Nakamura dan Sobary Berbagi Pengalaman Bersama Gus Dur

JAKARTA-GUSDUR.NET. Antropolog Mitsuo Nakamura mengakui kedekatannya dengan kalangan Nahdliyyin (NU) berasal dari kiprah almarhum KH. Abdurrahman Wahid. Bahkan dari basis penelitian tesisnya yang melihat gerakan Muhammadiyah, Indonesianis asal Jepang ini sempat ditantang oleh Gus Dur untuk meneliti lebih jauh gerakan Islam di Indonesia.

"Anda melihat sebagian dari Islam di Indonesia saja, kalau cuma Muhammadiyah itu kurang sempurna. Anda harus melihat NU (Nahdlatul Ulama, red), coba ikut mengobservasi, pengamatan terhadap gerakan masyarakat NU," kenang Nakamura menirukan tantangan Gus Dur.

Nakamura hadir sebagai pembicara dalam acara kongkow Gusdurian di kantor Wahid Institute Jl. Taman Amir Hamzah Nomor 8 Jakarta Pusat pada Jum'at (5/2) malam lalu. Selain Nakamura, turut hadir penulis buku ‘Jejak Guru Bangsa; Mewarisi Kearifan Gus Dur' Mohammad Sobary. Keduanya didapuk menjadi pembicara dalam kongkow Gusdurian.

Dengan gaya bicara yang pelan dan sedikit logat Jepangnya, Nakamura menceritakan awal mula pertemanan dengan Gus Dur yang dimulai sejak tahun 1970an. Sejak saat itu, Ia begitu dekat dengan kalangan NU. Bahkan ia mengaku sejak Muktamar NU tahun 1979 hingga Muktamar ke-32 di Makasar (27/3/2010) lalu, Nakamura tak pernah absen untuk menghadirinya.

"Dia meluaskan pandangan saya terhadap manusia, umat manusia. Jadi pergaulan dengan gus Dur itu sangat mendalam, buat saya. Tidak hanya tentang gerakan islam, tapi jelas aspek-aspek yang lain terhadap umat manusia," Nakamura menjelaskan.

Tak ada program

Sementara kesan lain tentang sosok Gus Dur juga muncul dari Budayawan Mohamad Sobary. Menurut kang Sobary-Ia akrab di sapa-Gus Dur sangat beda dengan orang pada umumnya. Gus Dur, disebutkan kang Sobary, nakal, spontan dan tak terprogram.

Suatu saat penguasa Orde Baru Soeharto mengundang Gus Dur dalam sebuah acara. Namun Gus Dur kemudian ‘memainkan' undangan sebuah kongres di tahun 1989 itu justru untuk menjajaki seberapa penting dirinya di mata pak Harto (Soeharto, red), seberapa besar pak Harto berharap kepada Gus Dur, dan seberapa serius pak Harto membutuhkan kehadiran Gus Dur dalam kongres tersebut.

Kang Sobary menggambarkan bagaimana kenakalan Gus Dur dalam undangan Presiden tersebut. "Ya, ya pak Darmono (Sudharmono, wapres RI saat itu, red) saya bisa (datang, red)," kata Gus Dur seperti ditirukan Sobary saat menyebutkan kesanggupan Gus Dur menanggapi undangan Presiden Soeharto.

Dalam waktu yang sangat singkat jawaban Gus Dur kemudian berubah dengan alasan mengurus Internal Nahdlatul Ulama. Namun setelah pihak istana mengetahui ketidaksanggupan Gus Dur, justru Gus Dur balik menghadiri acara tersebut.

Spontanitas serta kesederhanaan Gus Dur dalam hal lain juga terecermin saat berbagai kalangan menginginkan bertemu dengannya. "orang lain itu terprogram, Gus Dur gak ada program," ungkap Sobary yang disambut tawa hadirin.

Gus dur juga dikenal sebagai orang yang tidak mengenal konsep waktu. Saat kang Sobary meminta Gus Dur untuk dipertemukan dengan seorang ulama Tariqat, secara spontan Gus Dur langsung mengiyakan dan mengajaknya saat itu juga, meski saat itu tengah malam. "jadi konsep waktu itu tidak ada, waktu itu di dalam, dia di dalam waktu, dan ngglundung (menggelinding, red) bersama waktu," ujar Sobary.

Kesederhanaan lain juga tercermin dalam hal Gus Dur berpakaian. "kalau tidak diingetin mba Nur (shinta Nuriyah), baju yang baru dipakai, dipakai besoknya lagi ya ndak ada masalah," Sobary mengenang bagaimana zuhudnya Gus Dur.

Sementara putri pertama Gus Dur Alissa Wahid juga berbagi pengalaman saat dirinya diminta Gus Dur memotong baju batik panjangnya untuk menambal bagian krah yang sudah robek, saking seringnya dipakai.

Sepeninggal Gus Dur, publik semakin rindu dengan sosok seperti Gus Dur. Kesederhanaan, spontanitas, kejeniusan hingga keberaniannya membela kelompok tertindas. Terlebih, di saat nilai-nilai pluralisme dan penghargaan ‘yang lain' semakin tergerus di Indonesia saat ini, ‘sentuhan' penyelesaian Gus Dur semakin dinanti banyak orang. Maka dua tokoh tersebut (Mitsuo Nakamura dan Mohamad Sobary) hadir sebagai penyejuk dahaga kerinduan pada sosok Gus Dur, sekaligus menjadi saksi sejarah yang bisa kita tagih file-file keteladanan dan kepemimpinan sosok seperti Gus Dur.

Dalam acara tersebut, tampak pula hadir putri ketiga dan keempat almarhum Gus Dur, Anita dan Inayah. Puluhan Gusdurian juga tampak hadir mengikuti acara tersebut. Kongkow Gusdurian ini menjadi forum rutin yang digelar setiap sebulan sekali di kantor Wahid Institute. Pertemuan sebelumnya berhasil mendatangkan penulis Biografi Gus Dur Greg Barton. Dan pertemuan selanjutnya akan digelar pada Jum'at minggu pertama bulan Maret. (wrf)