Pengamat: Gus Dur Sosok Pelintas Sekat Sosial

Pengamat politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta Surya Adi Permana menilai Presiden RI keempat KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur merupakan tokoh atau sosok pelintas batas berbagai sekat sosial di masyarakat.

\"Sosok Gus Dur yang mengalir apa adanya ini semakin menguatkan dirinya sebagai sosok pelintas batas berbagai sekat di masyarakat, termasuk di dunia militer,\" katanya pada diskusi dan bedah buku \"Gus Gerr\" Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa di Fisipol Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY), Rabu.

Menurut dia, sosok Gus Dur sebagai pelintas batas sudah ditunjukkan baik jauh sebelum menjadi Presiden maupun setelah diturunkan dari posisi orang nomor satu di Indonesia.

\"Gus Dur bisa berbaur dengan berbagai kalangan, baik lintas suku, budaya, agama, etnis, dan berbagai kelompok politik. Saat Orde Baru, Gus Dur juga mampu menjadi mediator berbagai kalangan meskipun dirinya juga banyak mengkritisi Soeharto,\" katanya.

Ia mengatakan, selain itu pada saat banyak orang mulai tidak simpati dengan kalangan militer, Gus Dur justru menjalin kedekatan dengan Jenderal Wiranto yang saat itu menjabat Panglima TNI.

\"Gus Dur juga dianggap sebagai sosok netral oleh berbagai kelompok dan kalangan, ini terbukti saat Pemilihan Presiden 1999, Gus Dur menjadi tokoh yang dinilai dapat diterima berbagai kalangan sehingga namanya dimunculkan sebagai penengah dari dua kubu,\" katanya.

Surya mengatakan, dalam kepemimpinannya Gus Dur merupakan sosok yang berani mengambil sikap tegas jika itu dianggapnya benar. \"Berbenda dengan pemimpin negara yang lebih banyak ragu-ragu dan tidiak tegas,\" katanya.

Penulis buku \"Gus Gerr\" Bapak Pluralisme dan Guru Bangsa Maftuhah Hamid mengatakan Gus Dur tidak hanya ada bagi para pendukungnya, namun bicara tentang Gus Dur tidak bisa lepas dari sebuah peradaban.

\"Apa yang ada pada Gus Dur bukan hanya sekedar bagi para pendukungnya, tetapi masa depan bangsa Indonesia, dialah anak bangsa yang mencurahkan hidup, pemikiran dan tindakannya untuk perbaikan peradaban masa depan,\" katanya.

Ia mengatakan, Gus Dur memiliki keteladanan dalam perjuangan membela kelompok-kelompok yang terpinggirkan atau kaum minoritas yang ada dalam keragaman bangsa ini.

\"Gus Dur salah satu tokoh bangsa yang berjuang paling depan melawan radikalisme agama, ketika radikalisme sedang kencang-kencangnya bertiup, Gus Dur menantangnya dengan berani,\" katanya.

Menurut dia, buku yang ditulisnya sengaja dikemas dengan cerita lucu sebagaimana pribadi Gus Dur yang juga suka humor dan lucu.

\"Seperti Gus Dur yang selalu menyelipkan \'joke\' atau sentilan-sentilan yang lucu sehingga membuat pendengarnya tertawa,\" katanya.

Sumber: kompas.com | Kamis, 17 November 2011 | 12:23 WIB

Related Posts