Ulasan Piala Dunia 1994: KESALAHAN TAKTIS DICK ADVOCAAT

Oleh Abdurrahman Wahid

PERTANDINGAN perempat final Belanda-Brasil dapat dikatakan sebagai final yang sebenarnya (real final) dalam kompetisi akbar Piala Dunia 1994. Kalaupun ada pertandingan yang sama bobot dan kualitasnya,  setidak-tidaknya pertandingan Belanda-Brasil itu merupakan gambaran serunya pertandingan final, apabila terjadi antara kedua negara tersebut.

Dengan ketrampilan individual sangat tinggi pada para pemainnya,  Brasil telah memiliki kelebihan yang tidak kecil atas pihak Belanda.  Sebaliknya, dengan pola permainan acaknya yang mampu menempatkan pemain  di semua tempat, kecuali penyerang utama Bergkamp, Belanda memiliki  keunggulan fleksibilitas permainan tim. Dengan kelebihan dan kekurangan  seperti itu, dapat dikatakan pelatih kedua tim tidak memiliki  pilihan-pilihan strategis yang bervariasi.

Kedua pelatih Carlos Alberto Parreira dan Dick Advocaat memiliki  hanya sedikit pilihan strategis. Pertama, sudah tentu kecepatan harus  diutamakan dalam mengembangkan permainan, karena hanya dengan cara  demikianlah pertahanan musuh dapat ditembus. Siapa yang mampu bermain  cepat pihaknyalah yang akan menguasai pertarungan. Kedua, ketajaman  serangan harus dijamin melalui penempatan para penyerang-baris-kedua  (second striker) yang ampuh, seperti Wim Jonk  di pihak Belanda dan Dunga  di pihak Brasil. Ketiga, pertahanan tanpa kompromi harus diberlakukan  sepanjang masa pertandingan. Walaupun Brasil menerapkan sistem zona  pertahanan dan Belanda pengawalan perorangan (individual marking),  intensitas ketatnya pertahanan kedua pihak menjadi persyaratan utama  untuk memungkinkan lini tengah membantu penggempuran di depan.

Baik Parreira maupun Advocaat menguasai benar prinsip-prinsip strategi di atas, dan menyusun kekuatan tim masing-masing atas dasar prinsip-prinsip itu. Hasilnya adalah permainan berimbang yang sangat menarik, walaupun di babak pertama permainan berjalan lamban, karena masing-masing tim melakukan penjajagan keadaan dengan sangat  berhati-hati, pertarungan menjadi sangat seru di babak kedua. Serunya pertandingan dapat dilihat pada skor 3-2 untuk kemenangan Brasil.

Dengan mantapnya strategi yang digunakan, keunggulan masing-masing tim atas lawannya lalu menjadi sangat ditentukan oleh  keberhasailan menerapkan taktik yang jitu dalam melaksanakan strategi yang dipilih, bahkan ketidakmampuan melakukan perubahan taktis dapat membawa akibat yang fatal bagi masing-masing tim. Hal itu terjadi pada tim Belanda asuhan Dick Advocaat itu.

Tim tersebut memulai kompetisi dengan langkah belum mantap benar,  tetapi telah menemukan pola permainan yang tepat bagi dirinya. Dengan  mengetengahkan para pemain dengan kemampuan rata-rata yang cukup tinggi,  walaupun tidak cemerlang, tim Oranye itu akhirnya berhasil masuk ke  putaran perempat final, setelah mengalahkan Irlandia 2-0 dalam putaran  perdelapan final. Kemampuan rata-rata dan kekompakan permainan membuat  serangan dapat dikendalikan dengan mengatur tempo permainan sesuai  kebutuhan.

Kemampuan mengembangkan pertahanan yang tangguh, dan kemudian mengalirkan serangan ke depan secara bergelombang melalui ketajaman para gelandang menyerang yang memiliki naluri tinggi untuk membuat gol, membuat keseimbangan yang sangat menawan antara pertahanan dan penyerangan. Kecepatan alur penyerangan itu sering membuat lawan  kebobolan pertahanannya ketika belum pulih benar dari kegagalan penyerangannya. Gol tiba-tiba menjadi salah satu ciri dari tipe serangan mendadak yang dibuat Belanda itu.

Dalam pertandingan Belanda melawan Brasil itu Dick Advocaat  menerapkan sistem penyerangan yang bertumpu pada sayap gantung Van Vossen dan Overmars. Ini dimaksudkan untuk memecah perhatian lawan, agar dapat membuka peluang bagi Bergkamp untuk menyerang dari tengah. Taktik ini sejak pertengahan babak pertama sudah tampak tidak efektif hasilnya. Sebabnya, karena pertahanan Brasil, terutama dalam peranan Jorginho, menerapkan sistem pertahanan zonal yang tidak kenal kompromi. Seharusnya, sejak saat itu Belanda sudah harus mengganti taktik penyerangan tersebut, dengan memindahkan alur serangan ke tengah dan tidak disalurkan melalui kedua sayap gantung itu.

