Arti Kemenangan Barack Obama

Barack Obama telah memenangkan pemilihan Presiden di Amerika Serikat. Pada titik inilah bermula kesulitan-kesulitan yang di hadapi Obama karena itulah dalam pidato perayaan menyembut kemenangannya, ia lalu mengajak rakyat Amerika Serikat untuk membantunya sebagai Presiden AS. Ia menjadi presiden golongan minoritas, atas John Mc Cain yang mewakili golongan mayoritas (penduduk kulit putih). Wakilnya, Joe Biden adalah seorang yang beragama Katolik, karena itu juga mewakili kelompok minoritas. Ini tentu berbeda dari Sarah Palin, calon wakil Presiden dari Partai Republik yang juga mewakili kalangan wanita pada umumnya. Disamping itu, Palin juga mewakili mereka yang berasal atau berada di kota-kota kecil juga ia mewakili yang berasal atau berada di pinggiran tidak seperti Joe Biden, calon wakil Presiden Partai Demokrat, yang dianggap mewakili kelompok professional di negeri Paman Sam itu.

Ini dibuktikan antara lain oleh lamanya Joe Biden menjadi senator yaitu lebih dari duapuluh tahun. Karena itu, ia menjadi gambaran kaum professional di negerinya. Mereka ingin memberikan pikiran-pikiran, tentang bagaiman caranya mengatasi sekian banyak masalah yang dihadapi Amerika Serikat dewasa ini. Tetapi, tentu saja situasi seperti ini tidak menjadikan pilihan-pilihan Obama menjadi mudah. Ia harus berani mengambil jalan pintas yang kelihatannya mengurangi arti kepresidenanya. Hal itu, seperti mengambil mantan Ketua Partai Demokrat di senat sebagai menterinya. Ternyata, ia benar-benar berbuat demikian dengan mengangkat seorang mantan senator, yang dahulunya memimpin para senator Partai Demokrat, sebagai menteri kesehatannya. Ini berarti, ia menganggap Departemen Kesehatan sebagai sumber kesulitan bagi pemerintahannya, kalau dipegang oleh orang-orang biasa saja.

Dengan menganggkat seorang mantan senator yang populer, berarti Obama menganggap pelaksanaan yang lancar dan tidak banyak gangguan atas program kesehatannya, menjadikan bidang ini sesuatu yang sangat penting artinya. Ia harus bersiap-siap menghadapi kemungkinan tentangan yang sangat besar atas program kesehatan yang ditawarkannya. Yaitu pembiayaan kesehatan atas warga negaranya yang sampai sekarang belum masuk dalam program kesehatan pemerintah sama sekali. Karena itulah, ia harus mengambil seorang politikus yang tajam pengelihatannya untuk mengantisipasi persoalan-persoalan yang ditimbulkan oleh orang-orang tua yang belum masuk program kesehatan pemerintah dinegeri itu. Dengan kata lain, Obama tidak mau mengambil resiko atas program kesehatan yang ditawarkannya sebagai presiden nanti.

Demikian juga dengan bidang luar negeri. Ia memperhitungkan, bahwa Hillary Rodham Clinton akan di dukung orang banyak dibidang itu. Ini berarti, bahwa tentangan terhadap Hillary Clinton dibidang luar negeri boleh dikata kecil, bila dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam politik Amerika Serikat. Adanya Hillary Clinton dikabinet dibidang luar negeri akan membuat pemerintahan Obama di percaya orang dibidang tersebut. Mereka yang ragu-ragu terhadap kemampuan Obama dibidang tersebut, karena ada Hillary Clinton yang mengemudikan bidang itu inilah yang membuat mengapa Obama meminta Hillary Clinton menjadi Menteri Luar Negeri (Secretary of State) untuk beberapa tahun mendatang ini berarti, Obama harus merubah politik luar negerinya yang semula ia persiapkan kemampuannya untuk berbuat demikian sangat mengagumkan.

Begitu juga halnya dengan Jaksa Agung, yang diserahkannya kepada seorang pengacara berkulit hitam yang sangat terkenal kepiawaianya dibidang tersebut. Sekarang ini ia menjadi pencara hukum sebuah Firma di negeri tersebut, tetapi mempunyai nama sangat harum dibidang itu. Ini berarti, Obama mampu melihat kepentingan bersama jauh lebih penting dari kepentingannya pribadi. Jika sikap seperti ini diambil oleh Obama dalam penyusunan pemerintahan yang baru, dengan sendirinya kemungkinan-kemungkinan politik bagi Obama menjadi sangat besar. Tetapi ini memerlukan kemampuan koordinasi yang sangat besar dari sang presiden terpilih. Hal inilah yang harus kita lihat dimasa-masa yang akan datang. Hal itu dicapainya karena ia menyerahkan masalah-masalah keluarga kepada istrinya Michelle. Kita akan melihat kemampuan Obama untuk mengendalikan hal itu.

Dengan melihat kecerdikan Obama diatas kita tinggal melihat apakah perkembangan keadaan di masa depan termasuk membantu Obama atau tidak kalau perkembangan keadaan itu mengarah kepada keadaan yang membantu kebijakan Obama, maka ia dengan mudah akan melakukan koordinasi kegiatan antara para menterinya. Ini berarti ia harus mampu membuat para pembantunya di Gedung Putih untuk menyamakan langkah-langkah mereka dengan apa yang dilakukan para menteri itu. Dengan demikian, Obama di tuntut untuk menjadi pemimpin yang sesungguhnya, berarti ia diminta untuk memegang kepemimpinan seperti Franklin Delano Roosevelt inilah yang sangat menarik dari pola kepemimpinan yang ditujukan oleh Barack Obama presiden berkulit hitam pertama di Amerika Serikat. Inilah yang perlu kita renungkan bukan?

Sumber: Kompas, Jakarta, 22 November 2008