus Dur akrab dengan masyarakat bawah, dan mampu berkomunikasi dengan bahasa rakyat. Kemampuan ini strategis bagi perjuangan Gus Dur, yang membuatnya tidak menjelma elit yang elitis, melainkan pemimpin yang dekat di hati rakyat. Kemampuan story telling bisa menggerakkan perubahan kultural, tepat dari keseharian tradisional masyarakat. "Maka, kemampuan Gus Dur mengolah sumber daya kultural, baik berupa tradisi maupun dongeng rakyat inilah yang membuahkan transformasi sosial berbasis tradisi". Demikian kupas Robi.

Diskusi ini menarik, karena mendapatkan sambutan hangat peserta. Pengasuh Pondok Pesantren Soko Tunggal Abdurrahman Wahid, KH Nuril Arifin, akrab disapa Gus Nuril, salah satunya. Bagi mantan Panglima Pasukan Berani Mati "Gus Dur" ini, "rukun Islam" ala Gus Dur itu searah dengan tradisi kenabian. "Nilai keadilan, persamaan dan persaudaraan yang diperjuangkan Gus Dur adalah bagian dari tradisi kenabian," tandasnya.

Demikian pula dari aktivis muda seperti Syafiq Alieha, yang menanggapi keterangan Billah, Gus Dur dalam perjuangannya tak menciptakan kader secara-sengaja. Menurut Syafiq, ketidakmauan Gus Dur mencetak kader secara-sengaja ini menunjukkan karakter Gus Dur yang tidak ingin mengabsolutkan diri. Ini terlihat dari kesukaan beliau terhadap syair Abu Nawas. "Gus Dur itu menyadari diri sebagai hamba yang syurga tidak layak, nerakapun tak berani. Jadi beliau tidak merasa siapa-siapa, sehingga tidak secara sengaja ingin mencipta pengikut atau kader. Yang diciptakan Gus Dur adalah pencerahan, yang mencerahi orang-orang terdekat, sehingga tergerak untuk menauladani dan menapaki perjuangannya," katanya.

Pencerahan dalam pergerakan sosial inilah yang kemudian diamini Syaiful Arif, yang menutup acara dengan mengutip tulisan Gus Dur di Jurnal Prisma, tentang Nilai-nilai Indonesia. "Gus Dur dalam tulisan itu menyatakan, nilai yang paling Indonesia adalah transformasi sosial terus-menerus dengan keberpijakan terhadap tradisi," jelasnya.

Jadi strategi sosial Gus Dur bermuara pada cita perubahan sosial terus-menerus, namun tetap berpijak pada akar tradisi masyarakat. Ini yang membuat gerakan Gus Dur, satu sisi tergerak dalam gerakan sosial terencana, terkonsep, dan memiliki tujuan strategis jelas. Namun di sisi lain, juga mampu mencipratkan nilai-nilai kebajikan yang mencerahkan. Ini yang membuat Gus Dur, selain sebagai seorang pimpinan gerakan sosial, juga seorang guru yang melahirkan anak-anak pemikiran, anak-anak gerakan, dan bahkan anak-anak rohani. Tugas jama'ah GusDurianlah, meneruskan kilatan kebajikan dari "komet perjuangan" Gus Dur yang menyilaukan dan mencerahkan. Semoga! (Syaiful Arif)