Gagasan Gus Dur - Kategori : Artikel-artikel Tentang Kebudayaan

Karya tulis Gus Dur bertebaran di mana-mana. Rubrik ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali berbagai tulisan Gus Dur tersebut.

NU

26 Artikel

Agama

66 Artikel

Demokrasi

77 Artikel

Budaya

87 Artikel

Antropologi

45 Artikel

Tahan Berpolitikkah Pondok Pesantren?

Dalam apa yang dinamakan ‘Muktamar Sukolilo\' di Surabaya baru-baru ini, kubu Alwi Shihab mengalami permasalahan yang cukup serius. Pertama, KH. Abdullah Faqih dari Pondok Pesantren (Ponpes) Langitan di Tuban, menyatakan siap bertemu penulis kapan saja. Penulis mensyaratkan pertemuan itu harus diselenggarakan di luar ponpes tersebut, karena ‘biang kerok\' persoalan antara beliau dan penulis, terletak pada salah seorang putra beliau yaitu Gus Ubed. Selain itu dalam forum tersebut, KH. Idris Marzuki dan Ponpes Lirboyo mendahului pulang ke Kediri karena kecewa tokoh yang ingin dijadikan Ketua Umum Dewan Tanfidz Saifullah Yusuf tidak bersedia menempati posisi itu, dan malah ‘mengatur\' agar Choirul Anam yang terpilih. Dengan kepulangannya itu, KH. Idris Marzuki dianggap akan menekuni ponpes yang dipimpinnya, dan bukannya aktif dalam kegiatan politik seperti yang dilakukannya dua tahun terakhir ini.

Cinta Konseptual dan Cinta Kongkret

Minggu lalu, kembali penulis memutar compact disc (CD) di mobilnya dan mendengarkan lagu-lagu hard rock yang diciptakan Dhani Dewa. Penulis memutar lagu-lagu tersebut untuk mencari tahu apa sebabnya pihak-pihak ‘Islam garis keras\' marah kepadanya dan berniat menyeretnya ke pengadilan? atau minimal untuk ‘menakuti\' anak-anak muda yang hendak membeli kaset atau CD tersebut. Sampai-sampai terpaksa penulis membelanya, demi mempertahankan terhadap kemungkinan pelanggaran Undang-Undang Dasar dengan adanya tindak kekerasan terhadap grup band ini. Karena alasan yang digunakan, sama sekali tidak masuk akal manusia yang berpikir sehat.

Benarkah ada Perbenturan Budaya?

Profesor Samuel Huntington mengemukakan gagasannya bahwa sekarang terjadi perbenturan anatara peradaban Islam dengan budaya Barat. Segera pendapatnya berkembang ke seluruh dunia, menjadi perdebatan sangat menarik tentang peradaban modern. Bukankah dibalik bungkus perbenturan antara peradaban itu, sebenarnya dimaksudkan perbenturan antara peradaban Islam dan peradaban Barat modern? Huntington antara lain menyebutkan ciri-ciri khas peradaban Islam, yang membedakannya dari peradaban Barat modern. Perbedaan itu adalah perbedaan klasik antara sebuah peradaban yang bertumpu pada sistem hukum (dalam hal ini hukum Islam/fiqh) di satu pihak, melawan peradaban barat modern yang bertumpu pada materialisme di pihak lain. Benarkah apa yang dikemukakan Huntington itu? Apakah sikap yang harus kita ambil sebagai seorang muslim dalam hal ini?

Islam dan Hak Asasi Manusia

Oleh Abdurrahman WahidTulisan-tulisan yang menyatakan Islam melindungi Hak Asasi Manusia (HAM), seringkali menyebutkan Islam sebagai agama yang paling demokratis. Pernyataan itu, seringkali tidak sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Justru di negeri-negeri muslim-lah terjadi banyak pelanggaran yang berat atas HAM, termasuk di Indonesia.

