Anwar, UMNO dan Islam di Malaysia

Oleh Abdurrahman Wahid

TULISAN saya mengenai Anwar, Mahathir, dan Malaysia beberapa waktu yang lalu telah mendapat respons yang cukup dari masyarakat Malaysia. Beberapa tanggapan itu langsung ditujukan kepada penulis. Ada yang melalui media massa Malaysia, faksimil, dan telepon. Hal inilah yang mendorong penulis untuk menulis lebih lanjut mengenai sosok Anwar Ibrahim yang sekarang sedang menjadi sorotan rakyat negeri jiran itu.

Anwar Ibrahim sejak semula memang tokoh yang kontroversial. Sebagai seorang pemuda Muslim ia lahir di tengah-tengah masyarakat kosmopolitan di Pulau Penang, yang lebih kosmopolitan daripada masyarakat-masyarakat lain di Malaysia. Ketika menjadi remaja ia pun memasuki ABIM (Angkatan Belia Islam Malaysia) dan menjadi salah seorang penganjur utama gerakan Islam di negeri jiran itu. Cap Islam itu tetap lekat padanya karena pengetahuan Islamnya yang baik walaupun kemudian ia memasuki UMNO (United Malay National Organisation).

Di organisasi ini, ia memainkan peranan yang berbeda-beda, demikian pula dalam pemerintahan. Dalam organisasi, ia memasuki pemuda UMNO, dan kemudian Majlis Tinggi UMNO (Supreme Council) untuk terus menjadi Wakil Presiden Partai. Dalam pemerintahan ia menjadi menteri yang berbeda-beda dalam kabinet yang berlainan, hingga pada akhirnya menjadi Menteri Keuangan sekaligus Wakil Perdana Menteri. Diharapkan dalam hal ini ia akan menggantikan Perdana Menteri Mahathir pada

saatnya, di samping menjadi Ketua Partai.

Manusia boleh berencana tetapi Tuhan yang menentukan. Sekarang dia menjadi musuh Mahathir, tidak lagi menjadi Menteri Keuangan dan Wakil Perdana Menteri serta dipecat dari kedudukannya sebagai Wakil Ketua Partai. Mengapa garis karier seperti itu dialami Anwar? Ada beberapa kemungkinan jawaban, satu di antaranya adalah hubungannya dengan Islam di negeri jiran itu.

Pada saat ia menjadi Ketua ABIM, Anwar dikenal sebagai proponen gerakan Islam terkemuka di negeri tersebut. Di berbagai penerbitan, tiada hari berlalu tanpa menyebutkan dirinya sebagai pemimpin Islam kelak. Hubungannya yang dekat dengan berbagai gerakan Islam di Indonesia melengkapi tanda pengenal dirinya sebagai calon pemimpin gerakan Islam di masa depan. Pikiran-pikirannya tentang kedudukan agama Islam di negeri jiran itu mendapatkan perhatian yang sungguh-sungguh dari para pemikir di negeri tersebut. Bahkan keislamannya ini menutupi kesukaannya akan buku-buku dengan pemikiran liberal yang ada di Barat.

***

TERNYATA justru watak yang dibawakan oleh bacaan humanistik-ilmiah inilah yang membuat Anwar Ibrahim meninggalkan ABIM, memasuki pemuda UMNO. Sekaligus dia membawakan dua wajah dalam peranan baru tersebut. Di satu sisi, ia tampak sebagai seorang Muslim modern yang mencoba mempertahankan keislamannya di tengah perubahan zaman. Di sisi lain, Islam tidak ditampakkan sebagai agama kolot tetapi sebagai jalan hidup lurus dengan ukuran-ukurannya sendiri. Bersembahyang, berakhlak pribadi yang tinggi dan berpikiran membentuk kembali kehidupan masyarakat yang telah diseret oleh materialisme Barat, merupakan tanda-tanda keagamaannya yang kuat.

Namun pikiran keagamaan itu dibarengi pula oleh pikiran teknis yang lebih matang. Ia menjadi lebih nasionalis, terikat kepada kesejahteraan semua warga Malaysia dan memperhatikan dunia baru yang ditekuninya dalam kehidupan berbangsa. Demikianlah dia berkembang menjadi aktivis Islam plus Nasionalis Melayu sejati. Dan hal ini pula yang menyeretnya ke dalam dunia politik dan bergaul dengan Perdana Menteri Mahathir Muhammad. Ia rela mengikuti pola yang lima belas tahun sebelumnya ditempuh oleh pemimpin Malaysia itu. Tidak heranlah jika kemudian Perdana Menteri Malaysia pada tahun 90-an mengangkatnya menjadi Wakil Perdana Menteri. Bukankah mereka secita-cita dan memiliki garis pemikiran yang sama? Karena itu, Mahathir membuang jauh-jauh semua politisi Melayu dari persaingan melawan Anwar. Dengan demikian, Anwar menjadi "putra mahkota" Mahathir. Dengan ini diharapkan Anwar akan mampu meneruskan kebijakan Perdana Menteri Mahathir di negeri jiran tersebut, dan menaikkan derajad kaum melayu di bidang perekonomian.

