Silaturrahiem Sang Presiden ke Habieb Hamid Sukareja

KH Abdurrahman Wahid semasa menjabat Presiden RI ke-4, beliau bersilaturrahiem ke Habieb Hamid Sukareja (Purwokerto), pada tanggal 4 Juli 2000.

Dan Gus Dur, mengabadikan nama Habieb Hamid Sukareja dalam tulisannya di buku kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser;

Habieb Hamid Sukareja (Purwokerto) hingga usia di atas 60 tahun belum kawin karena ia membaktikan diri secara total kepada ibunya. Orang asketik (Wira’i) ini senantiasa tidur di lantai di samping tempat tidur ibunya, untuk menjaga dan menghormati Beliau. Baru setelah ibunya meninggal dunia, ia kawin dengan seorang syarifah (di negeri ini, berarti seorang Arab wanita keturunan dari Nabi SAW.).

Pada masa pra-pernikahannya itu, seperti kebiasaannya untuk tidak mau melalui jalan beraspal, melainkan jalan berumput di pinggiran tanpa menggunakan alas kaki.

Bahkan, keanehan-keanehan itu tidak terhenti setelah ia kawin, seperti banyak diceritakan orang. Ia tetap pada kebiasaan hanya berkomunikasi bebas dengan isterinya, serta salah seorang pembantunya, Hasan atau Kiai Abdul Ghani. Yang disampaikannya hanyalah kiasan-kiasan belaka, atau ayat-ayat al-Qur’an.Jelas dari penyampaian itu, bahwa hal-hal atau ayat-ayat yang disampaikannya itu datang dari “sana”. Tampak jelas, ia hanya bertindak sebagai medium belaka.

Pada waktu mengunjungi penulis di Istana Merdeka , ia tidak mau masuk ke dalam dan hanya mau duduk di atas kursi yang dibawa ke luar pintu istana. Dari sikap itu, penulis yakin ia melihat sesuatu di dalam istana, yang tidak tampak oleh penulis. Apakah arti sikap tersebut, bagi penulis tidaklah penting, tidak merupakan sesuatu yang harus diyakini.

Ada dua buah ayat al-Qur’an yang disampaikan oleh pembantunya, Hasan, kepada penulis. Yang pertama, ayat al-Qur’an yang menunjukkan keberanian Nabi Musa untuk menempuh jalan kering menyebrangi laut merah yang dipukulnya dengan tongkat, tanpa memperdulikan mereka yang mengejar. Mereka itu kemudian menyebrangi jalan yang sama yang bertaut kembali setelah Nabi Musa sampai di seberang, dan dengan demikian air laut yang bertaut itu mengubur Fir’aun/Pharaoh dalam perjalanan itu.

Ini adalah contoh keberanian yang penulis simpulkan dari perintah Habib Hamid tersebut. Ayat kedua dari beliau adalah pernyataan orang banyak agar tidak mendengar atau percaya fitnahan-fitnahan dan dusta yang dibuat berbagai pihak untuk mendiskreditkan penulis.