FILSAFAT SEJARAH SPEKULATIF ABDURRAHMAN WAHID

oleh Mh. Nurul Huda

“Guru spiritualitas saya adalah realitas,
dan guru realitas saya adalah spiritualitas”
(Ilustrasi pada produk Kaos 1926)

Sejak diterbitkan kembali apa yang disebut “Traktat Peradaban Islam” ke dalam bentuk aforisma-aforisma di laman resmi PBNU, NU-Online,30 Desember 2014, bersamaan dengan peringatan Haul ke-5 Kiai Abdurrahman Wahid atau Gus Dur Allahu yarham (selanjutnya disebut Gus Dur saja), muncul beberapa renungan pertanyaan: apakah Gus Dur benar-benar memiliki suatu kerangka pandang atau visi sejarah yang oleh kalangan ahli sejarah digolongkan sebagai “filsafat sejarah spekulatif”? Bila iya, apa metode yang digunakan, dan bagaimana pula pola-pola serta karakteristiknya? Apakah pola-pola sejarah spekulatifnya bersifat inevitable (mutlak), ataukah contingent (mungkin tapi kondisional); berlaku universal, ataukah partikular dan terbatas?

Perenungan ini membawa penulis untuk menelaah kembali semua karya Gus Dur (total ada sekitar 360-an kolom/makalah/artikel yang telah diterbitkan dan terkumpul di berbagai judul buku), terutama dua makalah yang dapat kita anggap sebagai “Traktat”, yakni: “Kebangkitan Kembali Peradaban Islam, Adakah Ia?” yang terbit pada tahun 1985 dan “Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam” yang ditulis pada 1988. Dua artikel di atas diterbitkan dalam bagian dari buku Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (2010). Karya lainnya adalah buku Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahman Wahid Selama Era Lengser yang terbit pada 2002 yang terutama bagian kolom-kolom sejarah yang diterbitkan ulang pada 2010 dengan judul Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur. Dalam buku terakhir ini, kiranya Gus Dur telah meluangkan waktu secara khusus untuk membaca dan menulis sejarah dengan intensitas sangat tinggi. Selama jangka waktu 6 bulan antara Oktober 2001 hingga Maret 2002, ia menerbitkan 25 kolom sejarah di berbagai media massa. Separuh tulisan sejarah yang berjumlah 12 kolom terbit dalam sebulan, tepatnya selama Februari 2002. Ini berarti sejarah Nusantara ia baca kembali dan ia tulis dengan jumlah rata-rata 1 tulisan per-minggu selama 6 bulan tanpa jeda.

Selain itu, dapat diperkirakan juga jauh sebelum makalah dan kolomnya terbit, Gus Dur telah mengkaji sejarah dan filsafat sejarah secara ekstensif sejak tinggal di Mesir dan Irak (terutama sejarah Islam) dan beberapa waktu di Belanda, Jerman dan Perancis (belajar sejarah Eropa), dilanjutkan secara intensif mempelajari sejarah nusantara dalam periode tersebut diatas. Petunjuk yang dijadikan bukti klaim tersebut dapat ditemukan dari nama-nama ilmuwan sejarah dan ilmuwan sosial yang dikutip oleh Gus Dur dalam karya-karyanya. Diantara mereka adalah Ibn Khaldun, Karl Marx, Arnold J. Toynbee, Jan Romein, José  Ortega y Gasset, dan James C. Scott, yang diperkirakan mempengaruhi sedikit banyak pemikiran Gus Dur, terlepas dirinya setuju dengan pemikiran mereka ataukah tidak.

Sekalipun Gus Dur banyak membaca karya-karya sejarah dan sosial berbobot dari para pemikir di atas, ia sendiri nampaknya tak terlalu peduli dengan uraian teori-teori mereka berikut penyebutan pemakaiannya dalam tulisannya sendiri.  Mungkin benar kata Mohamad Sobari dalam satu kesempatan, sebagai seorang budayawan dan pemikir dengan area kajian yang luas dan bobot refleksi kehidupan yang matang, Gus Dur merasa berhak membebaskan diri dari keharusan-keharusan resmi yang sifatnya akademik macam itu. Oleh karena itu, dalam tulisan ini yang dimaksudkan untuk menyelidiki indikasi-indikasi ke arah bangunan kerangka “fisafat sejarah spekulatif” Gus Dur, maka perlulah kiranya sedikit pengenalan terhadap “sejarah spekulatif” sendiri dan tempatnya dalam lapangan kajian sejarah secara umum. Perihal ini akan dibahas pada bagian awal.

