Bisma Gugur

Luqman Hakiem

Seorang Sujiwo Tejo, tiba-tiba menyulingkan kata-kata tentang Gugur Bisma. (Pada kancah Baratayuda, pada kancah perang besarmu hari ini, Bisma, Jiwa besar sekeping kaca, setiap saat engkau berkaca....Gugur)

Gugur Bisma bukanlah gugur Bima, juga bukan gugur Bimantoro. Saya tidak akan membahas soal kilas balik drama pewayangan kita, apalagi mengaitkan dengan sejumlah nama dan kisah sejarahnya. Karena saya bukanlah Sujiwo yang terus mendalang, atau Sunan Kalijogo yang merenda kisah wayang menjadi prototipe perjalanan panjang manusia.

Tetapi gugur Bisma adalah jiwa besar sekeping kaca, setiap saat engkau berkaca,...gugur. Seperti juga barisan-barisan burung yang mencari jati dirinya, melanglang buana, menembus cakrawala, ketika bercermin, mati semua. Inilah kisah Sufi, kisah keagungan, kisah pencarian hakihat diri. Siapapun yang bercermin akanlah dia fana. Sebab sesungguhnya "siapa" itu tiada, yang ada hanya seakan-akan ada. Yang ada hanya bayang-bayang. Sesungguhnya, Bisma gugur sebagai Syuhada', karena ia menyaksikan dirinya dalam sekeping kaca.

Bimantoro, tiba-tiba jadi masalah. Mestinya ia bisa jadi pahlawan. Mestinya ia bisa jadi teladan. Mestinya ia jadi panutan. Lalu, bagai Baratayuda, para pamen ramai-ramai menabuh gendering membangkang pada Bimantoro, karena dinilai Bima orang yang membangkang pada Kepala Negara. Bahkan Kapolda Metro Jaya Sofyan Jacob pun termasuk dibidik pula oleh Kepala Negara, dengan tudingan hendak menangkap Sang Kepala Negara. Inilah kemelut, sekaligus kerunyaman dalam jantung aparat keamanan kita.

Semua ini memang gara-gara politik. Juga gara-gara orang tidak faham politik, sehingga mencampur adukkan apa yang disebut politik penyelenggaraan negara dengan politik ala wakil rakyat bahkan politik ala pinggir jalan.

Sebenarnya semua bangsa ini menginginkan sebuah akhir momentum yang baik atau Husnul Khotimah. Tetapi banyak orang lupa, betapa pentingnya Husnul Khotimah itu, sampai pada akhirnya, banyak yang mengabaikan betapa keterbatasan waktu dan ruang kehidupan, sesungguhnya ada pertanggungjawaban moral di Pengadilan Tuhan.

Gus Dur sudah teramat toleran. Kalau saja Abdurrahman Wahid bukan si Gus yang Kiai, pastilah banyak orang yang bersembunyi di balik terali besi. Tetapi si Gus adalah Kiai dan Presiden Perdamaian antar Agama se dunia (WRCP), tetap menginginkan segalanya dijalankan melalui cara-cara damai. Tetapi jika perintah-perintahnya tetap diabaikan, segala ketegasannya tak akan pernah terganggu gugat.

Segalanya memang dilalui oleh para politisi dengan penuh ironi. Hari ini, tak terdengar kata Bruneigate-Bullogate (BB) yang sesungguhnya jadi akar masalah. Tetapi, yang muncul justru nafsu-nafsu di balik bidikan BB tersebut, berkembang pada penggulingan presiden. Apalagi, pembuktian-pembuktian hokum tidak muncul melalui pengadilan, namun sebuah pengadilan justru terjadi melalui voting di Senayan.

Para Sufi menonton lakon Gugur Bisma dengan penuh keharuan. Tetapi para sufi hanya tersenyum ketika ditanya, bagaimana nasib tokoh-tokoh yang sesungguhnya telah gugur bukan membela merah putih, bukan membela kebenaran, bukan membela perjuangan bangsa? Bahkan mereka hanya membela diri, bukan bela negara? Bahkan "gugur" karena suatu pembangkangan?

Tiba-tiba terdengar suara lembut dari langit, "Sesungguhnya engkau tidak bisa memberi petunjuk kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah-lah yang (berhak) memberi petunjuk." Apapun keinginan Gus Dur untuk memberi petunjuk kepada orang-orang yang sesungguhnya dicintai, tetapi ketika orang-orang itu tetap membangkang, orang-orang itu tetap tidak kompromi, orang-orang itu tetap tidak mau menerima jalan kebenaran, sesungguhnya Gus Dur tidak perlu gelisah. Karena yang berhak membuka nurani mereka, memberi petunjuk dan hidayah pada jiwa-jiwa mereka adalah Allah swt, sendiri.

Dalam wacana Al-Hikam yang ke-4, berbunyi, "Ringankanlah dirimu dari ikut campur urusan Allah. Segala hal yang sudah diurus Allah untuk dirimu janganlah engkau ikut campur di sana." Hak anda adalah berusaha, Gus. Bagaimana hasilnya adalah urusan Allah. Tetapi sesungguhnya, Allah juga tidak akan menelantarkan upaya-upayamu. Sungguh, lho, Gus!

Dikutip dari Buku: Di Balik Sarung Presiden, Pledoi Sufi Dari Matador Hingga Kalijogo, Luqman Hakiem