WKS: Yang Atas Mengganas, yang Bawah Beringas

JAKARTA-GUSDUR.NET. Yang di atas mengganas, yang di bawah makin beringas. Yang menjadi pejabat lupa diri, memanfaatkan kekuasaan demi kepentingan pribadi dan politik penguasa, tanpa mau mendengar serta melihat kondisi rakyat yang masih terbelakang. Sehingga yang terlihat, pemerintah kita seperti ‘tuli\' dan tak menghiraukan kondisi rakyatnya yang masih tetap miskin.

Demikian alur cerita yang disuguhkan dalam pertunjukan Wayang Kampung Sebelah (WKS) pada acara haul ke-2 KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada Jum\'at (30/12) malam di kediaman Gus Dur Jl. Warung Silah Nomor 10, Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Ki Jliteng Suparman, sang dalang yang asli Solo, menyuguhkan cerita yang seolah menjadi obat bagi kerinduan bangsa ini terhadap sosok seperti Gus Dur. Gus Dur boleh meninggalkan kita, tapi bukan untuk pergi seperti perginya pemerintah yang kini abai dengan segenap persoalan bangsa. Semangatnya tetap dibutuhkan dalam mengisi ruang-ruang kosong bangsa ini yang tengah didera banyak persoalan.

Dalam ceritanya yang kerap menyindir kebijakan pemerintah saat ini, Jliteng membawa latar rakyat Indonesia yang berada dalam kondisi memperihatinkan. Kemiskinan tetap menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan. Padahal Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono berkali-kali bilang bahwa kemiskinan Indonesia turun. \"betul, turun ke anak cucu,\" sindir Jliteng.

Kondisi kemiskinan kerap membawa rakyat bertindak beringas tak cukup sabar menanti ‘janji-janji manis\' penguasa yang kerap ingkar, abai dan diam tak menyelesaikan persoalan bangsa. Jliteng sempat menghadirkan sosok Gus Dur dalam cerita, menjadi penyejuk bagi setiap masalah yang menimpa kehidupan rakyat Indonesia. Sosok Gus Dur, selalu hadir menjawab setiap persoalan bangsa.

Maka dari itu, Gus Dur tidak hanya menjadi sekadar kenangan pada album-album yang tertutup atau pada foto-foto di dinding-dinding mati. \"Bapak masih tetap hidup sebagaimana seorang penyair menyatakan Gus Dur hanya pulang, bukan pergi,\" tutur Anita, putri ketiga Gus Dur dalam sambutannya mewakili keluarga.

Ditambahkan Anita, sikap, nilai, pemikiran dan perjuangan Gus Dur justru semakin menggema ketika Indonesia semakin kehilangan kendali atas kehidupan bersamanya sebagai bangsa. \"Bagi beliau (Gus Dur), menjadi manusia berarti mendahulukan kepentingan manusia di atas kepentingan duniawi sesaat,\" kata Anita.

Sebelum pertunjukan WKS, acara haul diisi dengan tahlil dan pembacaan Yasin. Ada juga doa lintas iman dari mulai Islam, Katholik, Protestan, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Sejak pagi acara haul sudah diawali dengan khataman al-Qur\'an hingga sore. \"Jam 16.00 - 17.30 pentas Reog Ponorogo,\" jelas Shinta Nuriyah Abdurrahman Wahid dalam undangan Haul.

Turut Hadir dalam kesempatan haul ke-2 Gus Dur Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfud MD, Wakil Menteri Agama Prof. Dr. Nasaruddin Umar, dan wakil ketua MPR Lukman Hakim Syaifudin. Hadir pula aktifis HAM Usman Hamid, Pengamat politik Yudi Latif, mantan ketua DPR Akbar Tanjung dan pegiat pluralisme Moqsith Gazali, Rohaniawan Romo Muji Sutrisno, Trisno S Sutanto, Zuhairi Misrawi, dan Guntur Romli. Kyai Q. Ahmad Syahid yang Ketua Umum Dewan Syura PKBN juga tampak hadir. Disamping itu, hadir pula Kyai Yusuf Chudlori (Gus Yusuf), Habib Abu Bakar Al-Attas, dan Khofifah Indar Parawansa.   

Sebelumnya, Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor juga turut menggelar haul Gus Dur dan Halaqah ulama. Acara tersebut digelar pada Kamis-Jumat, 29 hingga 30 Desember 2011, di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang, Jawa Timur.

Seperti diberitakan Suaramerdeka.com (27/12), Ketua Umum GP Ansor Nusron Wahid mengatakan bahwa Halaqah Kiai Muda di Jombang ini merupakan lanjutan dari halaqah yang sebelumnya sudah diselenggarakan di Yogyakarta, Rembang dan Cirebon.

Dalam halaqah ini akan hadir Kiai Muda Ansor seluruh Indonesia, tidak kurang dari 450 Kiai Muda dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, DKI Jakarta, DI Yogyakarta, Banten, Lampung, Sumatera utara, Jambi, kalimantan, Nusa Tenggara barat dan Sulawesi akan hadir di Jombang untuk bertukar pikiran mengenai masalah bangsa. (wrf)


Related Posts