Gagasan Gus Dur - Kategori : Artikel yang berhubungan dengan NU

Karya tulis Gus Dur bertebaran di mana-mana. Rubrik ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali berbagai tulisan Gus Dur tersebut.

NU

26 Artikel

Agama

63 Artikel

Demokrasi

71 Artikel

Budaya

65 Artikel

Antropologi

42 Artikel

Pengembangan Ahlussunnah wa al-Jama’ah di Lingkungan Nahdlatul Ulama

Beberapa tahun terakhir ini kita saksikan pergulatan yang hebat di kalangan berbagai kelompok Islam di tanah air. Banyak muncul berbagai organisasi baru yang mengajukan klaim sebagai perwadahan organisasi kaum Ulama Indonesia, baik yang berstatus swasta maupun setengah resmi. Ada yang didirikan khusus untuk menampung aspirasi kelompoknya saja, tetapi ada yang didirikan sebagai wadah dialog (musawarah) para ulama berbagai kelompok.

NU dan Terorisme Berkedok Islam

Dalam sebuah konfrensi internasional, penulis diminta memaparkan pandangannya mengenai terorisme yang tengah terjadi, seperti peledakan bom di Bali dan perbuatan-perbuatan lain yang serupa. Penulis jadi teringat pada penggunaan nama Islam dalam kerusuhan-kerusuhan di Ambon dan Poso, serta peristiwa terbunuhnya para ulama dalam jumlah besar dalam kasus “santet di Banyuwangi”. Tentu saja penulis menjadi terpengarah oleh banyaknya tindakan-tindakan yang dilakukan atas nama Islam di atas.

NU: Pergulatan Kultur Melawan Institusi

Harian Suara pembaharuan, tanggal 13/2/2002, memuat sebuah artikel tentang Nahdlatul Ulama (NU) dan penulis, yang dikemukakan oleh Ir. Salahuddin Wahid, adik penulis ini, mengemukakan hal-hal yang sangat menarik dalam artikel tersebut, yang menurut penulis adalahpengalihan perhatian secara sengaja atau tidak dari masalah yang sebenarnya. Tujuan tulisan ini adalah, untuk melakukan pelurusan atas apa yang dikemukakan adik penulis dalam artikel tersebut. Kalau dengan ini terjadi perdebatan yang hangat antara penulis dan adik penulis sendiri, di depan umum, hal itu terjadi dalam upaya pencarian kebenaran, bukan untuk beradu pandangan untuk mencari kemenangan.

NU Dulu dan Kini

Nahdlatul Ulama (NU) adalah organisasi keagamaan orang Islam terbesar di dunia saat ini. Sepuluh tahun yang lalu, ada orang yang mengatakan warga NU berjumlah 35 juta orang, sedangkan Muhammadiyah 28 juta jiwa. Beberapa tahun kemudian, pihak intel sebuah negara Jiran menyatakan, warga NU 60 juta orang, sedangkan Muhammadiyah 15 juta orang. Sewaktu penulis menjadi Presiden, ada yang mengeluarkan laporan secara tertulis, warga NU ada 90 juta orang, sedangkan Muhammadiyah 5 juta orang. IAIN sekarang disebut UIN, Universitas Islam Negeri) Syarief Hidayatullah di Ciputat melakukan survey, bahwa NU berwarga 42% umat Islam Indonesia, sedangkan Muhammadiyah 15%. Penulis bermaksud menunjukkan, bahwa NU memiliki arti penting dalam kehidupan bangsa kita, sejak berdirinya dalam tahun 1926, dan saat inipun masih memiliki arti seperti itu. Karenanya, sebagai bangsa tiap perubahan di NU akan berarti banyak bagi kita.

Dominasi Kiai dalam NU

Ketika mengetahui dengan pasti, bahwa M. Natsir selaku Ketua Umum Partai Masyumi memutuskan, bahwa kekuasaan tertinggi dalam partai ada di tangan Dewan Partai, Ra’is ‘Am PBNU mengambil keputusannya sendiri. Ra’is ‘Am KH A. Wahab Chasbullah memerintahkan kepada ketua umum PBNU, KH A. Wahid Hasyim agar mengatur keluarnya NU dari partai tersebut. Hal itu terjadi dalam muktamar NU di Palembang tahun 1952, yang sekaligus menunjukkan dominasi ulama di lingkungan NU.

NU: Jami’iah dan Jama’ah

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kini tantangan melakukan modernisasi dalam NU mengambil bentuk modernisasi sistem pengelolaannya. Warga NU telah banyak yang menggunakan computer untuk urusan sehari-hari, hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga harus melaksanakannya. Di kantor PBNU yang baru, bertingkat Sembilan, terdapat sebuah lift sampai ke basement/lantai dasar. Seiring dengan itu, anak-anak dari pimpinan NU, dari tingkat pusat sampai tingkat dusun banyak yang menguasai berbagai bidang profesi, mengikuti berbagai jenjang pendidikan formal. Pada waktu penulis berbicara di muka pertemuan Ikatan sarjana NU (ISNU)- yang para pesertanya berjumlah sekitar 200 orang lulusan S2 dan peserta S3 di berbagai Universitas. Lebih banyak lagi yang tidak mengikuti pertemuan tersebut, karena kesibukan pekerjaan maupun letak kediaman mereka yang jauh dari Jakarta.

Bagaimana Membaca NU?

Sejak kemerdekaan, perdebatan masalah kemasyarakatan senantiasa didominasi pertukaran pikiran antara kaum elitis dan kaum populis. Memang ada suara-suara tentang Islam, seperti dikembangkan Bung Karno, tetapi itu semua hanya meramaikan situasi yang tidak menjadi isu utama.

NU dan Negara Islam (1)

Sebuah pertanyaan diajukan kepada penulis: apakah reaksi NU (Nahdlatul Ulama) terhadap gagasan Negara Islam (NI), yang dikembangkan oleh beberapa partai politik yang menggunakan nama tersebut? Pertanyaan ini sangat menarik untuk dikaji terlebih dahulu dan dicarikan jawaban yang tepat atasnya. Inilah untuk pertama kali organisasi yang didirikan tahun 1926 ini ingin diketahui orang bagaimana pandangannya mengenai NI. Ini juga berarti, keinginntahuan akan hubungan NU dan keadaan bernegara yang kita jalani sekarang ini dipersoalkan orang. Dengan kata lain, masalah pendapat NU sekarang bukan hanya  menjadi masalah intern organisasi saja, melainkan sudah menjadi \"bagian\" dari kesadaran umum bangsa kita. Dengan upaya menjawab pertanyaan tersebut, penulis ingin menjadi bagian dari proses berpikir yang sangat luas seperti itu, sebuah keinginan yang pantas-pantas saja dimiliki seseorang yang sudah sejak lama tergoda oleh gagasan NI.

NU dan Negara Islam (2)

Siapapun tidak dapat menyangkal bangsa Indonesia adalah memiliki jumlah terbesar kaum Muslimin. Ini berbeda dari bangsa-bangsa lain, Indonesia justru memiliki jumlah yang sangat besar kaum \"Muslimin statistik\" atau lebih di kenal dengan sebutan \"Muslim abangan\". Walaupun demikian, kaum muslim yang taat beragama dengan nama \"kaum santri\" masih merupakan minoritas. Karena itu, alangkah tidak bijaksananya sikap ingin memaksakan NI atas diri mereka.