Bagian selanjutnya akan membahas masa-masa yang penuh turbulensi yang mendorong seorang filosof merumuskan filsafat sejarah spekulatifnya. Di bagian ini tindakan dan pemikiran Gus Dur akan ditempatkan dalam keseluruhan usahanya untuk mengatasi turbulensi, berupa desakan kuat untuk mengembalikan “kontinuitas”, ataupun kejelasan untuk menjaga solidaritas dan identitas suatu masyarakat bangsa. Bagian berikutnya akan dibahas pola-pola sejarah dunia, sejarah peradaban Islam dan sejarah nusantara, serta trend-trend sejarah masyarakat kontemporer yang menginspirasi dan membentuk sejarah spekulatif versinya. Bersamaan dengan itu pula pola dan karakteristik sejarah spekulatif Gus Dur akan didedahkan. Terakhir, dibahas prediksi atau Gus Dur mengenai sejarah peradaban Islam yang “diramalkan” membentang dari Asia Tenggara hingga Marokko.
 “Sejarah Analitik” dan “Sejarah Spekulatif”

Apa yang disebut “sejarah” merujuk secara umum pada masa lalu atau aktivitas intelektual yang mengkaji “masa lalu” dan perubahan-perubahannya. Berdasarkan teks buku standar pegangan mahasiswa, Philosophy of History: A Guide for Students (2003) karangan M.C. Lemon, semua ahli sejarah kiranya sepakat dengan pengertian ini, kecuali dalam hal cakupan peristiwa masa lalu itu apakah semua peristiwa termasuk alam (natural history) ataukah hanya menyangkut sejarah umat manusia. Disiplin ilmu sejarah yang berlaku umum kiranya terfokus pada cakupan yang terakhir ini.

Setidaknya ada dua tujuan seseorang mengkaji sejarah: pertama, sejarah dipelajari demi penemuan pengetahuan sejarah sendiri; dan kedua demi motivasi praktis yang bersifat eksternal. Motivasi ini diantaranya: (a) untuk memicu kontroversi, misalnya sebagai bukti keberhasilan menumbangkan kehebatan salah satu episode sejarah yang berpengaruh secara umum; dan (b) untuk persuasi politik, seperti membangkitkan konfidensi bangsa, justifikasi gerakan revolusioner, menyingkap pesan moral, dan sebagainya. Sepanjang suatu pengetahuan sejarah dikomunikasikan kepada khalayak maka ia dapat bergandengan dengan tujuan-tujuan eksternal tersebut.

Suatu refleksi filosofis mengenai “sejarah” umumnya mencakup dua tipe utama: yakni filsafat sejarah analitik (analytic philosophy of history)dan filsafat sejarah spekulatif (speculative philosophy of history). Filsafat sejarah analitik, atau yang kadang disebut juga filsafat historiografi kritis menangani masalah-masalah umum yang abstrak dan teoritis sifatnya tentang ideal-ideal displin ilmu sejarah menyangkut epistemologi, metodologi penyelidikan dan penulisan sejarah (historiogafi). Dengan disiplin aturan itu, “sejarah analitik” menggambarkan (describing) peristiwa masa lalu dan mencari penjelasan (explaining) yang valid mengenai karakteristiknya secara umum yang diperoleh lewat penceritaan (narrating) sekuensi kejadian-kejadian, sedemikian rupa sehingga peristiwa itu dapat dipahami dan dimengerti sebagaimana adanya.

Adapun filsafat sejarah spekulatif berusaha mencari pemahaman dan pengetahuan mengenai sejarah melalui perenungan rasional dan “demokratik” terhadap peristiwa sejarah “secara keseluruhan”, yang tidak dapat diakses oleh aturan-aturan formal disiplin ilmu sejarah. Sejarah spekulatif merenungkan muatan aktual sejarah dimana “sebagai keseluruhan” (history as a whole) ia dapat diterangkan dan sekaligus bermakna. Mereka umumnya fokus menyelidiki objek sejarah demi mencari bantuan atau inspirasi pada masa lalu untuk menyokong pernyataan-pernyataannya ataupun prediksi-prediksinya.

