Wayangan di Kediaman Gus Dur

Gerakan Pemuda Ansor dan Yayasan Bani Abdurrahman Wahid menggelar wayang kulit bertema \"Gugurnya Kumbakarno\" oleh dalang Ki Enthus Susmono dalam rangka Haul 1.000 hari wafatnya Gus Dur.

Acara tersebut berlangsung di kediaman mantan presiden keempat itu di Ciganjur, Jakarta Selatan, Rabu malam.

Acara wayangan ini dihadiri istri almarhum Gus Dur, Ny Sinta Nuria Wahid; Pemimpin Yayasan Bani Abdirrahman Wahid, Dohir Fahrezi; dan kerabat dekat Presiden ke-4 RI itu.

Menurut Ketua umum GP Ansor Nusron Wahid, pertunjukan wayang masih sangat relevan di era sekarang ini. Apalagi wayang merupakan salah satu kebudayaan Jawa dan Nusantara yang mempunyai nilai filosofi tinggi.

Selain itu, Nusron menambahkan, pihaknya juga ingin mentransformasikan nilai-nilai dakwah kultural berbasis kebangsaan sebagaimana yang dulu dilakukan Gus Dur. \"Wayang adalah bagian dari nilai dakwah kultural dalam menyemaikan nilai-nilai kebangsaan yang makin luntur di kalangan anak muda,\" kata Nusron yang juga angota Komisi XI DPR ini.

Politisi Partai Golkar ini mengatakan, dalam rangka memperingati 1.000 hari wafatnya Gus Dur ini, pada Kamis (27/9/2012)  juga akan digelar tausyiah, solawat bersama Habib Syech Abdul Qadir Assegaf dari Solo. Pada acara ini sejumlah tokoh akan hadir dan bersama mengikuti tausyiah dan solawat.

Sementara itu putri bungsu Gus Dur, Alissa Wahid, mengatakan, peringatan 1.000 hari wafatnya Gus Dur akan menjadi momentum untuk mengingat, mengimajinasikan dan meneladani nilai luhur, pemikiran serta laku perjuangan Gus Dur.

\"Sudah sering kita dengar komentar \'andaikan Gus Dur masih ada..\' atau \'sekarang baru paham mengapa Gus Dur dulu berkata....\' Setiap kekonyolan politik, setiap insiden kekerasan atas nama agama dan penindasan kepada kelompok minoritas, setiap insiden rakyat kecil yang terdesak oleh kepentingan kekuasaan, nama Gus Dur kembali disebut,\" paparnya.

Menurut Alissa, melalui rangkaian acara Haul Gus Dur, diharapkan dapat menggali serta memutakhirkan keteladanan sesuai kondisi kekinian, sekaligus meneguhkan semangat Indonesia berlandaskan kearifan lokal yang telah dimiliki bangsa ini.

Acara haul 1.000 hari wafatnya Gus Dur dengan menggelar acara wayangan itu tampak meriah. Banyak masyarakat setempat juga para nahdliyin yang hadir menyaksikan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk yang diselenggarakan GP Ansor.

Sumber: kompas.com | Kamis, 27 September 2012 | 13:33 WIB

Related Posts