Berbuatlah Seperti Bung Karno

Saya  tahu dia (Guruh Soekarno Putra) bergerak di bidang budaya dan seni, dengan sendirinya saya tahu bagaimana sosok seorang Guruh. Di Indonesia ini kan ada dua macam seni. Pertama, seni tradisional budaya daerah. Kedua, seni yang seperti dikembangkan Mas Guruh itu, yaitu mencoba menyatukan  danmemadukan semua macam-macamitu menjadi satu irama Indonesia. Ya itu “irama Guruh” namanya dan nanti kita lihat bagaimana perkembanganya.

Saya tidak begitu tahu kiprah Guruh di bidang politik. Yang saya yahu hanya kiprahnya di bidang seni. Saya hanya dengar bahwa baru-baru ini ia dicalonkan untuk menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan. Saya tidak tahu apakah modal politik Guruh itu karena nama Bung Karno, apa bukan. Cuma saya pesan kepadanya, jangan terlalu mengidolakan Bung Karno. Orang sudah bosan. Bukan kepada Bung Karno dan ajarannya, tapi pada praktik-praktik pengidolaannya itu. Dari dulu, idola tidak ada yang benar, mungkin nanti 100 tahun lagilah orang-orang akan tahu Bung Karno dengan sungguh-sungguh. Saran saya, berbuatlah seperti Bung karno yang berjuang dengan ikhlas, dan seluruh hidupnya diabdikan kepada kepentingan bangsa dan negara. Dan patut dicontoh Guruh, bahwa Soekarno tidak pernah berfikiran, sebagai golongan nasionalis ingin memisahkan diri dari yang lain-lain. Jadi yang harus diperhatikan Guruh, Soekarno sebagai idola saja tidak cukup, harus ditambah dengan yang lain.

Mengenai posisi Ketua Umum PDI Perjuangan yang diperebutkan Mega maupun Guruh, saya hanya bisa  bilang salah satunya pasti akan terpilih nanti dan tentunya ia harus sanggup mengambil yang terbaik dari yang kalah-kalah itu. Lalu iamembuat program berdasarkan itu. Mestinya ia bisa mencapai spektrum paling jauh, paling banyak dan paling besar di lingkungan PDI Perjuangan. Saya melihat bahwa untuk masa depan itu kita perlu  memebuat sistem  politik yang baru sama sekali. Sistem politik ini berasal dari tiga kekuatan orsospol; Satu mahasiswa, LSM dan intelektual. Kedua, Tentara nasional Indonesia (TNI).

Karena diantara keduanya sering terjadi friksi, maka partai politiklah yang menjadi penengah. Partai Politik yang menjadi penengah itu tiga yang paling tinggi, bagus, dan besar, diantaranya PDI Perjuangan. Mari kita kerahkan segenap kekuatan-kekuatan untuk membesarkan PDI Perjuangan sebagai partai politik sehingga dia berperan menjadi jembatan. Begitu juga dengan PKB maupun Golkar.