Dalan penelitian sejarah, ada kenyataan bahwa sejarawan analitik yang bergantung secara ketat pada sumber (evidence) sejarah, mungkin saja ia menemukan banyak “blank spots” yang tidak diketahui tapi mempengaruhi sejarah secara signifikan. Dihadapkan kekosongan yang misterius itu, sejarawan biasanya otomatis tidak dapat berbuat apa-apa kecuali menjatuhkan inferensi berdasarkan asumsi-asumsi, yang pada gilirannya menciptakan ruang bagi spekulasi. Spekulasi biasanya tidak hanya berlaku pada sejarah secara umum tetapi juga sejarah yang sifatnya partikular. Bentuknya pun tidak mesti terbatas seperti konstruksi sejarah universal (misalnya: “Sejarah Dunia”, World History) yang dibikin Augustine, Vico, Hegel, Marx; tapi juga termasuk asumsi-asumsi dan pernyataan-pernyataan yang bersifat parsial dan kurang menyeluruh.

Kiranya tak semua sejarawan khususnya sejarawan analitik menerima impuls-impuls dalam diri sejarahwan spekulatif. Bahkan, mungkin, sejarawan spekulatif hanya objek tertawaan belaka dalam situasi eforia posmodernisme.  Misalnya dinyatakan bahwa sejarah yang universal atau yang berpola atau yang berjalan siklis, atau yang dapat diprediksi ujungnya, itu tak lebih dari igauan, khayalan, fantasi, tidak realistik, buruk secara teoritik, dan seterusnya.

Namun tidak demikian bagi sebagian pengkaji sejarah yang lain. Mereka menilai sejarah spekulatif adalah kenyataan yang lumrah sebagai bagian dari aktivitas manusia yang reflektif, selalu ingin mencari makna, dan berharap masa depan yang diimpikan. Dikatakan bahwa visi sejarah spekulatif melampaui cita-cita jangka pendek dan menengah, dan para sejarawan-nya menyaksikan kemungkinan-kemungkinan sejarah bagi masa depan budaya, bangsa atau peradaban mereka. Berangkat dari detil-detil masa lalu, mereka mengabstraksikan “trend-trend” dan hukum-hukum umum untuk memprediksi masa depan. Bahkan mereka ingin mempengaruhi jalannya sejarah dan membentuk masa depan. Kiranya menurut hemat saya, sosok Gus Dur tak terlalu jauh dari manusia bertipe terakhir ini.

Gus Dur: Aktor dan Filosof Sejarah di Era Turbulensi

Ada dua alasan praktis seorang filosof mencurahkan pikiran dalam filsafat sejarah spekulatif. Pertama, di tengah situasi perubahan besar-besaran yang serba cepat, ada desakan kuat untuk mengembalikan kontinuitas, atau paling tidak, kejelasan, untuk menjaga suatu identitas masyarakat. Kedua, ada impuls untuk memprediksi masa depan, dan berharap untuk mempengaruhi masa depan tersebut dengan cara mengidentifikasi kekuatan-kekuatan umum yang menentukan sejarah. Dari sini, mari kita selidiki “sejarah spekulatif” versi Abdurrahman Wahid!

Pertama-tama Gus Dur “hadir” di tengah-tengah kehidupan bangsa yang sedang berada dalam satu pergolakan politik (political turbulence) awal Orde Baru yang belum final, masa serba transisional, alih kekuasaan pasca “Gestapu”. Sebuah situasi yang dia sebut sendiri sebagai “keadaan rawan”. Ada banyak jenis kerawanan pada masa itu yang disini cukup disinggung beberapa: (a) ketegangan antara tentara dan pihak Islam (terutama mantan Masyumi) yang menuntut berbagi jatah kekuasaan setelah penumpasan Gestapu; (b) ambisi kekuasaan dalam tubuh tentara sendiri; (c) phobia antarsesama kelompok anak bangsa; (d) snobisme terhadap pseudo-modernism dalam pembangunan; dan (d) perasaan tak menentu komunitas pesantren waktu itu, dimana Gus Dur adalah bagian di dalamnya, dalam menghadapi tantangan baik kemajuan teknis yang diperlukan di era membangun maupun sarana kepemimpinan/manejemen untuk mengatasi persoalannya sendiri. Poin yang terakhir, menurut Gus Dur, adalah pantulan dari “keadaan rawan” yang berjalan secara umum (MT, 54) yang secara kumulatif dipandang dapat membahayakan eksistensi kehidupan bangsa dalam jangka panjang.

