Bepergian dengan Seorang Master

Yang penulis bicarakan di sini adalah bepergian ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dari pertengahan hingga minggu ke-tiga Desember 2004. Sedangkan  Master yang mengikuti adalah Master Chin Kung, seorang rohaniawanBudha yang sangat terkenal dengan ceramah-ceramah dan tulisannya. Master Chin Kung lahir di Provinsi Anhui, sebuah kawasan di Tiongkok Tengah, yang juga adalah Provinsi kelahiran Presiden RRT sekarang, Hu Jintao. Master Chin Kung pernah tinggal beberapa tahun lamanya di Amerika Serikat, sebelum lima tahun yang lalu ia menetap di Brisbane kawasan sebelah utara Australia
Kunjungan bersama itu bermula dari perkenalan penulis dengan sang Master itu beberapa tahun yang lampau. Dalam kesempatan tersebut penulis pernah menyatakan kepadanya bahwa penulis sedang menunggu jawaban dari RRT atas surat yang dikirimkan ke negeri itu dan menanyakan benarkah Partai komunis Tiongkok (PKT) mengundangnya ke sana? Pada suatu ketika, ia menyatakan hal yang sama kepada bante atau bikhu yang memimpin vihara di jalan Lodan, Ancol.

Tiba-tiba penulis memperoleh telepon dari Joko Susilo dari Multi Culture Society. Tadinya penulis mengira Joko Susilo itu adalah murid atau pengikut Master Chin Kung. Penulis baru menyadarikemungkinan salah dalam hal ini ketika berada di RRT. Ternyata Master Chin Kungjuga seperti diri penulis, yaitu orang yang dianggap para pejabatsebagai tamu menjadi delegasi  antar-agama. Di samping penulis yang menjadi ketua delegasi, ada Master Chin Kung, KH. Drs. M. Tolchah Hasan, Dr. Sulastomo, Romo Beni Susetyo dari KWI, pendeta Rrichard Daulay dari PGI, Tjahjadi Nugroho dari Asosiasi Pendeta, Kusuma dari agama Tao di Jakarta dan beberapa pejabat depatemen Agama.

Ketika berada di RRT itu, penulis berkunjung ke pusat-pusat berbagai agama, ke Biro Penyelenggaraan Agama Nasional, Majelis Permusyawaratan Politik Nasional dan sebagainya. Tidak lupa, penulis dan rombongan mengunjungi Tembok Besar  (Great Wall) , sekitar satu jam dengan kendaraan mobil dari kota Beijing. Beberapa buah artikel, termasuk tulisan ini, penulis masukan dalam harian di Jakarta untuk diterbitkan. Di samping Beijing, penulis dan rombongan juga pergi ke kota Peng Lai di Provinsi Shantung (Shandong), dengan lebih dahulu naik pesawat terbang satu jam, kemudian naik mobil juga selama satu jam dalam hawayang sangat dingin, sehingga Walikota Peng Lai menggigil kedinginan. Ketika pidato di lapangan penulis harus memberikan sambutan dan kemudian memukul Gong Perdamaian. Setelah itu penuls menuju kota Yantai di Provinsi yang sama. Di sana, Majelis permusyawaratan Politik Rakyat daerah Shantung dengan dipimpin wakil ketuanya mengadakan jamuan makan siang disebuah hotel untuk delegasi Inddonesia. Dari tempat itu, penulis kemabali  ke lapangan terbang untuk “kembali pulang” ke Beijing. Baru keesokan harinya penulis meninggalkan RRT untuk kembali ke Indonesia, dengan jarak terbang enam setengah jam. Kunjungan yang melelahkan , apalagi cuaca lima derajat di bawah nol celsius. Menurut seorang teman, kunjungan itu tersiarkan di layar Metro TV dengan menggunakan pakaian dingin ala Tiongkok, penulis tampak seperti ketua Polit Biro PKT.

Dalam perjalanan tersebut Master Chin Kung selalu duduk di samping penulis dan beberapa kali diminta memberikan sambutan oleh tuan rumah. Peraih Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat (Banten) ini bersikap senantiasa ramah kepada orang dan memberikan pertolongan kepada penulis, termasuk memberikanjaket tebal (overcoat). Merupakan kepribadian yang sangat menarik hati, Master Chin Kung adalah orang yang berpendirian kuat, namun bersikap lemah lembut kepada orang lain. Ia pun membuat penulis mau diperiksa tubuhnya di hotel oleh dr. Liu, yang juga adalah orang yang menguasai pengobatan Tiongkok. Ia adalah orang yang menangani sejumlah pemimpin kelompok dan merawat sakit mereka hingga sembuhseperti Mao Zedong, Liu Shaoqi, Perdana Menteri Zhou Enlai dan lain sebagainya. Ia juga yang menyatakan kepada penluis, bahwa kebutaan penulis tidak bersifat selama-lamanya, dan disebabkan oleh terganggunya pangkreas, ginjal dan limpa penulis. Gula hanyalah akibat belakang dari gangguan di atas.

