Tuan Guru Faisal, Potret Kepribadian NU

Oleh Abdurrahman Wahid

DI Nusa Tenggara Barat (NTB) terdapat dua figur ulama besar yang sangat  menonjol dan berpengaruh. Yaitu, Tuan Guru Zainuddin (Pimpinan Nahdlatul  Wathan) dan Tuan Guru Faisal (Rois Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama).

Tuan Guru Faisal (70) baru saja meninggalkan kita 3 Februari lalu di  Lombok. Saya ingin mengenangnya berkenaan dengan pribadinya yang sangat  menarik. Tuan Guru untuk menunjukkan rasa cinta pada or-ganisasi, ternyata  menempuh jalan yang berliku-liku.

Dalam NU, Tuan Guru Faisal adalah generasi kedua NU di NTB. Pusat NU NTB  adalah di Lombok. Pengembangan NU di sana dengan dua sistem, yakni keguruan  dan pengajian. Dari aspek historis, yang membawa NU ke Lombok adalah seorang  ulama keturunan Arab Syekh Abdul Manan. Itu terjadi pada tahun 1930-an. Syekh  Abdul Manan diutus oleh Hadratusy Syekh Hasyim Asy\'ari Rais Akbar NU untuk  membuka wilayah NU Lombok. Waktu itu diistilahkan konsul NU Lombok, karena  belum  ada propinsi. Otomatis Syekh Abdul Manan menjadi pimpinan pertama NU  di Lombok.

Setelah Syekh Abdul Manan meninggal, kepemimpinan NU dipegang oleh Tuan  Guru Zainuddin (yang kini pimpinan Nahdlatul Wathan itu) dan Tuan Guru  Faisal sebagai orang kedua. Waktu itu NU masih ada di dalam partai Masyumi.  Maka kedua ulama itu, otomatis selain memimpin NU, juga memimpin Masyumi.

Ketika NU keluar dari Masyumi tahun 1952, kedua Tuan Guru ini bersepakat  membagi-bagi tugas. Tuan Guru Zainud-din meminta kepada muridnya, Tuan Guru  Faisal tetap dalam NU untuk menggantikan posisinya. Sedangkan Tuan Guru  Zainuddin sendiri berkonsentrasi di Masyumi. Langkah dan strategi ini diambil  seiring dengan konstelasi politik zaman liberal itu. Tujuannya, agar Masyumi  dapat merebut kedudukan bupati-bupati dan mempertahankannya, sehingga PNI  yang merupakan pesaing politiknya tak berdaya mengambil kursi pemerintahan di  tingkat kabupaten di wilayah NTB. Tentu, langkah itu, untuk kepentingan umat.  Inilah kerja sama yang sangat baik antara Masyumi dan NU.

***

TERNYATA dalam pemilu pertama tahun 1955, di Lombok antara kekuatan  Masyumi dan NU berimbang. Dengan demikian, lalu terdapat dua entitas politik  yang dipimpin oleh guru dan murid. Entitas politik Masyumi yang dipimpin Tuan  Guru Zainuddin dan entitas politik  NU yang dipimpin Tuan Guru Faisal - yang  nota bene murid Tuan Guru Zainuddin itu. Dari sini mulai terjadi perbedaan  institusional antarmereka - meskipun tentu, hubungan guru murid tetap  berjalan dengan baik.

Ketika Orde Baru, maka Tuan Guru Zainuddin masuk dalam lingkungan Golkar  untuk merebut kepemimpinan politik di daerahnya waktu itu. Sementara Tuan  Guru Faisal tetap di NU yang waktu itu masih berstatus partai politik. Pada  kampanye pemilu 1971 ketika Parpol pada umumnya, termasuk NU, terlibat dalam  pola hubungan yang kurang pas dengan Golkar, maka hubungan guru murid itu  menjadi renggang. Tetapi demi membela NU yang dicintainya, Tuan Guru Faisal  rela meniti kerenggangan hubungan tersebut. Padahal urusan hubungan guru  murid itu dalam lingkungan pesantren dan NU, sangat dijaga, dan semaksimal mungkin diupayakan janganlah sampai terjadi kerenggangan. Di sinilah, Tuan  Guru Faisal mengorbankan kepentingan pribadinya untuk jam\'iyah yang sangat  dicintai.

Sewaktu NU kemudian bergabung dalam PPP, Tuan Guru Zainuddin tetap di  Golkar, sementara Tuan Guru Faisal mengikuti jejak NU masuk dalam PPP. Begitu  pun ketika tahun 1983 NU keluar dari PPP dan kembali ke khittah 1926, Tuan  Guru Faisal juga keluar dari politik dan kembali ke khittah.

Anehnya, dalam kondisi dan situasi seperti itu di mana Tuan Guru Faisal  memilih kembali ke khittah dan keluar dari PPP, Tuan Guru Zainuddin justru  menyeberang ke PPP dalam Pemilu 1987 dan 1992. Jadi, ada semacam peristiwa  metamorfose dalam pandangan Tuan Guru Zainuddin.

Kendati demikian, kedua ulama  ini juga tidak bisa bertemu. Karena, Tuan  Guru Faisal tunduk dan cinta pada NU-nya yang kala itu sudah kembali ke  khittah - walaupun ia sendiri tetap bersimpati pada PPP, tetapi tidak bisa  ikut langsung terlibat dalam gelanggang. Sementara Tuan Guru Zainuddin  langsung ikut aktif berkampanye untuk partai berlambang bintang itu.