Manakah diantara persoalan-persoalan itu yang memperoleh perhatian paling besar dari Gus Dur? Semua aspek kerawanan itukiranya tidak pernah kabur dari tatap mata tajam Gus Dur. Namun penanganan pokok soal dilakukan secara bertahap berdasarkan skala prioritas dan secara simultan, yakni: mengurangi dan kalau dapat menghilangkan perasaan phobia antarkelompok anak bangsa, dan memajukan komunitas pesantren yang diyakini soko guru dalam kehidupan berbangsa. Hemat saya, dua masalah terakhir ini berusaha ditangani Gus Dur dengan sekuat tenaga, sekaligus dilakukan dengan penuh kearifan, keikhlasan, kewarasan, keagungan rohani, dan kesabaran yang sangat tinggi.

Pada 26 Nopember 1973, kolom Gus Dur “Pesantren dalam Kesusastraan Indonesia” terbit pertama kalinya dalam sejarah halaman Koran Kompas. Sekilas kolom ini bicara kesusastraan belaka. Padahal dalam kolom inilah Gus Dur pertama kalinya menyuarakan “seruan moral” dinamisasi keagamaan secara umum baik Islam (khususnya pesantren) maupun non-Islam. Yang menarik dalam kolom ini Gus Dur mengulas pendek dua buah novel “Don Carmillo” karya Giovanni Guareschi, dan“Father Brown” yang dikarang G.K. Chesterton. Kedua-duanya berkisah tentang dua pendeta detektif Katolik yang ditulis secara serial di tahun-tahun pertengahan pertama abad lalu. Kiranya melalui ulasan novel ini Gus Dur secara arif dan bijak sedang mengemukakan seruan moral “instropeksi diri” dari pihak-pihak yang melakukan aksi-aksi kriminal “politik” atas nama agama.

Di akhir narasi, Gus Dur mengatakan: “Mungkinkah satire seperti ini diterbitkan di negeri kita dewasa ini, dengan tidak menerbitkan gelombang reaksi yang hebat?” Suatu pertanyaan yang tak memerlukan jawaban, karena jelas tidak mungkin. Gus Dur mengetahui secara pasti situasi pergolakan dalam transisi, betapa kenyataan saling-phobia antarkelompok agama dan rasa distrust antarkelompok sosial-politik yang dominan bermotif pribadi itu sedang menggerogoti jantung kehidupan bangsa berbhinneka yang begitu dicintainya. Dalam pandangan Gus Dur, kehidupan keagamaan seharusnya elastis seperti sastra, tidak mengeras dan tidak dihantui oleh perasaan phobia dan kebencian, melainkan keagungan kepribadian yang tergambar dalam “ketundukannya yang penuh pada ajaran agama, kejujurannya membela nilai-nilai yang dijunjung tinggi, kasih sayangnyakepada jemaat yang dipimpinnya dan kekerasan hatinya untuk melawan setiap ‘bujukan’ untuk berkompromi dengan kehidupan modern di Amerika” (MT, 49).

