Tissue, Benarkah Barang Penting?

Oleh: Abdurrahman Wahid

Richard Wright adalah Novelis A..S berkulit hitam, dan tinggal di New York dengan  novelnya yang terkenal  “Native Son”, yang terbit tahun empat puluhan. Tetapi bukan novel itu yang menarik perhatian penulis, melainkan kesan-kesan yang didapatnya dari kunjungannya ke tanah air kita dalam dasawarsa 50-an itu, yang tertuang dalam sebuah artikel. Yang menarik perhatian penulis adalah kesimpulannya bahwa orang-orang Indonesia maju dalam hal, namun tidak mau menggunakan tissue untuk membersihkan dubur mereka sehabis buang air. Novelis itu dalam pandangan penulis menunjuk kepada fenomena: maju dalam banyak hal dan prinsipil dalam beberapa soal.

Wright lupa, atau juga mungkin sama sekali tidak tahu bahwa bagi sebagian besar warga bangsa kita, menggunakan tissue bukan sebuah kewajiban. Bukan kewajiban moral dan juga bukan “kewajiban teknis” karena sebagian besar warga bangsa kita beragama Islam. Sedangkan literatur hukum agama Islam  (fi’qh) menunjukkan, bahwa alat “pembersih” utama umat Islam adalah air. Sehingga ada anggapan cukup luas menggunakan tissue dan sejenisnya sebagai “alat pembersih” tubuh hanya digunakan kalau tidak ada air. Soalnya bukan mereka maju atau belum, melainkan tergantung kepada kebiasaan kita sendiri. Keadaan semacam itulah yang juga harus diperhatikan dalam promosi para wisatawan/ tourisme yang secara  gencar sedang dilakukan semenjak beberapa tahun terakhir ini. Dalam memajukan pariwisata itu, kita dengan sengaja mementingkan kedatangan para turis asing, yang kita panggil dengan istilah Wisman (wisatawan mancanegara). Devisa yang diperoleh dari mereka dalam kunjungan ke sini ditambah dengan pengembangan kemampuan untuk mengamati cara hidup yang berbeda, -tanpa mengganggu terlalu banyak pola hidup kita sendiri sebagai bangsa- pada akhirnya mengembangkan apa yang dinamai “melayani kebutuhan turis” hal ini tergambar dalam anekdot berikut: sepupu beserta penulis dengan berkendaraan mobil mengitari air mancur di depan Hotel Indonesia di Jakarta. Tiba-tiba sang sepupu bertanya  kepada penulis, setelah mengamati seorang turis asing menyebrang jalan, dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaos kutang (T-shirt). Dia heran, mengapa jauh-jauh sang turis asing hanya berjalan seperti itu, padahal di negeri asal mereka “berpakaian lengkap”. Penulis menjawab apa bedanya hal itu dari ia sendiri yang melepas baju safari sepulang dari kantor dan mengenakan sarung di rumah.

*****

Pada akhir minggu ke dua bulan Oktober 2003, penulis transit beberapa menit di lapangan terbang Hassanudin Makasar. Ketika ia di kamar mandi didapati closet WC tidak berfungsi memompa air. Terpaksa ia menggunakan gayung air untuk menyiram closet tersebut. Ini berarti tradisi melayani turis asing memang belum ada dalam kehidupan bangsa kita di daerah itu. Ini mungkin karena kecilnya penghasilan, sehingga orang yang bertanggung jawab terhadap closet itu tidak pernah memeperhatikannya. Atau kerena memang tidak tersedianya anggaran untuk mengurusi closet tersebut. Padahal ini penting untuk melayani para turis asing tersebut. Jika di ruang VIP saja closetnya tidak terjaga rapi dapat dibayangkan di tempat-tempat lain di lingkungan lapangan terbang tersebut.

Ini membuktikan, memang tradisi menjaga kepentingan para Wisman memang belum kita tumbuhkan. Jadi memang tidak cukup hanya dengan bergembar-gembor bahwa negeri kita penuh dengan keindahan alam bangsa kita, bersikap ramah-tamah kepada bangsa lain dan letak geografis negara kita sangat menguntungkan bagi pariwisata. Memang ketiga hal itu merupakan kelebihan alami dari kehidupan kita yang mungkin menarik perhatian orang. Tetapi tidak kurang pentingnya adalah tradisi pelayanan kepada mereka sebagaimana disebutkan di atas. Karenanya justru hal-hal seperti inilah yang memperlukan perbaikan terus-menerus, jika di kemudian hari kita inginkan pariwisata menjadi salah sebuah tiang kuat bagi perekonomian nasional maupun sebagai sarana pengenalan budaya kita.

