MENCARI APA INDONESIA?

Oleh: Abdurrahman Wahid*

Setelah diguncangkan oleh kematian Marimutu Manimaren yang belum jelas apakah bunuh diri atau bukan, kita lagi-lagi dibuat kaget oleh ledakan bom berukuran sangat besar di Hotel JW. Marriott dan Plasa Mutiara disampingnya, di saat tulisan ini dibuat, 14 orang meninggal dunia, disamping lebih dari 100 orang luka-luka. Ledakan ini jelas mempunyai maksud tertentu, tetapi lagi-lagi tidak jelas motif apa yang mendorongnya. Penulis segera mengeluarkan reaksi berupa sikap mengutuk terorisme itu dan meminta segera diusut hingga tuntas siapa menjadi pelakunya. Hanya dengan tindakan keras seperti itu terorisme dapat dihilangkan dari bumi Indonesia, siapapun yang membuatnya.

Akibat dari pemboman itu sangat besar pengaruhnya kepada kurs Rupiah terhadap Dollar AS. Bahkan PM. Australia, John Howard menyatakan keterkejutannya dengan kejadian itu. Nama Indonesia lagi-lagi terpuruk dibuatnya, sehingga dapat dibayangkan Indonesia menjadi semakin dijauhi oleh para pemilik modal internasional. Akibatnya, penyelesaian krisis ekonomi Indonesia tertunda kembali, dan nasib puluhan juta orang kecil  dan rakyat jelata di negeri kita menjadi semakin runyam. Apalagi jika digabungkan dengan KKN yang semakin menjadi-jadi, jelas keporak-porandaan ekonomi kita menjadi semakin nyata. Dengan demikian, krisis di berbagai bidang yang penyelesaiannya sangat tergantung kepada faktor perbaikan ekonomi juga turut tertunda.

Dalam keadaan demikian sudah sepantasnya jika aparat pemerintah mengungkapkan kebenaran dengan mengusut kedua kejadian itu hingga tuntas. Tetapi, penuntasan kedua hal itu sangat bergantung kepada keberanian pemerintah untuk membersihkan diri termasuk membersihkan aparat yang terlibat di dalamnya -kalau ada-. Ini sangat penting untuk diwujudkan, karena kerja mempersiapkan perubahan -yang berarti bagi tegaknya demokrasi di negeri kita-, merupakan kerja sangat berat. Karena sangat banyaknya hambatan termasuk dari lingkungan intern pemerintahan sendiri. Hal inilah yang membuat penulis sangsi, benarkah niatan untuk menegakkan demokrasi yang sebenarnya, dikandung oleh para penguasa kita?

*****

Namun, kerja berat menegakkan demokrasi bukanlah asal kerja. Melainkan harus dibarengi oleh niat baik (political will) sangat kuat untuk menyelesaikannya. Hal itu juga harus disertai oleh motivasi benar untuk menegakkan kedaulatan hukum di negeri kita, dengan menjamin perlakuan sama bagi seluruh warga negara di muka undang-undang, penerimaan akan keberagaman asal-usul dan pendapat kita, penentuan orientasi ekonomi serta penerapannya bagi rakyat kecil atas pengelolaan sumber alam dan sumber daya manusia yang kita miliki, kosistensi atas kemerdekaan pers, seiring dengan pengakuan dan tuntasnya penyelesaian peraturan-peraturan untuk hal-hal tersebut. Hanya dengan bekerja atas dasar keikhlasan, maka kita akan dapat menegakkan proses pencapaian sasaran demi sasaran tersebut di atas.

Dalam mencapai sasaran demi sasaran itu, mau tidak mau kita harus berani juga merumuskan apa yang kita kehendaki di masa datang. Tentunya berdasarkan aneka ragam kehendak kita sebagai bangsa, menggingat jumlah penduduk kita yang lebih dari 204 juta, dengan wilayah yang luas, besarnya sumber kekayaan alam -terutama produk hutan, hasil kekayaan laut dan bahan-bahan pertambangan-. Walaupun harus disadari bahwa misseksploitasi sumber-sumber itu di masa lampau telah membawa korban luar biasa, terutama dalam nasib jutaan rakyat miskin yang telah kita miliki saat ini.

Karenanya, sangatlah penting untuk mengetahui arah sasaran kita di masa depan yang tinggal dekat ini. Tanpa mengetahui hal itu maka sasaran demi sasaran yang kita tetapkan, akan menjadi hal-hal ideal yang tidak dapat kita turunkan ke “muka bumi”. Jadi hal-hal makro yang kita rumuskan sebagai orientasi kehidupan kita itu, harus mencerminkan kebutuhan akan masa depan kita sendiri dalam tata pergaulan international. Dengan kata lain, kita harus sanggup menjawab pertanyaan yang menjadi judul tuliasn ini: Mencari apa Indonesia?

Jawaban atas pertanyaan di atas sangat menentukan kehidupan di masa yang akan datang, puluhan tahun -kalau tidak ratusan tahun. Kita juga harus terbuka mempelajari pengalaman demi pengalaman yang dilalui bangsa-bangsa lain. Mencontoh apa yang baik dari kehidupan manusia secara keseluruhan adalah hal lumrah dan tak perlu dibuat malu.

*****

Jawaban atas pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini adalah: perlindungan hak asasi manusia, penjagaan hak-hak warga negara secara perorangan maupun golongan dihadapan kekuasaan negara, pengamanan perbedaan pandangan sebagai konsekuensi dari keberagaman/pluralitas, pengakuan kepada hak minoritas daripada  previlege kaum mayoritas dan kepentingan “rakyat kebanyakan” daripada  previlege kaum kaya. Kesemuanya itu merupakan kongkretisasi hal-hal ideal yang ada dalam sasaran demi sasaran tersebut di atas. Pengingkaran atas hal-hal itu, walaupun tetap mengumandangkan demokrasi dan reformasi adalah lamunan yang menggelikan, karena tidak akan kunjung terwujudnya sasaran di atas.

Sebuah hal penting patut diingat dalam hal ini yaitu, sikap kita dalam tata niaga dunia yang berlaku sekarang. Kita harus taat kepada tiga elemen dalam perekonomian dunia dewasa saat ini: persaingan/kompetisi antar usaha yang sehat, kesertaan dalam tata niaga internasional yang ada dan penggunaan sistem-sistem efisiensi rasional. Meskipun kita dapat merubah orientasi perekonomian nasional kita, dari usaha besar dan raksasa kepada pemenuhan kebutuhan orang kecil melalui promosi kepentingan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), dengan merubah fokus anggaran belanja negara, namun kita tetap harus menggunakan ketiga prinsip di atas. Hanya dengan cara itu perekonomian bangsa ini dapat berkembang selaras dengan perkembangan ekonomi dunia.

Dengan demikian, jelaslah banyak sekali hal-hal dari masa lampau dan sekarang yang harus dirubah. Tekanan kepada kepentingan “kelas atas”, harus digantikan oleh perhatian kepada kepentingan “rakyat banyak”. Hal itu harus dicerminkan oleh sebuah sistem yang di dalamnya terkandung dua hal utama: Memelihara orientasi kepada kepentingan rakyat banyak, dan kesungguhan memelihara kehadiran kita dalam perekonomian dunia. Karena itulah dibutuhkan sebuah pemerintahan yang pandai mempertemukan kepentingan nasional kita dengan Internasional, dalam sebuah tatanan keseimbangan yang baru, itulah rahasiannya. Mudah dikatakan tetapi sulit dilaksanakan.

Memorandum, 07 Agustus 2003