Selanjutnya dapat diduga bahwa Gus Dur melihat sosok ideal orang Katolik itu ada pada diri Romo Mangunwijaya yang kecintaan pada jemaat dan kehidupan bangsanya ia tulis di halaman Tempo (3 Juli 1976) berjudul “Sang Romo, Rumah dan Bambu” (TTPD, 185-190). Nama Romo Mangun-lah yang kerap disinggung di berbagai esei yang lain dan hingga akhir wafatnya, Gus Dur menulis obituari di halaman Kompas (11 Februari 1999) berjudul “Perjalanan Romo Yang Bijak” (GDMPZ, 83-87). Yang nampak bagi kita dari dua tokoh spiritual yang berbeda agama ini, betapa mereka sebenarnya saling mengapresiasi keluhuran spiritual masing-masing. Romo Mangun sendiri bahkan telah menyiapkan sebuah “Kata Pengantar” untuk judul buku Gus DurSekadar Mendahului (baru terbit tahun 2011). “Kata pengantar” ini sudah ditulis jauh-jauh hari pada tahun 1996 sebelum Romo Mangun sendiri wafat (1999), untuk buku itu yang sebenarnya sudah lama diangan-angankan Gus Dur sendiri. Kiranya jelas tidak ada phobia di antara sesama pejuang kemanusiaan ini. Keduanya disatukan erat oleh suatu moralitas baru yang dinyatakan oleh Gus Dur sebagai “moralitas yang penuh dengan keterlibatan kepada upaya mengangkat martabat manusia” (Tempo, “Moralitas: Keutuhan dan Keterlibatannya”, 17 Juni 1978)atau “moralitas yang merasa terlibat dengan penderitaan rakyat di bawah” (Tempo, “Demokrasi Haruslah Diperjuangkan”, 12 Agustus 1978).

Seruan peringatan “introspeksi” ini tidak hanya diarahkan secara arif kepada gambaran sosok “pendeta detektif” dalam dua novel diatas. Tapi juga kelompok-kelompok Islam secara umum untuk tidak menggunakan agama secara ekslusif sebagai instrumen kekuasaan. Adapun terhadap komunitas Islam sendiri, sepanjang hidupnya Gus Dur tak bosan-bosannya melakukan seruan yang sama bahkan lebih terus terang, lebih keras dan lebih gigih terhadap segala bentuk sektarianisme, gerakan-gerakan ideologi Islam dan ekstrimisme. Dalam hal ini,Gus Dur kiranya seperti orang tua yang arif pada umumnya, yang bila anaknya bertengkar dengan anak tetangga, dicubitnya anak sendiri dan disapa halusnya anak tetangga [Sebuah kearifan yang mungkin berguna bagi bangsa Eropa sekarang ini untuk mengatasi paradoks-paradoks dalam dirinya].

Analogi terakhir itu barangkali tidak pas, karena kita semua yang beraneka ragam adalah sesama anak-anak suatu bangsa, tapi cukuplah kiranya untuk melukiskan kearifan yang harus dimiliki oleh setiap kelompok dan komunitas dalam bangsa ini. Apalagi bila diingat bahwa tidak kurang 1% persen atau bahkan lebih kecil lagi kolom Gus Dur terarah (itupun dinyatakan secara tidak langsung, implisit saja) kepada non-muslim, kurang lebih 80% (bahkan dapat lebih) untuk kaum muslim secara umum, dan sejumlah 19% untuk pemerintah, birokrasi, partai, intelektual/budayawan dan tentara. Semua kolom tersebut berisi seruan-seruan moral dan kearifan, termasuk sebuah esei berisi pesan “penggunaan cara-cara yang luhur untuk tujuan yang luhur” yang ditulis untuk koran milik ABRI, Berita Yudha, 24 Maret 1988, berjudul “Seorang Santri Menilik Pandawa Baru”.

Setelah tulisan pertama di muka terbit, kolom Gus Dur tidak pernah lagi nampak di koran Kompas selama satu dekade, kecuali pada31 Des 1974 tentang ‘Pesantren dan Sekolah Umum” untuk sekadar menarik perhatian pemerintah kepada pendidikan pesantren. Mungkin kesempatan pertama itu sudah dirasa cukup, karena bagaimana pun juga ia menyadari pengaruhnya sendiri waktu itu belum kuat, hanya dipandang sebelah mata oleh penguasa baru. Sampai akhir 1980-an ia lebih sering mengurus pesantren, pergi ke pelosok-pelosok desa, menghadiri seminar dan diskusi, menulis makalah, mengirim esei di majalah Tempo dan jurnal Prisma untuk mengeksplorasi gagasan konsepsional tentang dinamisasi dan pengembangan pesantren. Sesekali juga ia mengamati dinamika politik di Timur Tengah sebagai bahan komparasi.