Akademi Betawi

R. Soeprapto mulai dikenal sebagai gubernur yang memiliki visi unik diantara deretan gubernur dan walikota daerah ibukota kita ini. Visinya sangat sederhana: berpegang pada fungsi pemerintahan sebagai pemerintah daerah. Tidak seperti Ali Sadikin yang sering tidak ambil pusing dengan reaksi atau status pemerintah pusat

Saya Juga Keturunan Lembu Peteng

Oleh: Abdurrahmam Wahid Secara umum diterima \"kebenaran\", Ken Arok merebut keraton Singasari dari tangan Tunggl Ametung, orang yang mengawini ibunya-dan berimplikasi membunuh ayahnya. Beberapa tahun yang lalu muncul versi lain. Ternyata Ken Arok tidak membunuh pembunuh ayahnya, melainkan membunuh ayahnya sendiri. Siapa sang ayah? Tidak lain Tunggul Ametung.

Sebuah Perspekstif Nasi Tumpeng

Oleh Abdurrahman Wahid Seorang ibu dari Semarang punya kasus lucu. Setiap tahun ia mendapat undangan ke Istana Merdeka, mungkin sebagai pahlawan (yang masih hidup), atau keluarganya. Mungkin juga karena sebab lain. Nah tahun 1981 ia membungkus nasi tumpeng buatan istana dan menympiannya di rumah-hingga hari ini. Para tetangga tertawa melihat ia menjemur nasi sebungkus itu hingga kering. Biarlah, katanya, yang penting tumpeng sebungkus itu membawa rezeki.

Universalisme Islam dan Kosmopitanisme Peradaban Islam

Universalisme Islam menampakkan diri dalam berbagai manifestasi penting dan yang terbaik adalah dalam ajaran-ajarannya. Rangkaian ajaran yang meliputi berbagai bidang, seperti hukum agama (fiqh), keimanan (tauhid), etika (akhlaq, seringkali disempitkan oleh masyarakat hingga menjadi hanya kesusilaan belaka) dan sikap hidup, menampilkan kepedulian yang sangat besar kepada unsur-unsur utama dari kemanusiaan (al-insaniyyah). Prinsip-prinsip seperti persamaan derajat dimuka hukum, perlindungan warga masyarakat dari kedlaliman dan kesewenang-wenangan, penjagaan hak-hak mereka yang lemah dan menderita kekurangan dan pembatasan atas wewenang para pemegang kekuasaan, semuanya jelas menunjukkan kepedulian di atas. Sementara itu, universalisme yang tercermin dalam ajaran-ajaran yang memiliki kepedulian kepada unsur-unsur utama kemanusiaan itu diimbangi pula oleh kearifan yang muncul dari keterbukaan peradaban Islam sendiri.

Konsep Keadilan

Tidak dapat dipungkiri, Al-qur\'an meningkatkan sisi keadilan dalam kehidupan manusia, baik secara kolektif maupun individual. Karenanya, dengan mudah kita lalu dihinggapi semacam rasa cepat puas diri sebagai pribadi-pribadi Muslim dengan temuan yang mudah diperoleh secara gamblang itu.

Islam dan Orientasi Bangsa

Yang paling banyak dilakukan orang adalah mengacaukan antara orientasi kehidupan sebuah bangsa dengan sebuah konsep, makanya sering ada kerancuan dengan menganggap adanya sebuah konsep negara dalam Islam. Atas dasar ini, orang pandai semacam Abul A\'la Al-Maududi, menganggap ideologi sebagai sebuah kerangka-pandang Islam. Karena itulah, ia lalu menganggap tidak ada nasionalisme dalam Islam, karena Islam bersifat universal bagi seluruh umat manusia. Tentunya, ini berhadapan dengan kenyataan bahwa sangat besar jumlah kaum muslimin yang memeluk nasionalisme, seperti mendiang Bung Karno. Pertanyaannya, dapatlah mereka dianggap kurang Islam dibanding ulama besar tersebut?