Jelasnya, kedua Tuan Guru itu tidak bisa berdekatan kembali, karena  memang secara institusional mereka tetap berseberangan. Perbedaan itu semakin  terasa, ketika Tuan Guru Faisal tetap berada dalam NU, sedangkan Tuan Guru  Zainuddin tetap berada di Masyumi, kemudian Golkar dan memimpin organisasi  yang didirikannya bernama Nahdlatul Wathan (NW). Dua nahdlah ini pun tidak  bisa bertemu juga sampai sekarang ini.

Namun, kedua-duanya sama-sama menjadi besar dan sama-sama dicintai  rakyat. Kalau misalnya ada semacam pembagian, maka Tuan Guru Faisal berpengaruh luas di masyarakat Lombok Barat, sedangkan Tuan Guru Zainuddin  berpengaruh sangat luas di Lombok Timur. Namun, bila dilihat dari keseluruhan  pengaruh, maka pengaruh Tuan Guru Faisal lebih besar karena beliau memimpin  NU Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk di dalamnya Pulau Sumbawa.

***

DALAM konteks ini, saya ingin merekam sosok kepribadian ulama semacam  Tuan Guru Faisal. Beliau adalah sosok kepribadian yang memiliki pandangan  yang konsisten. Yaitu, kecintaannya pada NU yang tiada habis-habisnya.    

Namun dalam hal pandangannya mengenai siapa yang dipilih untuk didukung,  saya sendiri dengan Tuan Guru Faisal berbeda. Saya tidak mau memilih apa pun  atau siapa pun, atau memberikan dukungan secara transparan dan terbuka. Itu  urusan saya yang asasi. Tidak harus mengajak orang lain dan tidak akan  memberitahukan kepada orang lain; mana yang saya pilih dalam pemilu dan mana  yang tidak. Sementara, Tuan Guru Faisal selalu menunjukkan dukungannya kepada  PPP secara terbuka.

Di sini pula ada perbedaan pandangan atau penafsiran antara ia dan saya  mengenai arti khittah 1926. Kalau saya menganggap khittah NU itu tidak  terkait secara organisatoris dengan kekuatan sosial politik mana pun, maka  artinya kita tidak boleh membantu mereka. Tuan Guru Faisal tidak demikian.  Beliau hanya membatasi pada penafsiran bahwa yang tidak boleh itu adalah  merangkap kepengurusan. Bila hanya menunjukkan simpati, kata Tuan Guru  Faisal, itu boleh-boleh saja. Beliau berargumentasi bahwa dalam kenyataannya  banyak pimpinan NU yang menunjukkan keberpihakan mereka pada Golkar. Tetapi  dalam pandangan saya, menunjukkan simpati itu pun menyalahi khittah, sama saja apakah ke PPP, ke Golkar atau ke PDI.

Perbedaan pandangan semacam ini, sebetulnya tidak mendasar. Namun, cukup  membuat sungkan satu sama lain. Saya sendiri tidak mengerti jalan pikirannya.  Ia juga rasaya tidak menerima dengan jalan pikiran saya. Tetapi karena ia  mencintai NU, maka beliau pun mencintai apa yang ingin saya lakukan untuk  kepentingan NU.

Pada saat Muktamar di Situbondo tahun 1984, perdebatan mengenai khittah  antara saya dengan Tuan Guru Faisal tak bisa dielakkan. Perdebatan  berlangsung hingga pagi, namun perbedaan pandangan antara

kami tetap saja  tidak bisa dipertemukan.

Meskipun dalam alam pikiran yang berbeda, tetapi Tuan Guru Faisal dan  saya tetap ingin mewujudkan keinginan bersama, yakni mencintai dan mengabdi  cita-cita NU. Karena itu, walaupun dalam suasana perbedaan antar pandangan  pribadi - sebelum wafat, beliau pernah mengatakan keluarganya kalau dirinya  meninggal, maka orang yang pertama yang harus dihubungi dan diberi tahu di  Jakarta adalah Abdurrahman Wahid. Bukan PBNU-nya.

Saya merasa kehilangan Tuan Guru Faisal sebagai kehilangan pribadi. Saya  secara pribadi melihat, tokoh yang satu ini memiliki karakter yang sangat  mengasyikkan. Beliau mempunyai sikap yang konsisten dan menunjukkan kecintaan  yang mendalam pada NU sampai wafatnya.

Bagi orang yang belum mengenal NU, sikap Tuan Guru Faisal adalah contoh  yang sangat berbicara tentang sikap saling menghormati di antara orang yang  berbeda pandangan sekalipun di tubuh NU. Tuan Guru Faisal adalah contoh dan  potret dari kepribadian NU sejati, yang sangat mengutamakan persaudaraan.

Persaudaraan adalah salah satu basis penting di mana NU hadir dan berdiri. Atas dasar persaudaraanlah NU memiliki trilogi hubungan Ukhuwah  Islamiyah (hubungan persauda-raan antarumat Islam), Ukhu-wah basyariyah/insaniyah (persaudaraan antarumat manusia) dan Ukhuwah wathaniyah (persaudaraan antarnegara dan bangsa).

Trilogi persaudaraan itu me-rupakan bagian penting dari kepribadian  jama\'ah (warga) NU, dulu, kini dan di masa datang, di saat NU diterpa badai  maupun tidak. Jika terjadi perbedaan pandangan antara warga NU, sejak dini  salah seorang pendiri NU, KH Wahab Hasbullah telah memberikan solusi dengan  pedoman: \"Bersepakat untuk tidak sepakat. Berbeda tetapi tetap bersaudara.\"  Dan Tuan Guru Faisal telah menjadi saksi yang patut diteladani mengenai  semangat persaudaraan NU tersebut.

 

* Abdurrahman Wahid, Ketua Umum PBNU.

Tulisan ini dimuat di KOMPAS Jumat, 23-02-1996. Halaman: 4

Related Posts