Putri Sulung Gus Dur Orasi di Tugu Yogya

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Putri sulung almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Alisa Wahid, turut menyampaikan orasi saat aksi atas keprihatinan tragedi Ahmadiyah di Pandeglang yang digelar di Tugu Yogya, Senin (7/2/2011) malam.

Alissa menyatakan rasa kebangsaan rakyat Indonesia sedang digoncangkan. "Kita orang Indonesia, seharusnya kita saling membantu, bukan saling membunuh. Kebangsaan kita saat ini sedang digoyah," seru Alissa di hadapan ratusan peserta aksi di bawah rintik hujan.

Subchi Ridho, aktivis dari Lembaga Studi Ilmu Politik (LSIP), dalam orasinya menyatakan, keyakinan boleh beda, tetapi kekerasan tidak boleh dibiarkan di negeri ini. "Tidak ada toleransi apa pun terhadap pelaku kekejaman," ungkap Ridho.

"Malam ini kita berkabung atas meninggalnya tiga orang teman-teman kita Ahmadiyah. Ini bukti bahwa negara ini tidak bisa menjaga kerukunan antarumat beragama," pekik koordinator aksi, Pedro Indarto, saat memulai orasinya.

"Hentikan kekerasan," teriak Pedro ditirukan semua demonstran dan diikuti dengan penyalaan lilin. Dalam aksi tersebut, gerakan yang mengatasnamakan Aliansi Jogja untuk Indonesia Damai (AJI Damai) menyampaikan beberapa pernyataan sikap.

Di antaranya mengutuk aksi penyerangan dan pembunuhan tersebut sebagai tindakan biadab dan antikemanusiaan. Tindakan ini menunjukkan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tidak mampu melindungi HAM yang diamanatkan konstitusi. Mereka menuntut pemerintah agar mengusut tuntas dan menyeret pelaku ke pengadilan.

Terakhir, kasus kekerasan yang selalu berulang menunjukkan bahwa SBY telah berbohong ketika menyatakan tidak ada pelanggaran HAM berat di Indonesia dan meminta kepada Komnas HAM untuk melakukan investigasi. (M Nur Huda)

sumber berita: www.regional.kompas.com, Selasa, 8 Februari 2011 | 01:48 WIB