Perlakuan itu juga berlaku bagi sarana-sarana teknis seperti jalan-jalan raya dan landas pacu di berbagai lapangan terbang. Kabupaten Tanah Toraja misalnya, sudah dicanangkan sebagai kawasan pengembangan pariwisata yang kedua setelah Pulau Bali. Tetapi landas pacu yang ada di airport hanya dapat menampung pesawat-pesawat terbang kecil, padahal para teknisi sudah menyatakan hanya diperlukan sedikit perpanjangan jika landas pacu yang ada itu ingin dikembangkan  untuk menampung pesawat-pesawat terbang seperti B-737 maupun MD-90. Memprihannkan memang, belum lagi jika berbicara tentang pengembangan sarana yelekomunikasi, penyediaan hotel-hotel dan sebagainya, yang memerlukan penanaman modal asing secara besar-besaran. Padahal investasi modal Asing  di sini memerlukan kepastian hukum, berarti perbaikan sistem pemerintahan secara hukum.

*****

Hal-hal di atas menunjukkan kepada kita, betapa pentingnya mengembangkan tradisi melayani wisatawan, kalau kita inginkan pariwisata menjadi salah satu soko guru perekonomian kita. Banyak peraturan yang harus dirubah dan disesuaikan menuju sasaran di atas. Kesadaran bangsa kita akan arti turisme dalam kehidupan, harus didorong untuk bertambah dan meningkat terus-menerus, padahal bangsa kita terkenal sangat kokoh dengan adat-istiadat dan budaya yang mereka miliki. Orang-orang Sulawesi Selatan sangat bangga dengan memiliki  dengan Angin Mamiri dan tradisi Siri yang mereka miliki, mereka itu tidak mudah untuk mengubah hal-hal semacam itu. Tetapi, kita justru dapat memanfaatkan hal-hal seperti itu dan “menjualnya” kepada turis asing melalui paket kesenian dan kebudayaan daerah, tanpa harus melakukan perubahan tradisi apapun -paling tinggi merubah kemasannya-, agar dapat dicernakan oleh wisatawan.

Spanyol merupakan negeri yang sangat maju dengan pariwisata, yang melibatkan hampir seluruh penduduk negeri itu. Jumlah para turis dari negeri-negeri lain yang memasuki Spanyol hampir dua kali lipat jumlah warga negaranya sendiri. Ini terjadi tanpa merusak kesenian dan budaya Spanyol sendiri, bahkan memperkaya bahasa mereka. Tari-tarian dan musik flamenco merupakan dengung yang selalu terdengar selama kita berada di Spanyol, mengalahkan lagu-lagu rock dan lain-lain. Pertandingan adu manusia melawan Banteng jantan, di sebut dengan istilah pertandingan Matador, masih tetap di penuhi  orang sebagai “olahraga” nasional yang digemari bangsa itu, dan juga oleh para turis asing tersebut. Sangat sedikit orang Spanyol berbahasa Inggris tapi itu tidak menghalangi industri pariwisata mereka.

Jelaslah dari uraian di atas beberapa hal menjadi prasyarat mutlak (conditio sine qua non) yang harus disediakan. Pelayanan yang ramah tamah dan perhatian yang bersungguh-sungguh ditambah dengan tradisi pariwisata yang cukup kuat merupakan hal-hal yang diperlukan untuk menunjang industri pariwisata itu. Karena itu harus kita cegah “kebiasaan lama” untuk mengumumkan target-target pariwisata, padahal baik sarana maupun prasarana belum tersedia dalam jumlah yang cukup. Lebih baik kita diam-diam mempersiapkan rangkaian persayaratan mutlak diatas, sebelum kita umumkan sasaran yang kita ingin wujudkan dalam pengembangannya di tanah air kita. Banyak upaya harus kita lakukan untuk itu, namun hal tersebut mudah dikatakan tetapi sulit dilakukan bukan?

Jakarta, 15 Oktober 2003
Sinar Harapan