SANGGAHAN BUAT BUYA ISMAIL HASAN METAREUM

Redaksi Yth

SANGGAHAN BUAT BUYA ISMAIL HASAN METAREUM

Kompas (22/4) memuat ajakan Buya Ismail Hasan Metareum, SH, Ketua Umum DPP PPP, agar polemik beliau dengan saya diakhiri. Saya sambut ajakan itu dengan penuh rasa kekeluargaan. Namun saya merasa dalam pemberitaan Kompas itu masih ada hal-hal yang harus diluruskan.

Polemik itu bermula dari pemuatan sebagian isi surat saya kepada Buya Ismail dan balasan beliau kepada saya. Bukan saya yang memberikan wawancara kepada Majalah Mingguan Editor, melainkan saya dihubungi Editor setelah Buya Ismail memberikan wawancara kepada majalah tersebut terlebih dulu. Karena isi surat saya berupa permintaan penjelasan apa yang saya dengar tentang ucapan Buya Ismail, tidak benar digunakan kata saya menuduh dalam kasus ini, seperti yang diberitakan.

Ketika Buya Ismail menyebutkan dalam pemberitaan media massa bahwa beliau telah membicarakan khusus ini dengan Sekjen DPP PPP, H. Matori Abdul Djalil, saya melakukan checking kepada yang bersangkutan. Saya memperoleh jawaban bahwa dia belum pernah dihubungi Buya Ismail dalam masalah ini. Jadi tidak benar saya menuduh Sekjen melakukan sesuatu seperti pemberitaan Kompas.

Buya Ismail mengatakan saya melakukan ancaman kepada PPP dalam kaitan Pemilu yang akan datang. Yang saya nyatakan dalam surat saya adalah berita yang saya dengar dari beliau harus dijernihnya. Karena kalau tidak dijernihkan akan membawa dampak bagi hubungan antara NU dengan PPP. Saya rasa ini adalah penilaian yang wajar dan peringatan yang tulus, yang tidak mengandung ancaman apa pun. Bahwa sekarang terasa dari masalah ini ada \'kekagetan\' warga PPP sendiri itu adalah akibat dari terdorongnya Buya memberikan wawancara terlebih dahulu kepada Editor, sehingga dengan demikian masalahnya menjadi diketahui masyarakat luas, padahal semula hanya diketahui kami berdua saja.

Dari butir-butir di atas menjadi jelas bahwa kita semua, termasuk Buya Ismail, harus selalu mawas diri. Termasuk juga Kompas yang memuat berita secara sepihak tanpa melakukan checking kepada pihak-pihak yang bersangkutan.

 

Abdurrahman Wahid

Jl. Kramat Raya 164

Jakarta Pusat

 

Dimuat di Harian KOMPAS Selasa, 28-04-1992. Halaman: 4