Gagasan Gus Dur - Kategori : Artikel-artikel Tentang Kebudayaan

Karya tulis Gus Dur bertebaran di mana-mana. Rubrik ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali berbagai tulisan Gus Dur tersebut.

NU

26 Artikel

Agama

63 Artikel

Demokrasi

71 Artikel

Budaya

65 Artikel

Antropologi

42 Artikel

Perjanjian dengan Setan

Di tahun-tahun lima puluhan, beredar terjemahan noveler Damon Runyon, \"Hantu dan Daniel Webster\". Isinya tetang seorang Amerika abad lalu yang menggadaikan jiwanya kepada setan agar berhasil gemilang dalam profesi. Diakhir masa gadai, sang setan datang untuk menagih: orang itu harus hidup dalam bentuk lain. Menjadi kupu yang ditaruh dalam sebuah tabung, mengutuki nasibnya yang jelek, menjadi hamba setan.

Kedewasaan dan Bencana Alam

Motif berupa rasa belas kasihan memang bersumber pada alasan-alasan perikemanusiaan, namun antara kedua motif itu terdapat perbedaan yang cukup besar. Jika dorongan itu bersifat rasa belas kasihan, maka pertolongan yang diberikan  tidak mendorong para korban untuk mengatasi akibat-akibat bencana alam  itu sendiri. Timbullah rasa geram di pihak para korban, yang akhirnya dinyatakan dalam berbagai cara. Ada yang geram kepada pemerintah daerah, yang memang kacau balau tanpa persiapan. Atau kepada persiapan tidak memadai yang dilakukan oleh para penyelenggara negara yang tidak siap sama sekali, dan mengalami kemacetan total.

Akhirnya Mereka Punya Airport

Pada  hari Minggu 9 Januari 2005, penulis mendarat di sebuah lapangan terbang kecil di daerah Kabupaten Jember. Pada hari itu sebuah lapangan terbang yang ‘asal jadi\' untuk pertama kali secara resmi digunakan. Menjelang jam 8 pagi penulis, Menhub  Hatta Rajasa dan Menteri Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal Syaifullah Yusuf beserta beberapa orang anggota DPR-RI terbang dari Airport Juanda di Surabaya. Juga Bupati/Kepala Daerah Jember turut serta dalam perjalanan itu. Sebelum itu Bupati yang mengundang kami semua ke daerah itu, menyatakan meminta kedatangan kami semua untuk membuka lapangan terbang dimaksud. Ternyata sesampai di sana, yang ada hanyalah sebuah landasan terbang dan apron yang menjadi tempat parkir pesawat yang ditumpangi. Karena landasan terbang dan mendarat hanya 1200 m panjangnya, maka yang dapat mendarat hanyalah pesawat-pesawat terbang kecil saja seperti Fokker F-27 ‘Friendship\' yang didaratkan di situ. Penulis dan teman-teman memenuhi pesawat terbang yang menggunakan baling-baling dan berisi kurang dari 50 orang penumpang saja.

Anatomi Sebuah Pendapat

Masyarakat sering beranggapan salah tentang sebuah keputusan hukum Islam (fiqh). Kesalahan itu dapat dilihat baik dalam hal kedudukannya dalam pandangan seorang muslim, maupun dalam hal-hal lain. Hal ini ternyata dari kasus mayat-mayat yang bergelimpangan setelah musibah gempa bumi dan gelombang Tsunami, yang terjadi di Propinsi Nangroe Aceh Darussalam (NAD), 26 Desember 2004 yang lalu. Kedua bencana alam tersebut, telah mengakibatkan korban jiwa lebih dari seratus ribu, dan banyak lagi yang dibawa ombak laut dan kemudian mayat mereka terapung-apung di lautan. Bahkan ditakutkan, mayat-mayat terapung itu ‘masuk\' ke Selat Malaka dan lebih ditakutkan lagi terbawa gelombang air hingga ke laut Jawa, untuk kemudian terdampar di pantai utara pulau tersebut. Mudah-mudahan hal itu tidak terjadi, karena akibat-akibat psikologis yang ditimbulkannya. Kalau meminjam istilah, yang secara lisan digunakan oleh budayawan Emha Ainun Nadjib dalam sebuah siaran radio niaga, itu akan mengakibatkan sebuah rumor, sas-sus dan mistik, dan trauma yang diakibatkannya akan menjadi sangat dahsyat.  