Di kalangan komunitas pesantren waktu itu, kiranya tidak ada manusia yang paling gelisah selain Gus Dur. Betapa tidak, ia sendiri lahir dari pesantren, yang sementara itu tengah dalam kondisi kerawanan internal sebagaimana disinggung diatas. Gambaran kolot, statis, kuper, tertutup, pasrah, terbelakang, manajemen tradisional, kurang adaptif dan seterusnya seolah dipandang inheren di dalam dunia pesantren. Bagaimana mungkin mereka dapat diharapkan ikut berpartisipasi dalam pembangunan, dan kehidupan berbangsa dan bernegara? Dalam gambaran-gambaran semacam itu, hampir selalu dilupakan dinamika internal pesantren dan peran kulturalnya selama berabad-abad dan sebelum, selama maupun sesudah revolusi kemerdekaan. Pesantren oleh pihak luar diharapkan untuk berubah total mengikuti arus modernisasi. Itu bukan modernisasi, tapi “snobisme”, “pseudo-modernism”, kata Gus Dur (MT, 56). 

Untuk mengatasi kesalahpahaman itu Gus Dur menerbitkan dua tulisan penting di awal sejarah konfrontasi konsepsionalnya, yakni “Dinamisasi dan Modernisasi” yang ditulis pada 8 Desember 1973 (MT, 51-64), menyusul kemudian artikel “Pesantren sebagai Subkultur” yang terbit di awal-awal tahun 1974 (MT, 1-45). Artikel pertama menekankan pentingnya aspek “sense of continuity” (ketersambungan) dalam perubahan dalam kehidupan umat Islam, khususnya pesantren dan bukan sekadar snobisme, sementara pada artikel kedua (dan artikel-artikel lain hingga tahun 1980) membahas jati diri pesantren sebagai “subkultur” dari kultur bangsa secara keseluruhan berikut dinamikanya serta pentingnya “sense of continuity” dalam hubungan dengan peranannya dalam perubahan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Artikel-artikel hingga tahun 1980 memperlihatkan secara jelas usaha Gus Dur mengatasi kegelisahan di era yang sedang bergolak, bukan hanya pergolakan dalam diri umat dan bangsanya, tapi juga pergolakan dalam jiwanya sendiri. Tema-tema dinamisasi pesantren (melalui reinterpretasi ajaran hukum Islam) dan integrasi pesantren dalam berbangsa (melalui pendidikan, pertanian dan koperasi, hukum, dan lain-lain) mendominasi kolom-kolom dekade ini, temasuk keterlibatannya dalam menyelesaikan riuh perdebatan para ilmuan sosial tentang kesinambungan nilai-nilai keindonesiaan yang hilang (1981). Berikutnya adalah pencarian akar keislaman dalam keindonesiaan yang dituntaskan pula atas peran besar Kiai Achmad Siddieq dalam Munas Alim Ulama tahun 1983 di Situbondo yang menerima Pancasila sebagai asas tunggal.

Sejak saat itu sempurna sudah integrasi keislaman dalam keindonesiaan, yang sebelumnya menimbulkan kesimpangsiuran, kecurigaan atau distrust antara masyarakat Islam secara umum dengan pemerintah. Purna juga misi sejarah untuk mempertahankan “kontinuitas” dalam perubahan bangsa, yang sebelumnya disesaki oleh pemberontak dan pergolakan. Yang spesial, integrasi keindonesiaan itu justru dimulai oleh NU sendiri, menyusul organisasi keagamaan dan sosial yang lain.

Kiranya sejak tahun 1980 Gus Dur mulai merasa yakin akan mampu mengatasi masa-masa turbulensi, termasuk pihak-pihak yang akan ia hadapi dan yang akan ikut serta dalam perubahan. Sejarah bukan hanya akan maju melalui “perubahan dan kesinambungan”(change and continuity), tetapi juga keyakinan dirinya dan manusia-manusia lain sebagai aktor sejarah dalam tugas kemajuan itu sendiri. Pengalamannya selama keliling pesantren pada awal hingga akhir 1970-an ikut menyakinkannya bahwa komunitas pesantren, aktor-aktor pesantren adalah bagian utama dari aktor sejarah itu.

