Gagasan Gus Dur

Karya tulis Gus Dur bertebaran di mana-mana. Rubrik ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali berbagai tulisan Gus Dur tersebut.

NU

26 Artikel

Agama

63 Artikel

Demokrasi

71 Artikel

Budaya

65 Artikel

Antropologi

42 Artikel

Islam: Kajian Klasik Ataukah Wilayah?

Pada waktu mendiang Dr. Soedjatmoko masih menjabat sebagai Rektor Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Tokyo, penulis diundang ke sana untuk mengemukakan pandangan tertulis mengenai kajian Islam. Undangan tersebut ternyata membawa kepada sebuah pengembaraan yang sangat menarik hati penulis.

Islam Dan Perjuangan Negara Islam

Penulis menerima sebuah permintaan dari teman-teman dalam MILF (Moro Islamic Liberation front), untuk menghentikan penyerbuan tentara Philipina atas kamp-kamp mereka di Philipina selatan.

Islam Dan McLuhan Di Surabaya

Penulis diundang oleh harian ini untuk memberikan ceramah maulid Nabi Muhammad saw, beberapa waktu yang lalu, yang di hadiri ribuan massa, diantaranya para habaib yang datang dari berbagai penjuru Jawa Timur.

Islam Dan Kesejahteraan Rakyat

Dalam ushul fiqh (teori Hukum Islam), dikemukakan keharusan seorang pemimpin agar mementingkan kesejahteraan rakyat yang dipimpin, sebagai tugas yang tidak dapat tidak harus dilaksanakan: “kebijaksanaan dan tindakan Imam (pemimpin) harus terkait langsung dengan kesejahteraan rakyat yang dipimpin” (tasyarruf al-imam ‘ala al-ra’iyyah manuutun bi al-maslahah), menetapkan hal ini dengan sangat jelas.

Islam Dan Hak Asasi Manusia

Tulisan-tulisan yang menyatakan Islam melindungi Hak Asasi Manusia (HAM), seringkali menyebutkan Islam sebagai agama yang paling demokratis.

Islam Dan Fungsi Keadilan

Dalam tulisan-tulisan terdahulu, tampak jelas bahwa Islam tidak mementingkan bentuk kelembagaan, melainkan fungsi-fungsi lembaga. Karena itu, Islam tidak mengenal konsep tentang negara, melainkan tentang fungsi-fungsi negara. Dengan demikian, sebuah konsep negara bangsa (nation-state) menjadi sama nilainya dengan negara Islam. Pentingnya fungsi tersebut, akan dibicarakan dalam tulisan ini. Karenanya, prinsip pentingnya fungsi harus sudah dimiliki ketika membahas tulisan ini.

Ulil dengan liberalisme

Ulil Abshar-Abdallah adalah seorang muda Nahdlatul Ulama (NU) yang berasal dari lingkungan “orang santri”. Istrinya pun dari kalangan santri, yaitu putri budayawan Muslim Musthofa Bisri, sehingga kredibilitasnya sebagai seorang tidak pernah dipertanyakan orang. Mungkin juga cara hidupnya masih bersifat santr. Tetapi ada hal yang membedakan Ulil dari orang-orang pesantren lainnya, yaitu profesinya bukanlah profesi lingkungan pesantern. Rupanya hal itulah yang akhirnya membuat ia dimaki-maki sebagai seorang yang “menghina” Islam, sementara oleh banyak kalangan lain ia dianggap “abangan”. Dan di lingkungan NU, cukup banyak yang mempertanyakan jalan pikirannya yang memang dianggap “aneh” bagi kalangan santri, baik dari pesantren maupun bukan.

Sekali Lagi Ahmad Wahib

Catatan harian Ahmad Wahib (alm) ternyata menimbulkan heboh juga. Mula-mula beberapa tinjauan buku menerima kehadiran buku harian tersebut sebagai positif, menyegarkan kehidupan pemikiran kaum muslimin. Bahkan sejumlah pemikir non-muslim menerimanya sebagai pemikiran keagamaan yang tidak hanya dapat dibatasi kegunaannya bagi kaum muslimin belaka. Mereka menganggapnya sebagai model pencarian kebenaran Islam yang dapat mereka ajak berdialog dengan sehat. Dengan kata lain, Ahmad Wahib yang telah tiada itu lalu menjadi milik bersama, bukannya milik orang Islam saja.

Islam Dan Hak Asasi Manusia

Tulisan-tulisan yang menyatakan Islam melindungi Hak Asasi Manusia (HAM), seringkali menyebutkan Islam sebagai agama yang paling demokratis.

Fahmi D Syaifuudin dan Keterkaitannya pada NU

Siapapun yang mengenalFahmi D Saifuddin, baik di lingkungan profesi maupun pergerakan, tentulah mengetahui betapa lurusnya orang ini. Penulis tidak mengenalnya dari segi profesi, baik sebagai dosen, mantan Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, maupun di bidang kedokteran. Penulis hanya mengenal Fahmi, demikian penulis memanggilnya, di lingkungan organisasi Nahdlatul Ulama (NU), karena ia bersamapenulis selama 10 tahun sama-sama menjadi aktivisnya. Dri sisi kedudukannya sebagai aktivis PBNU inilah penulis ingin mengenang Fahmi, dan itu banyak menimbulkan kenang-kenangan indah akan kiprah bersama dalam kegiatan-kegiatan di bidang tersebut.