Gagasan Gus Dur

Karya tulis Gus Dur bertebaran di mana-mana. Rubrik ini didedikasikan untuk mendokumentasikan dan menyebarkan kembali berbagai tulisan Gus Dur tersebut.

NU

28 Artikel

Agama

70 Artikel

Demokrasi

108 Artikel

Budaya

112 Artikel

Antropologi

61 Artikel

NU, PKB dan Teknologi Informasi Pemilu 2004

Bangsa kita telah melewati pemilu legislatif dengan tenang, berdasarkan ketentuan dari UU 12/2003, yang dilaksanakan dengan penuh kekurangan, kesalahan dan kesombongan KPU. Sebagai akibat, para peserta pemilu itu sendiri yaitu 24 parpol dihadapkan pada kesulitan-kesulitan yang sangat besar, baik secara teknis maupun non-teknis.

NU, PKB dan Pemilu 2004

Pemilu legislatif tahun 2004 adalah sesuatu yang sangat berharga bagi NU dan PKB. Terlepas dari banyaknya pelanggaran yang dilakukan oleh Komite Pemilihan Umum (KPU), dan terlepas dari demikian mencoloknya permainan uang (money politic) yang dilakukan oleh beberapa peserta pemilu. Ternyata tanpa berbuat seperti itu PKB/ NU ternyata memperoleh dukungan sangat besar dari para pemilih.

Mungkinkah Demokrasi Ditegakkan Pasca Pemilu?

Beberapa hari setelah pemilu legislatif tahun 2004 dilaksanakan, sejumlah parpol berkumpul di sebuah hotel di Jakarta, dan memutuskan bersama-sama untuk menolak segala hasil dari pemilu itu. Karena kekotoran, kelalaian dan kesembronoan Komite Pemilihan Umum (KPU) hasil-hasil pemilu itu secara total dianggap termanipulasi olehnya, dan dengan demikian harus ditolak.

Mengapa Mereka Menolak?

Hampir 20 partai politik, yang diwakili oleh tokoh-tokoh ‘berbobotnya” kumpul minggu lalu di sebuah hotel di bilangan Jakarta. Melalui pemungutan suara yang ditandai oleh aklamasi, semua yang menjadi wakil-wakil parpol itu, memutuskan untuk menolak hasil-hasil pemilu legilatif tanggal 5 April 2004 itu. Apakah gerangan yang mendorong mereka mengambil keputusan itu?

Mengapa KPU Bertindak Demikian?

Komite Pemilihan Umum (KPU) yang diangkat oleh pihak legislatif dan eksekutif bertugas melaksanakan ketentuan-ketentuan Undang-Undang No. 12 tahun 2003. Undang-undang tersebut mengatur waktu pelaksanaan pemilihan umum yang ditetapkan oleh KPU sendiri, tanggal 5 April 2004 untuk pemilu legislatif.

Membaca Perasaan Calon Pemilih

Pada saat penulis berpergian ke Amuntai di Kalimantan Selatan. Di hampir seluruh perjalanan darat lebih dari 200 km itu (airport Syamsudin Noor ke Amuntai), para penduduk berbondon-bondong mendatangi tempat-tempat yang akan penulis lalui.

Konfigurasi Politik Setelah PEMILU

Di sebagian besar daerah pemilu legislatif tahun 2004 telah berlangsung. Pada saat ini KPU tengah menggunakan teknologi informasi (TI) di Hotel Borobudur, Jakarta untuk melakukan tabulasi hasil-hasilnya yang menurut Wakil Ketua KPU DR. Ramlan Surbakti hanya bersifat uji coba, karena hasil tabulasi resmi hanya akan dilakukan berdasarkan laporan-laporan manual, sesuai dengan ketentuan undang-undang.

INI PEMILUNYA SIAPA?

Dalam menghadapi pemilu yang akan datang, penulis menghadapi tantangan intern maupun ekstern dalam berbagai bentuk. Tantangan ini juga dihadapi oleh parpo-parpol lain, tanpa kecuali.

Pemimpin dan Kepemimpinan

Pada suatu pagi dalam siaran sebuah stasiun pemancar radio, ada dialog tentang pemimpin dan kepemimpinan. Sudah tentu setelah wawancara dengan narasumber, dilakukan dialog interaktif dengan para pendengar radio itu. Nara sumber dialog itu menyatakan, bahwa terdapat kaitan sangat erat antara seorang pemimpin dan kepemimpinan yang ditunjukannya.

Lain Ucapan Lain Kenyataan

Dalam wawancara dengan sebuah stasiun radio di Jakarta, seorang pengamat menyatakan pemilu akan berjalan pada waktunya, namun hasilnya tidak optimal. Keadaan tidak optimal itu menurutnya: memang para pemilih akan memilih berdasarkan hati nurani, namun tidak tahu akibat-akibatnya. Menurut pendapatnya, akibat paling fatal adalah rakyat tetap memilih mereka yang menginginkan liberalisme politik.