Ulasan Piala Dunia 1994: SACCHI DAN DAYA JUANG ITALIA

PERTANDINGAN putaran perempat final antara Italia dan Spanyol mengundang kekaguman orang kepada daya juang Italia kali ini. Sekali lagi orang menyaksikan bagaimana tim Italia mampu merebut kemenangan dari kondisi yang tidak menguntungkan di menit-menit terakhir perandingan. Roberto Baggio kembali mempersembahkan kemenangan bagi timnya disaat orang menganggap hasil maksimal sudah  dicapai oleh Italia, yaitu seri dan pertandingan dilanjutkan 2x15 menit. Melihat kekuatan yang berimbang antara kedua tim, orangpun menduga hasilnya akan tetap sama dan pemenang harus ditentukan melalui adu pinalti.

Ternyata dugaan itu meleset, dan Italia melaju ke semifinal setelah menundukkan Spanyol 2-1. Kemenangan gemilang yang menyesakkan dada pihak yang dikalahkan, tetapi yang tidak lepas dari rasa kagum akan stamina dan semangat juang Italia yang tidak mau melihat pertandingan dianggap usai sebelum benar-benar habis waktunya. Seperti juga halnya daya tahan Swedia untuk menyamakan kedudukan terhadap Rumania disaat-saat terakhir, padahal praktis harapan tim tersebut sudah terputus setelah Schwartz dikeluarkan dari lapangan oleh wasit. Hasilnya adalah perpanjangan waktu dan adu pinalti yang dimenangkan Swedia.

Beberapa kali hasil semacam itu dilakukan oleh Italia, sehingga mau tidak mau orang harus menyimpulkan bahwa \"ulah\" tersebut memang merupakan bagian taktis dari strategi pertandingannya. Tetapi memang tidak mungkin untuk melihat langkah seperti itu hanya merupakan suatu kebetulan saja. Ia merupakan komando sang pelatih yang meminta timnya untuk terus melakukan gempuran hingga saat-saat terakhir pertandingan. Bahwa tindakan itu tidak dengan sendirinya memasukkan masuknya gol ke gawang lawan sebagai sebuah kepastian, tidak berarti bahwa upaya memasukkan gol itu sendiri harus dikendorkan di menit-menit terakhir pertandingan.

Dasar pikiran akan tindakan itu adalah keyakinan bahwa upaya yang dilakukan terus-menerus tentu akan memberikan hasil. Kalau tidak, bukanlah karena kurangnya upaya, melainkan karena nasib belum membawakan keberuntungan. Sama saja dengan keyakinan memasang algojo tendangan bebas yang sangat piawai di tim Brasil, Branco. Kalau ia terus menerus dipercayakan melakukan eksekusi tendangan bebas yang rumit, tentu akan ada yang berhasil diantara sekian kali upayanya itu. Dan hal itu terbukti dengan \"tendangan ajaib\" Branco yang memenangkan Brasil atas Belanda dalam perempat final.

***

TERLEPAS dari itu semua, penampilan Italia dalam perempat final Piala Dunia 1994 menunjukkan ketangguhan sebuah kesebelasan kelas dunia. Dengan menempatkan Tassotti di depan, dengan nomor punggung 9, Sacchi menunjukkan bahwa seorang wing back dapat digunakan untuk menggempur pertahanan lawan, apabila ia dipindahkan ke tenga lapangan. Tempat yang seharusnya diisi Casiraghi, dengan andalan ia akan menjadi ujung tombak, dialihkan kepada Tassotti untuk mengalihkan pertahanan lawan ke tepi dan menciptakan lobang kosong di depan gawang lawan. Dengan cara itulah gol Baggio tercipta, walaupun ruang tembak  yang tersedia baginya sangat sempit. Baggio, yang seharusnya mengalihkan perhatian untuk kepentingan Casiraghi untuk memanfaatkan ruang kosong dan langsung menembak, ternyata justeru memperoleh peluang menembak dari upaya Tassotti dan pemain-pemain tengah lainnya.

Kepiawaian Sacchi dalam hal ini tampak menonjol melalui penerapan taktik yang prima mendukung strategi permainan yang matang. Strategi menguasai lapangan tengah untuk mengalirkan umpan-umpan bagi ujung

tombak Robert Baggio, dibuat lebih efektif lagi oleh overlap peranan antara sang ujung tombak dan pemain-pemain depan lainnya.

Inilah yang membuat mengapa Sacchi selalu mempertahankan Daniel Massaro di depan guna memungkinkan ia melakukan overlap dengan ujung tombak Baggio. Tentu saja ini berbeda dari peranan Dino Baggio yang menjadi second striker bagi Roberto Baggio atau Daniel Massaro.

Yang perlu dicatat dari hidupnya serangan-serangan Italia itu adalah resiko besar yang diambil Sacchi dengan sedikit melemahkan barisan pertahanan. Dengan meletakkan Bennarivo di belakang dan mendorong Tassotti di depan sementara Maldini juga agak ke depan sebagai pengalir bola dari belakang untuk menggantikan fungsi Franco Barresi, ternyata mau tidak mau pertahanan Italia menjadi turut terpengaruh. Bahwa Spanyol tidak berhasil memanfaatkan sedikit menurunnya kualitas pertahanan Italia, bukanlah berarti bahwa barisan belakang tim tersebut sudah maksimal kekukuhannya.

Strategi yang digunakan pelatih Spanyol Xavier Clemente Lazaro untuk menurunkan kekuatan menyerang maksimal di akhir pertandingan, ternyata tidak membawa hasil yang baik, justeru karena pada saat itu barisan pertahanan Spanyol terus menerus menghadapi gempuran Italia. Dengan demikian efektivitas Fernando Hiero yang dimasukkan justeru menjelang pertandingan bubar, tidak membawa hasil apa-apa. Kemungkinan kalau saja Beguiristain juga dimasukkan masih ada harapan untuk mencapai hasil.

Kematangan membaca perkembangan taktis pertandingan inilah yang merupakan keistimewaan Sacchi. Bacaannya, bahwa Spanyol tidak akan menggempur habis-habisan pertahanan Italia, karena pada dasarnya akan menyerang total hanya dalam tambahan waktu pertandingan 2x15 menit, apabila masih seri, dimanfaatkan Sacchi justeru untuk memberondong Spanyol dengan gempuran habis-habisan. Kalau berhasil, akan membuat Italia menang, kalau tidak minimal akan melawan habis-habisan pada lanjutan pertandingan. Tilikan Sacchi yang dinamis atas strategi Clemente yang statis, ternyata membuahkan sebuah kasus klasik \"tercurinya\" Spanyol oleh keberhasilan Italia untuk bertahan dengan prinsip  yang langgeng: Penyerangan adalah pertahanan yang terbaik.

Sungguh merupakan pelajaran yang sangat berharga tentang keteguhan melaksanakan sebuah strategi, yang diramu dengan kematangan taktik  yang sangat dinamis. Kita yang cenderung melihat strategi dan taktik dalam pola dan dosis yang tetap, bisa saja terkecoh oleh \"kejutan\"  yang sebenarnya tidak perlu mengagetkan. Demikian pula pihak lawan Italia waktu itu, tim Spanyol.

 

Tulisan ini dimuat di KOMPAS Kamis, 14-07-1994. Halaman: 1

Related Posts