Sebuah Jihad Pluralism

"...... bagi saya, menjaga perayaan paskah di gereja itu adalah sebuah ihad"

JAKARTA-GUSDUR.NET. Kalimat di atas adalah petikan salah satu scene dialog film terbaru bertajuk Tanda Tanya?, besutan sineas muda Hanung Bramantyo. Film ini terinsprirasi tindakan herois Riyanto, salah satu anggota Banser yang bertugas menjaga perayaan Natal di Gereja Eben Haezer, Mojokerto. Dengan gagah berani, ia mengorbankan diri mengeluarkan paket bom dari dalam gereja. Meskipun akhirnya meninggal akibat bom meledak, namun sang tokoh  berhasil menyelamatkan ratusan jemaah gereja kala itu.

Paska peluncuran film, konferensi pers pun digelar untuk lebih mendekatkan makna yang hendak disampaikan film kepada insan-insan Indonesia. Mendapat giliran pertama, Yenny Wahid sangat mengapresiasi peluncuran film tersebut. ".... film ini mengusung visi kebangsaan yang sangat diperlukan bagi generasi muda kita saat ini", tuturnya. Melihat film ini, sang tokoh seakan bangkit kembali seraya menyeru tentang arti penting Jihad Pluralisme. Sebuah visi kemanusiaan yang juga sering menjadi atribut ayah kami, Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Ia menambahkan, "selama ini, melalui the Wahid Institute, kami menyalurkan bantuan beasiswa ke para pelajar sekolah, dan program tersebut kami beri nama beasiswa Riyanto, sebagai sebuah tribute kami kepada sang tokoh", tandasnya.

Sutradara Hanung menjelaskan, "peluncuran film ini adalah bentuk bakti sosial saya kepada masyarakat Indonesia, meskipun juga kerap mengundang kontroversi, terlebih jika menengok karya saya sebelumnya, Sang Pencerah, misalnya. Tanpa gusar, ia menjawab pertanyaan wartawan tentang "seberapa lama riset tokoh Riyanto ini dilakukan? "..penggarapn film ini sejak pra-produksi memakan waktu cukup lama, dan bahkan mewawancarai beberapa sumber utama", tandasnya.

Meskipun demikian, Nusron Wahid selaku Ketua Umum Ansor, mengurai beberapa kritik, khusunya menyangkut 2 scene dalam film tersebut, antara lain: (1) Penyederhanaan nilai perjuangan Banser menjadi seolah sekedar profesi, padahal Banser adalah sebuah pengabdian dan bahkan panggilan hidup; (2) Stigmatisasi peran sang tokoh sebagai provokator dalam kasus perusakan sebuah warung makan milik seorang etnis China. Dalam konferensi pers tersebut, hadir pula Agus Kuncoro, Ketua Banser Mojokerto, dan beberapa pemain utama film tersebut. Menanggapi kritikan ini, Hanung bernjanji akan bersama-sama Ansor menjelaskan duduk persoalannya secara gamblang. 

Terlepas dari kritik dan kontroversi, Yenny menutup, film ini mengajarkan pada kita bahwa toleransi adalah tanggung jawab semua pemeluk agama, baik Hindu, Buddha, Katolik, Protestan dan bahkan para penghayat kepercayaan sendiri. Tentu beberapa kritik tadi justru bisa menjadi input yang baik bagi kampanye toleransi dan perdamaian melalui dunia perfilman di Indonesia ke depan. Selamat menonton. [BSF]