Penulis berpisah dari para delegasi lainnya di Yantai karena mereka akan meneruskan perjalanan ke Shanghai, keesokan harinya. Sedangkan penuis harus segera kembali ke Baijing denga Richad Dauly, untuk keesokan harinya pulang ke Jakarta. Dengan hati berat penulis berpisah dengan Master Chin Kung, walaupun ia berjanji akan bertemu penulis di Jakarta dalam perjalanan kembali ke Australia. Namun, karena penulis harus ke Jombang dan Blitar tanggal 25 dan 26 Desenber 2004, penulis tidak tahu apakah dapat berjumpa lagi dengan Master Chin Kung. Menurut rencana, delegasi Indonesia termasuk Master Chin Kung akan turut singgah di Singapura untuk menengok Cak Nurchalis Majid, sebelum kembali ke Jakarta. Penulis tidak tahu, apakah Master Chin Kung akan turut singgah di Singapura atau tidak. Karena itu, penulis tidak tahu juga adakah ia akan bertemu temannya itu di Jakarta atau tidak.

Dalam beragai kesempatan, Master Chin Kung selalu menekankan  pentingnya arti penguasaaan ilmu pengetahuan dan teknologi modern disamping moralitas yang tinggi. Dalam berbagai bentuk dan ungkapan, tema yang ditunjukkannya selalu menyangkut hubungan sangat erat akan ke dua hal itu, yang disebutkannya akan menghasilkan ‘kesadaran baru’ tentang ilmu pengetahuan, teknologi dan moralitas. Hanya dengan berlandaskan pada ketiga hal itu, sebuah masyarakat yang mencapai modernitas yang memiliki keseimbangan, antara hal-hal material dan spiritual. Ketika penulis mengungkapkan apa yang diperbuat Fathullah Gulen di Turki, yang kini sudah tersebar di banyak negara bagian Australia, ia menyetujui penulis untuk bertemu para pengelola  ‘sekolah-sekolah Turki’ itu. Ketika kemudian penulis mengungkapkan, bahwa orang-orang itu menjadi aktivis bidang non-politik, sedangkan hal-hal politik diserahkan kepada Partai Keadilan dan Pembangunan pimpinan M. Rajab Erdogen, ia mengangguk-anggukan kepala sebagai tanda persetujuan.

Penulis menambahkan, hal itu terjadi juga di Indonesia dengan Nahdlatul Ulama, mengikuti jalur keagamaan, sosial, pendidikan, kesehaan dan ekonomi, sedangkan PKB mengurusi masalah-masalah politik. Sudah tentu apa yang diungkapkan penulis itu menjadi perhatian tokohtersebut. Pemahaman yang sama untuk mencari pemecahan bagi masalah-masalah masa kini, tentunya merupakan topik yang mengenabagi sebuah ‘diskusi tingkat tinggi’ dan akansangat bermanfaat itu. Hal-hal semacam inilah yang terlintas dalam benak penulis, ketika berada bersama-sama dengan Master Chin Kung.

Perjalanan yang seharusnya melelahkan itu, ternyata tidak berat bagi penulis , dan tampaknya juga bagi Master Chin Kung sendiri. Dan tidak tampak ia beremosi ketika melihat dan mengunjungi vihara-vihara Budha, gereja Kistiani (baik Katolik maupun Protestan), kuil Tao maupun masjid kaum muslimin. Pikirannya melambung tinggi entah ke mana, tidak terikat dengan tempat-tempat tersebut.

Tak heranlah jika kemudian penulis diberitahu oleh banyak orang baik tuan rumah atau bukan, yang menyatakan mereka sangat menghormati tulisan-tulisan dan pidato-pidato Master Chin Kung. Ini pun terjadi juga di Beijing, yang berdunia politik monolitik dan para birokratnya. Sampai hari ini penulis tidak tahu, adakah Master Chin Kung yang mengikuti Joko Susilo atau sebaliknya. penulis tidak ingin tahu hal itu, karena kunjungan tersebut memang sangat berhasil guna, dan memberikan banyak hal-hal yang perlu dipikirkan untuk memahami peranan ‘agama-agama Asia’. Para pemimpin agama seperti Maser Chin Kung itulah yang semakin lama semakin diperlukan, namun juga sangat sulit didapat. Hal ini semakin menjadi nyata dalam kunjungan kedua buah vihara yaitu sebuah vihara berbahasa Mandarin dan sebuah lagi berbahsa Tibet. Master Chin Kung tidak berbicara apa-apa tentang keadaaan kedua rumah peribadatantersebut. Ia biarkan penulis meramu pendapatnya sendiri dari berbagai keterangan tuan rumah dan para tamu.

Jelaslah dari uraian di atas, bersahabat dengan tokoh-tokoh seperti itu sangatlah berguna, dan banyak hal yang penulis pelajari dari sekian banyak percakapan dengan Master Chin Kung, walaupun singkat tapi sangat tinggi intensitasnya. Hal ini tentu berlawanan dengann emosi tinggi dan penuh hardikan yang sering didengar orang banyak dari mulut seorangmubaligh lokal, tetapi tidak memiliki rasa perikemanusiaan yang tinggi. Karena ia hanya menganggap diri sendiri yang benar, yang lain salah. Sikap seperti ini jelas berbeda dari sikap Master Chin Kungyang senantiasa menghargai orang lain, dan mencari nilai-nilai universal untuk dijadikan pegangan. Ini adalah bagian dari proses melestarikan dan membuang, yang biasa terjadi dalam sejarah manusia, bukan?

Jakarta, 26 Desember 2004