Belajar Dari Pengalaman Orang

Ketika Chiang Che Min menjadi Presiden RRT, ia dihadapkan kepada sebuah masalah besar. Sebagaimana halnya para pemimpin Tiongkok lainnya ia terobsesi oleh kesatuan Tiongkok. Karena itu ketika para mahasiswa menuntut negara federal, itu sangat mempengaruhi obsesinya itu dan menganggap tuntutan tersebut sebagai pertanda akan terpecah-belahnya Tiongkok ke dalam beberapa negara. Karena itulah, ia dan kawan-kawannya menolak gagasan tersebut. Ketika kemudian para mahasiswa berkeras mengajukan tuntutan itu, ia dan kawan-kawan memutuskan menghadapi para mahasiswa itu dengan tegas, termasuk menggunakan alat-alat militer untuk menumpas mereka. Itu terkenal di seluruh dunia dengan gambar seorang mahasiswa Tiongkok yang \"memalangkan\" kedua belah tangan di hadapan sebuah tank militer. Segera gambar itu tersebar ke seluruh dunia, dan dinyatakanlah oleh seluruh media bahwa tidak ada demokrasi di Tiongkok. Padahal ia dan kawan-kawan sebagai pengikut Deng Xiaoping baru memulai reformasi di berbagai bidang.

Antara NKRI dan Federalisme

Istilah NKRI dipakai oleh para pendiri negara ini untuk menunjukkan bahwa ia adalah sebuah negara dengan kepemimpinan tunggal dan arah perjalanan hidup yang sama bagi warga bangsa ini.

Birokratisasi Gerakan Islam

Yang dimaksudkan dengan birokratisasi adalah keadaan yang berciri utama kepentingan para birokrat menjadi ukuran. Sama saja halnya dengan militerisme jika kepentingan pihak militer merupakan ukuran utama bagi perkembangan sebuah negeri. Jadi bukannya apabila kaum birokrat turut serta dalam kepemimpinan, seperti halnya jika para pemimpin militer ada dalam pemerintahan. Kata kunci dalam kedua hal ini adalah di tangan siapa kekuasaan itu.

Ulil dengan Liberalismenya

Ulil Abshar-Abdalla adalah seorang muda Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari lingkungan \"orang santri.\" Istrinya pun dari kalangan santri, yaitu putri budayawan muslim A Mustofa Bisri. Sehingga kredibilitasnya sebagai seorang santri tidak pernah dipertanyakan orang. Mungkin juga cara hidupnya masih bersifat santri. Tetapi dua hal yang membedakan Ulil dari orang-orang pesantren lainnya, yaitu ia bukan lulusan pesantren, dan profesinya bukanlah profesi lingkungan pesantren. Rupanya kedua hal itulah yang akhirnya membuat ia dimaki-maki sebagai seorang yang \"menghina\" Islam, sementara oleh banyak kalangan lain ia dianggap \"abangan\". Dan di lingkungan NU, cukup banyak yang mempertanyakan jalan pikirannya yang memang dianggap \"aneh\" bagi kalangan santri, baik dari pesantren maupun bukan.

Tahan Berpolitikkah Pondok Pesantren?

Dalam apa yang dinamakan ‘Muktamar Sukolilo\' di Surabaya baru-baru ini, kubu Alwi Shihab mengalami permasalahan yang cukup serius. Pertama, KH. Abdullah Faqih dari Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan di Tuban, menyatakan siap bertemu penulis kapan saja. Penulis mensyaratkan pertemuan itu harus diselenggarakan di luar ponpes tersebut, karena ‘biang kerok\' persoalan antara beliau dan penulis, terletak pada salah seorang putra beliau yaitu Gus Ubed. Selain itu dalam forum tersebut, KH. Idris Marzuki dan Ponpes Lirboyo mendahului pulang ke Kediri karena kecewa tokoh yang ingin dijadikan Ketua Umum Dewan Tanfidz Saifullah Yusuf tidak bersedia menempati posisi itu, dan malah ‘mengatur\' agar Choirul Anam yang terpilih. Dengan kepulangannya itu, KH. Idris Marzuki dianggap akan menekuni ponpes yang dipimpinnya, dan bukannya aktif dalam kegiatan politik seperti yang dilakukannya dua tahun terakhir ini.

Cinta Konseptual dan Cinta Kongkret

Minggu lalu, kembali penulis memutar compact disc (CD) di mobilnya dan mendengarkan lagu-lagu hard rock yang diciptakan Dhani Dewa. Penulis memutar lagu-lagu tersebut untuk mencari tahu apa sebabnya pihak-pihak ‘Islam garis keras\' marah kepadanya dan berniat menyeretnya ke pengadilan? atau minimal untuk ‘menakuti\' anak-anak muda yang hendak membeli kaset atau CD tersebut. Sampai-sampai terpaksa penulis membelanya, demi mempertahankan terhadap kemungkinan pelanggaran Undang-Undang Dasar dengan adanya tindak kekerasan terhadap grup band ini. Karena alasan yang digunakan, sama sekali tidak masuk akal manusia yang berpikir sehat.