Gagasan Gus Dur - Kategori : Artikel-artikel Tentang Kebudayaan

Karya tulis Gus Dur bertebaran di mana-mana. Rubrik ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali berbagai tulisan Gus Dur tersebut.

NU

26 Artikel

Agama

69 Artikel

Demokrasi

108 Artikel

Budaya

112 Artikel

Antropologi

60 Artikel

Saya Juga Keturunan Lembu Peteng

Oleh: Abdurrahmam Wahid Secara umum diterima \"kebenaran\", Ken Arok merebut keraton Singasari dari tangan Tunggl Ametung, orang yang mengawini ibunya-dan berimplikasi membunuh ayahnya. Beberapa tahun yang lalu muncul versi lain. Ternyata Ken Arok tidak membunuh pembunuh ayahnya, melainkan membunuh ayahnya sendiri. Siapa sang ayah? Tidak lain Tunggul Ametung.

Sebuah Perspekstif Nasi Tumpeng

Oleh Abdurrahman Wahid Seorang ibu dari Semarang punya kasus lucu. Setiap tahun ia mendapat undangan ke Istana Merdeka, mungkin sebagai pahlawan (yang masih hidup), atau keluarganya. Mungkin juga karena sebab lain. Nah tahun 1981 ia membungkus nasi tumpeng buatan istana dan menympiannya di rumah-hingga hari ini. Para tetangga tertawa melihat ia menjemur nasi sebungkus itu hingga kering. Biarlah, katanya, yang penting tumpeng sebungkus itu membawa rezeki.

Universalisme Islam dan Kosmopitanisme Peradaban Islam

Universalisme Islam menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting dan yang terbaik adalah dalam ajaran-ajarannya. Rangkaian ajaran yang meliputi berbagai bidang, seperti hukum agama (fiqh), keimanan (tauhid), etika (akhlaq, seringkali disempitkan oleh masyarakat hingga menjadi hanya kesusilaan belaka) dan sikap hidup, menampilkan kepedulian yang sangat besar kepada unsur-unsur utama dari kemanusiaan (al-insaniyyah). Prinsip-prinsip seperti persamaan derajat dimuka hukum, perlindungan warga masyarakat dari kedlaliman dan kesewenang-wenangan, penjagaan hak-hak mereka yang lemah dan menderita kekurangan dan pembatasan atas wewenang para pemegang kekuasaan, semuanya jelas menunjukkan kepedulian di atas. Sementara itu, universalisme yang tercermin dalam ajaran-ajaran yang memiliki kepedulian kepada unsur-unsur utama kemanusiaan itu diimbangi pula oleh kearifan yang muncul dari keterbukaan peradaban Islam sendiri.

Konsep Keadilan

Tidak dapat dipungkiri, Al-qur\'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu.

Islam dan Orientasi Bangsa

Yang paling banyak dilakukan orang adalah mengacaukan antara orientasi kehidupan sebuah bangsa dengan sebuah konsep, makanya sering ada kerancuan dengan menganggap adanya sebuah konsep negara dalam Islam. Atas dasar ini, orang pandai semacam Abul A\'la Al-Maududi, menganggap ideologi sebagai sebuah kerangka-pandang Islam. Karena itulah, ia lalu menganggap tidak ada nasionalisme dalam Islam, karena Islam bersifat universal bagi seluruh umat manusia. Tentunya, ini berhadapan dengan kenyataan bahwa sangat besar jumlah kaum muslimin yang memeluk nasionalisme, seperti mendiang Bung Karno. Pertanyaannya, dapatlah mereka dianggap kurang Islam dibanding ulama besar tersebut?

Ulasan Piala Dunia 1994: AKHIR ULASAN: SIAPAKAH PENENTUNYA?