Kalau Anwar dapat menggantikan Mahathir selaku anak ajaib ekonomi (economic wizard), maka langkah Mahathir untuk membangun sebuah super-koridor Malaysia sebagai negeri berteknologi canggih akan dapat tercapai. Dengan demikian, negara tersebut akan dapat memasuki abad baru dalam waktu tiga belas tahun yang akan datang. Pada saatnya Malaysia akan menjadi salah satu negeri maju yang terkemuka di dunia.

***

DEMIKIANLAH kedudukan yang ada di Malaysia ketika Mahathir mengumumkan rencana memasukkan Malaysia ke tahap teknologi tinggi beberapa tahun lalu. Dengan bermodalkan kepemimpinan yang canggih, Mahathir berharap dapat menyusul ketertinggalan Malaysia dalam waktu

singkat. Dan negeri jiran itu pun dapat menjadi negara maju dengan tetap berpegang pada nilai-nilai keislamannya. Bukankah Anwar menggambarkan kepribadian seorang muslim yang taat beragama sekaligus berpikiran maju? Inilah yang mungkin menjadi pemikiran Mahathir sekaligus impian Anwar pada saat itu.

Namun manusia tetap manusia, jalan hidup tidak dapat ditolak. Kini Anwar meringkuk dalam penjara dan seluruh kariernya terancam habis, sedangkan Mahathir menghadapi Sidang Umum UMNO yang akan datang tanpa calon presiden partai yang dapat dianggap mewakili dirinya. Keduanya menjadi lawan politik, sedangkan sebelumnya berhubungan sedemikian baik. Bahkan dalam pertalian keluarga pun keduanya memiliki hubungan yang unik. Karena Wan Azizah, istri Anwar adalah juga sesama dokter yang menjadi kemenakan istri Mahathir. Akankah Malaysia mengalami nasib sama dengan Banglades yang dipimpin dua orang wanita yang menjadi lawan politik? Tentulah tidak akan menjawab pertanyaan ini karena kondisi kedua negara ini berbeda, walaupun nenek moyang Perdana

Menteri Mahathir berasal dari negeri itu.

Sangatlah menarik untuk mengikuti bahwa kedua-duanya memiliki unsur kemelayuan yang kuat, walaupun Perdana Menteri Mahathir sendiri berasal dari negeri lain, tetapi beragama Islam. Di sinilah tali-temali hubungan antarwarga negara di Malaysia dapat dilihat lebih kompleks dan rumit daripada di negeri kita. Di Indonesia, agama seseorang ternyata tidak memiliki kekenyalan yang ada pada kehidupan seseorang warga negara. Di negeri kita, seorang Jawa atau Sumatera (dari pribumi) terkadang dapat seagama dan berbeda dengan seorang warga negara nonpribumi (seperti orang Cina misalnya). Sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi di Malaysia. Kesukuan dan keagamaan menjadi tali pengikat yang lebih kuat daripada di negeri kita.

***

KINI kita menunggu putusan Mahkamah Tinggi di Malaysia untuk memastikan apakah Anwar bersalah atau tidak. Ia dituduh Mahathir melakukan pelanggaran seksual, korupsi, dan membahayakan keamanan dalam negeri. Tuduhan itu ditolak oleh Anwar yang menganggapnya hanya tuduhan kosong untuk menahan langkahnya menuju kursi Perdana Menteri dan presiden partai. Kita sendiri tidak mengetahui mana di antara dakwaan dan sangkalan ini yang benar, karena baik tuduhan maupun sangkalan sama-sama kuat. Karena itu kita menyerahkan masalah ini pada keputusan Mahkamah Tinggi di Malaysia.

Perkembangan lebih lanjut ke arah mana negeri jiran itu bergerak sangat menarik untuk dilihat. Tetapi tidak ada yang lebih menarik dari kenyataan bahwa telah terjadi perubahan besar dalam pola kepemimpinan di Malaysia. Akankah negeri jiran itu berjalan seperti dahulu, yaitu seperti negeri nasionalis yang memiliki kesadaran beragama Islam yang tinggi? Ataukah menjadi negeri yang memiliki kesadaran Islam yang tinggi, dengan kekuasaan wawasan kebangsaan? Kalau Malaysia mengembangkan nasionalis yang kuat, sementara kehidupan beragamanya meningkat, maka ia akan menjadi seperti negeri-negeri ASEAN yang lain. Tetapi sebaliknya, kalau Malaysia lebih mementingkan aspek keagamaan maka dia akan menjadi seperti Pakistan yang kemajuannya mengalami dialog yang intensif dengan kehidupan keagamaan.

Kalau Malaysia mengambil pilihan pertama yaitu lebih mementingkan wawasan kebangsaan maka ia akan menjadi seperti negeri ASEAN lainnya, dari Papua Niugini di ujung timur hingga Myanmar di kawasan barat. Tapi kalau ia mengambil pilihan kedua dan mengutamakan usaha peng-Islaman maka Malaysia akan menjadi seperti Pakistan, yaitu mendudukkan semua manifestasi kemajuan pada manifestasi keagamaan.

Bukankah ini suatu pelajaran yang menarik, juga untuk masyarakat Indonesia. Di sinilah kita melihat pentingnya arti keputusan yang akan diambil oleh Mahkamah Tinggi di Malaysia dalam kasus Anwar versus Mahathir.

* Penulis adalah pengamat sosial-politik dan keagamaan, serta Ketua Umum PBNU.

Tulisan ini dimuat di KOMPAS Selasa, 20-10-1998. Halaman: 4