Kegagalan merubah taktik penyerangan itu menjadikan serangan-serangan tim Belanda sangat mandul. Jikalau dilakukan perubahan lebih dini, dengan menarik kedua sayap gantung, kemungkinan besar Belanda sudah dapat melakukan gebrakan-gebrakan berarti pada paruh kedua babak pertama. Seandainya tokh tempo permainan masih dilambatkan pada babak pertama itu, penyerangan Belanda dapat segera diefektifkan sejak menit-menit pertama babak kedua dimulai. Hal itu terbukti ketika kemudian van Vossen ditarik dan gantikan oleh gelandang tengah Bryan Roy dan Overmars lebih dimainkan ke tengah daripada sebelumnya.

Kelambatan menerapkan perubahan taktis itu membuat Belanda kehilangan inisiatif untuk masa cukup lama yaitu hampir separuh babak kedua. Di saat itulah lahir dua buah gol Brasil, melalui kaki Romario dan kemudian Bebeto. Jika saja inisiatif penyerangan dari tengah dapat dibangun sejak awal babak kedua, tentu hasilnya akan berbeda. Kelebihan ketrampilan individu para pemain Brasil akan dinetralisir oleh kekompakan tim Oranye. Bahwa perubahan taktis kemudian dilakukan dan Belanda mampu menjebolkan gawang Brasil dua kali, menunjukkan pentingnya arti taktik yang efektif dalam menyerang.

Kesalahan taktis kedua yang dilakukan Dick Advocaat adalah kegagalannya untuk segera menggantikan Frank Rijkaard, sejak paruh kedua babak pertama sudah tampak jelas bahwa Rijkaard gagal mengalurkan serangan dari pertahanan ke barisan penyerang. Penampilannya menunjukkan ia sangat berada di bawah form primanya. Seharusnya ia sudah digantikan menjelang usainya babak pertama, sehingga penyerangan dari awal babak kedua sudah dapat dilakukan lebih efektif. Penempatan Jan Wouters di lini belakang memang membuat timpangnya jalur penghubung ke depan, yang gagal ditutup oleh Rijkaard.

Kesalahan taktis ketiga dari Dick Advocaat adalah kegagalannya menangkap fungsi khusus yang diberikan Parreira kepada pemain bertahan Branco. Pemain ini sengaja dipersiapkan untuk menembus pertahanan lawan melalui tendangan bebas yang sangat cerdik dan akurat. Seharusnya, dengan melihat masuknya Branco, Advocaat sudah harus mampu menahan para pemain belakangnya dari pelanggaran-pelanggaran yang tidak perlu di belahan pertahanan Belanda. Hal itu tidak dilakukan, dan gol ketiga Brasil terjadi dari tendangan bebas Branco pada menit ke-36, memanfaatkana lowongnya seorang pemain Brasil lain yang berlari menutup pandangan penjaga gawang Ed de Goey ketika bola ditendang Branco. Lengkaplah ketiga kesalahan taktis itu mengubur impian tim Belanda, di saat ia berada pada posisi dapat memaksakan hasil seri atau bahkan memenangkan pertandingan, jikapun seri, dan pertandingan diperpanjang 2x15 menit, momentum psikologis masih akan berada di tangah tim Oranye itu.

Kemampuan tim Belanda menembus kokohnya pertahanan Brasil dan mematahkan alur bola penyerangan dari belakang melalui gelandang sekaligus Mario Silva, membuktikan kekuatan strategis yang dimiliki Belanda. Sayangnya hal itu tidak didukung oleh taktik penyerangan dan pertahanan yang matang, dan kejelian lebih jauh untuk mengantisipasikan jalannya pertandingan. Apa boleh buat, impian Belanda harus dikubur dan peluang Belanda untuk mengembangkan tim nasionalnya terlebih jauh guna menghadapi Piala Eropa 1996 harus segera dipersiapkan. Bahwa Belanda pernah menjadi juara tanpa mahkota dalam kompetisi Piala Dunia 1974 dan menjadi calon utama juara Piala Dunia 1990 (setelah menjadi juara Piala Eropa 1988), menuntut kemampuan Belanda untuk membuktikan diri dalam kompetisi akbar sejagat ini, empat tahun mendatang.

 

Tulisan ini dimuat di Harian KOMPAS Senin, 11-07-1994. Halaman: 1

Related Posts