SIR Alf Ramsey, pelatih legendaris Inggris, ketika ditanya siapa yang paling menentukan dalam tim, menjawab \"disini hanya ada satu orang pertama\". Ungkapan itu memperlihatkan betapa pentingnya arti seorang pelatih atau manajer bagi sebuah kesebelasan nasional. Johan Cruyff, mantan penyerang kondang Belanda, sewaktu ditanyai tentang kekalahan Belanda dari Brasil pada suatu waktu, menjawab bahwa lebih baik kalah menghadapi Tele Santana daripada menang atas kesebelasan manapun. Tampak betapa Cruyff menyamakan tim nasional Brasil dengan pelatihnya, Si Gaek yang kini melatih Klub Sao Paolo.

Ulasan Piala Dunia 1994: MENGENDALIKAN, TETAPI KALAH

PERTANDINGAN final Piala Dunia 1994 ternyata merupakan kebalikan dari perkiraan orang. Bukannya permainan menyerang yang tuntas yang dipertontonkan, melainkan serangan setengah hati yang dibiarkan pudar begitu tampak ada resiko serangan balik dari pihak lawan. Kelebihan teknik bermain individual para pemain Brasil dibiarkan tidak tersalurkan secara optimal dalam rangkaian gempuran atas wilayah pertahanan Italia. Sebaliknya, serangan Italia hanya satu dua saja yang berbahaya bagi penjaga gawang Brasil Taffarel.

Ulasan Piala Dunia 1994: Antara Kebanggaan dan Kekecewaan

Ketika Belgia dikalahkan dalam pertandingan semifinal putaran akhir piala dunia beberapa tahun yang lalu rakyat Belgia justru menyambut kepulangan mereka dengan penuh antusiasme. Mereka bersyukur atas kemampuan tim kesayangan mereka untuk sampai ke putaran tersebut, dan tidak melihat lebih jauh dari itu. Kekalahan pada level yang tidak terduga sebelumnya dapat diraih, adalah sebuah kehormatan. Bahkan putaran akhir Piala Dunia 1990 menyajikan kebanggaan rakyat Mesir akan prestasi tim nasional mereka, yang mampu menahan Belanda dengan angka seri 0-0. Padahal waktu itu ada trio top Marco van Basten, Ruud Gullit dan Frank Rijkaard. Tak heran bila Presiden Husni Mubarak langsung mengumumkan hari esoknya sebagai hari libur nasional.

Ulasan Piala Dunia 1994: SURUTNYA KEMAPANAN, PASANGNYA PENANTANG?

SALAH satu gejala menarik dari putaran akhir Piala Dunia 1994 adalah runtuhnya kejayaan kawasan Eropa Barat. Putaran perempat final masih diikuti Belanda dan Jerman Barat. Seimbang dengan perwakilan Eropa Selatan dan Eropa Tengah-Timur. Eropa Selatan menghadirkan Italia dan Spanyol, dan Eropa Tengah-Timur menghadirkan Bulgaria dan Rumania. Sedangkan Amerika Latin dan Eropa Utara hanya menghadirkan masing-masing satu kesebelasan, Brasil dan Swedia. Dalam perempat final, tidak satu pun wakil dari Eropa Barat hadir.

Ulasan Piala Dunia 1994: KEMENANGAN YANG MENGKHAWATIRKAN

KEMENANGAN Brasil dengan skor 1-0 atas Swedia dalam putaran semifinal Piala Dunia 1994 ternyata tidak begitu menggembirakan. Pelatih Carlos Alberto Parreira mencoba menutupi kecemasan orang itu dengan menyayangkan nasib sial Brasil yang tidak mencetak lebih dari satu gol ke gawang Swedia. Alasannya, karena kecemerlangan penjaga gawang Swedia Ravelli. Tidak disebut-sebut oleh Parreira tentang kehandalan pelatih Swedia Tommy Svensson, yang menciptakan benteng hampir-tak-tertembus Swedia itu. Ravelli hanyalah salah satu dari mata rantai pertahanan ciptaan Svensson tersebut.