Gagasan Gus Dur - Kategori : Artikel-artikel Tentang Antropologi

Karya tulis Gus Dur bertebaran di mana-mana. Rubrik ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali berbagai tulisan Gus Dur tersebut.

NU

26 Artikel

Agama

69 Artikel

Demokrasi

95 Artikel

Budaya

110 Artikel

Antropologi

51 Artikel

Megawati dan KLB PDI

Kongres Luar Biasa (KLB) Partai Demokrasi Indonesia (PDI) berakhir tanpa hasil yang diharapkan. Forum tertinggi partai berlambang kepala banteng itu secara praktisnya berakhir dengan kegagalan dan orang tetap tidak tahu bagaimana kemelut PDI akan diselesaikan.

Haruskah Inul Diberangus?

Semula penulis hanya tertawa saja mendengar nama Inul, wanita muda yang menjadi anggota Fatayat Nahdlatul ‘Ulama di anak cabang (Ancab) Japanan, (Pasuruan), memang terdengar lucu.

Saddam Hussein dan Kita

Dalam sebuah wawancara televisi, penulis mengemukakan bahwa banyak hal yang dilupakan Presiden Amerika Serikat, George W Bush Junior, mengenai Presiden Saddam Hussein dari Irak.

Sekali Lagi Ahmad Wahib

Catatan harian Ahmad Wahib (alm) ternyata menimbulkan heboh juga. Mula-mula beberapa tinjauan buku menerima kehadiran buku harian tersebut sebagai positif, menyegarkan kehidupan pemikiran kaum muslimin. Bahkan sejumlah pemikir non-muslim menerimanya sebagai pemikiran keagamaan yang tidak hanya dapat dibatasi kegunaannya bagi kaum muslimin belaka. Mereka menganggapnya sebagai model pencarian kebenaran Islam yang dapat mereka ajak berdialog dengan sehat. Dengan kata lain, Ahmad Wahib yang telah tiada itu lalu menjadi milik bersama, bukannya milik orang Islam saja.

Fahmi D Syaifuudin dan Keterkaitannya pada NU

Siapapun yang mengenalFahmi D Saifuddin, baik di lingkungan profesi maupun pergerakan, tentulah mengetahui betapa lurusnya orang ini. Penulis tidak mengenalnya dari segi profesi, baik sebagai dosen, mantan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, maupun di bidang kedokteran. Penulis hanya mengenal Fahmi, demikian penulis memanggilnya, di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), karena ia bersamapenulis selama 10 tahun sama-sama menjadi aktivisnya. Dri sisi kedudukannya sebagai aktivis PBNU inilah penulis ingin mengenang Fahmi, dan itu banyak menimbulkan kenang-kenangan indah akan kiprah bersama dalam kegiatan-kegiatan di bidang tersebut.

Nurchalis Madjid; Kepergian Setelah Mengabdi

Seorang lagi dari deretan tokoh-tokoh kita telah meninggalkan lingkungan, setelah lama menderita sakit; Dr. Nurcholish Madjid. Banyak sekali orang yang merasa kehilangan dengan kepergiannya pada usia 66 tahun itu. Padahal, itu adalah usia yang mencerminkan kematangan hidup, terlebih-lebih pada masa penu kesalahpahaman dan salah pengertian satu sama lain, terkadang “diwarnai” oleh ledakan bom dan lemparan granat.

Tiga Pendekar dari Chicago

Gererasi pertama cendikiawan muslim dari Unversitas chicago ada tiga orang, yaitu Nurcholish madjid, Amien Rais, dan Ahmad Syafi’i Ma’arif. Hingga kini, merekalah yang dianggap mewkili angkatan pertama itu, karena memang belum muncul generasi keduanya.

Kematian Seorang Pangeran

Pernah saya memperoleh perintah untuk bertemu. Seorang teman menyatakan, gurunya ingin berjumpa saya, sebelum ia meninggalkan dunia fana ini. Semula ada keraguan sedikit di dalam hati, karena orang itu adalah seorang guru kebatinan. Guru yang percaya kepada Tuhan dalam konteks kejawen, bukan konteks agama saya sendiri. Namun keraguan itu hilang ketika si ”penghubung” itu menyatakan, bahwa pertemuan itu tidak untuk memaksakan sesuatu kepada saya.

Bepergian dengan Seorang Master

Yang penulis bicarakan di sini adalah bepergian ke Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dari pertengahan hingga minggu ke-tiga Desember 2004. Sedangkan Master yang mengikuti adalah Master Chin Kung, seorang rohaniawanBudha yang sangat terkenal dengan ceramah-ceramah dan tulisannya. Master Chin Kung lahir di Provinsi Anhui, sebuah kawasan di Tiongkok Tengah, yang juga adalah Provinsi kelahiran Presiden RRT sekarang, Hu Jintao. Master Chin Kung pernah tinggal beberapa tahun lamanya di Amerika Serikat, sebelum lima tahun yang lalu ia menetap di Brisbane kawasan sebelah utara Australia Kunjungan bersama itu bermula dari perkenalan penulis dengan sang Master itu beberapa tahun yang lampau. Dalam kesempatan tersebut penulis pernah menyatakan kepadanya bahwa penulis sedang menunggu jawaban dari RRT atas surat yang dikirimkan ke negeri itu dan menanyakan benarkah Partai komunis Tiongkok (PKT) mengundangnya ke sana? Pada suatu ketika, ia menyatakan hal yang sama kepada bante atau bikhu yang memimpin vihara di jalan Lodan, Ancol.

Munir Telah Meninggalkan Kita

Munir Said Thalib adalah pria kelahiran Batu di kawasan Malang yang telah menjadi kekayaan bangsa. Sekian tahun lamanya, ia mengisi hidup dengan perjuangan menegakkan hak asasi manusia di negeri kita. Apa pun kata orang tentang dirinya, Munir telah membuktikan bahwa perjuangan menegakkan HAM adalah sesuatu yang mulia, juga pnuh bahaya yang terus-menerus mengintai nyawanya semenjak ia dan kawan-kawannya berjuang melalui Kontras dan Imparsial. Hanya saja, terdapat perbedaan sangat besar antara Munir dan kawan-kawannya seperjuangan, yaitu kesediaan untuk mengorbankan diri bagi perjuangan yang diyakininya.