Bagaimana Cara Berdzikir?

Oleh: KH Abdurrahman Wahid

Berdzikir kepada Allah SWT, yang diambil dari kata bahasa Arab dzikr, memang mempunyai cara bermacam-macam. Cara yang dipakai tergantung dari makna yang kita ambil dari kata tersebut. Dan dzikir dalam pengertian yang dilakukan secara berulang kali, bahkan ribuan kali, dengan menyebut nama Allah baik setelah sembahyang/ sholat maupun diluar ibadah tersebut. Dzikir yang demikian ini, disebut juga dzikir “lafdz” (dzikir dengan kata-kata), yaitu dengan menyebut nama Allah SWT secara berulang-ulang. Dzikir inilah yang paling banyak dilakukan orang, sehingga seolah-olah yang tidak melakukannya dianggap tidak berdzikir.

Jenis kedua dari berdzikir ini, dapat ditemui dalam dzikir “fi’li” (dzikir dengan perbuatan), jenis zikir ini melihat segala macam aspek kehidupan berasal dari Allah SWT. Karena itu, segala macam perbuatan makhluk di alam ini, mencerminkan kekuasaan Allah SWT yang demikian besar dan tidak terbatas. Karenanya, setiap aktifias akan senantiasa mengacu kepada hal-hal yang membawa kebaikan bagi orang banyak, adalah bagian mutlak dari kerja berdzikir ini – hingga dinamakan “mengikuti perintah/sunnah Allah SWT”.

Dari kerja memahami sunnah Allah SWT yang pada dasarnya mengabdi kepada upaya menyantuni bermacam-macam usaha yang baik dalam kehidupan bersama dengan berbagai perubahannya karena adanya modal kehidupan masyarakat. Maka, Allah SWT menyatakan dalam kitab suci, bahwa “bertanyalah kalian kepada ahli dzikir, jika kalian tidak mengetahui suatu persoalan (<i>fa as-aluu ‘ala ahla al-dzikr in kuntum la ta’lamun</i>). Penggunaan kata dzikir ini menuju kepada rasionalitas, yang didasarkan kepada pengetahuan. Dengan kata lain, dzikir berarti kesabaran akan pentingnya arti ilmu pengetahuan dalam memahami kebesaran Tuhan —jika hal itu telah kita jalankan dengan sendirinya kita sudah berdzikir, jika kita memang berniat demikian. Dengan kata lain pula, melakukan segala sesuatu yang bermanfaat bagi orang banyak, disertai kesadaran akan kebesaran Allah SWT, berarti juga kita sudah melakukan dzikir dengan menggunakan cara-cara yang bersesuaian dengan kepentingan umum.

Dengan demikian dua jenis dzikir itu dijalankan sebagai kesadaran bahwa Allah SWT, menciptakan kehidupan dan menciptakan seisi alam untuk kepentingan manusia. Ini berarti, bahwa Allah SWT adalah titik pusat dari mana kita bergerak dan ke mana kita akan menuju –yang, dalam bahasa jawa disebut sebagai “Sangkan Paraning Dumadi”. Dalam bahasa Arab kesadaran ini terpantul dalam ungkapan “Sesungguhnya kita hidup untuk Allah, dan akan kembali kepada-Nya “(<i>Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un</i>). Kalau kesadaran ini kita miliki, antara dzikir lafdz’i dan dzikir fi’li sebenarnya saling mendukung, dan menentukan kualitas kerja kita.

Dengan demikian, baik dzikir <i>lafdz</i> maupun dzikir </i>fi’li sangat bergantung kepada niatan kita dari semula: benarkah apa yang kita lakukan demi untuk kepentingan Allah SWT atau tidak? Kepentingan Allah SWT juga harus tampak dalam tujuan kerja itu sendiri, yaitu bagi kepentingan orang banyak atau bukan?.

Di sinilah terletak perbedaan antara motif kerja kita: untuk Tuhan –yang berarti, kerja untuk kepentingan orang banyak, dengan tidak melupakan tempat pribadi kita di dalamnya, yaitu sikap/pendapat yang berpusat pada Tuhan (Theosentrisme). Sebaliknya, pendapat/sikap dibawakan oleh ilmu pengetahuan yang tidak bersandar pada aspek ke-Tuhanan dalam hidup kita, disebut sebagai pendekatan serba manusiawi (Anthroposentrisme).

*****

Dengan membedakan pendekatan sentrisme ke-Tuhan-an dari sentrisme manusia itu, kita lalu mengetahui sisi saling berebut tangan dari kehidupan manusia modern. Penulis selalu beranggapan, bahwa sentrisme ke-Tuhan-an adalah sendi kehidupan kita sebagai warga masyarakat. Ini mungkin disebabkan oleh pendidikan penulis di pesanten yang memberi bekal sangat mendalam. Tetapi, ini tidak berarti kita merendahkan manusia sebagai titik pusat kehidupan. Allah SWT pun menghendaki penghormatan tertinggi untuk diberikan kepada manusia, sehingga para malaikat-malaikat pun harus menghormatinya. Tetapi ini tidak berarti ia menjadi pusat segala-galanya karena di atas manusia masih ada Tuhan.

Karenanya, Allah SWT sendiri yang menempatkan kepentingan sesama manusia, bukannya manusia secara individual sebagai rujukan. Bagi perlakuan atas tindakan-tindakan yang kita lakukan dalam kepentingan hidup orang banyak dikenal dengan istilah kesejahteraan orang banyak (<i>mashlahah ‘ammah</i>). Itulah ukuran satu-satunya bagi ketepatan langkah-langkah yang kita ambil, kalau kepentingan –kesejahteraan- orang banyak tidak tercapai, maka berarti hal itu belum di ridloi Allah SWT. Nah pendekatan ini dalam Islam dikenal dengan sebutan asas manfaat. Nabi saw menunjukkan hal ini dengan jelas  dalam sabdanya “ sebaik-baiknya manusia adalah orang yang berguna untuk orang lain “(<i>khairu an-nas anfa’uhum li an-nas</i>).

Asas kepentingan orang banyak merupakan tanda dari kasih sayang Allah SWT yang tidak ada batasnya pada manusia. Karena itulah Allah SWT juga menentukan kelestarian alam sebagai ukuran kepentingan jangka panjang umat manusia. Hal ini di ukur dari kelayakan manusia melakukan eksploitasi sumber-sumber alam agar tidak merusak kepentingan manusia sendiri dalam jangka panjang. Ini berarti, kita harus menjauhi ketamakan manusia ini dan menggantinya dengan kesadaran akan kepentingan bersama dalam jangka panjang. Karena ini adalah konsekuensi logis kerja berdzikir, baik dzikr <i>lafdz</i> maupun dzikr <i>fi’li</i>, dengan demikian terasa bagi kita pentingnya arti berdzikir (senantiasa sadar atas kebesaran illahi) besar sekali bagi manusia. Karenanya, rasa Islam itu indah bagi kita bukan ?

Jakarta, 16 September 2002