Di halaman Tempo, 17 Mei 1980, keyakinan itu dituangkan dalam esei berjudul “Sama Sama Bermimpi Besar”, yang berisi impian dirinya yang mewarisi impian manusia-manusia besar lainnya (Mao, Nasser, Hatta) dalam menyelesaikan aneka persoalan masyarakatnya. Tapi kiranya jelas bagi Gus Dur, bahwa mimpi besar itu hanya terlaksana melalui tindakan nyata, dan bukan verbalisme intelektual belaka. “Impianku juga sebesar impian Bung Hatta dan kawan-kawannya seangkatan… Kita semua dari generasi, dari masa sebelum Bung Hatta hingga anak cucu toh tidak akan kekurangan anggota yang memiliki impian besar” (TTPD, 119-122).

Gus Dur memang tidak kekurangan anggota atau teman seperjuangan yang bermimpi besar, khususnya yang tinggal di pedesaan-pedesaan dan bukan hanya di kota-kota yang sebagian mereka waktu itu mulai apatis dengan nilai-nilai keindonesiaan. Teman seperjuangan itu adalah kekuatan perubahan yang hadir tanpa showbiz politik. Melalui kolom-kolom “antropologi kiai” yang terbit pada tahun 1980 hingga 1985 yang dikumpulkan kembali dalam buku Kiai Nyentrik Membela Pemerintah (LKiS, 2010), Gus Dur menunjukkan bahwa “they are really making change, not just telling something”.Melalui narasi antropologi kyai, Gus Dur kiranya juga membuktikan bahwa perubahan besar sedang dijalankan oleh aktor-aktor pesantren itu dalam suatu kerangka “change and continuity” di atas.

Pada Muktamar 1984, Gus Dur terpilih sebagai Ketua PBNU dan Kiai Achmad Siddieq sebagai Rais Am. Di pihak lain pemerintah Orde Baru juga semakin menancapkan kuku kekuasaannya melalui 3 jalur ABRI, Birokrasi dan Golkar. Tak ada pilihan strategi jitu bagi NU selain kembali ke khitah, untuk meneruskan dinamisasi pesantren dan penguatan masyarakat. Bagaimana mungkin suatu perubahan besar dilakukan tanpa kemampuan dan kekuatan daya hidup dari masyarakat sendiri? Gus Dur bergabung dengan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) dan menempatkan aksi kebudayaan sebagai upaya rekoneksi kehidupan yang sedang mengalami distansi sosial. Tapi sebetulnya sinyal Gus Dur untuk menjadi oposan halus terhadap Orde Baru sudah tercium sejak 11 Juni 1983 lewat kolomnya di Majalah Tempo berjudul “Saya Juga Keturunan Lembu Peteng” (TTPD, 153-156). Setelah lima tahun sejak pertama kali menulis “Demokrasi Haruslah Diperjuangkan” (1978), kini ia benar-benar harus melaksanakannya bersama kekuatan gerbong besar yang mau tidak mau mesti diperhitungkan oleh penguasa, yakni Nahdlatul Ulama.

Sebagai pemimpin sebuah organisasi Islam terbesar, visi pemikiran Gus Dur masih sama dan tak jauh berubah, hanya kini lebih praktis sekaligus realistik, namun tetap konsepsional. Sementara turbulensi sosial dan politik masih belum lewat bahkan cenderung makin menguat, ia sendiri menjadi tumpuan semua pihak: komunitas Islam sendiri yang mengalami krisis identitas dan komunitas non-muslim yang menuntut eksistensinya sebagai sesama warga Republikterjamin. Di satu pihak ia harus merespon masalah perumusan bentuk “sistem masyarakat Islam” yang ideal (pengaruh suasana Revolusi Islam di Iran tahun 1979 dalam gerakan-gerakan Islam di Indonesia), dan dipihak lain meletakkan sistem kemasyarakatan itu di dalam sistem masyarakat bangsa yang beraneka ragam secara utuh. Gus Dur juga masih dihadapkan pada kemungkinan-kemungkinan realisasinya dan model-model perubahan sosial yang mesti dijalankan di tengah turbulensi politik di era pemerintah Orde Baru yang militeristik. What is to be done?

Di masa-masa inilah pikiran-pikiran Gus Dur terlihat sangat konsepsional, tandas, dan jauh ke depan. Jawaban-jawabannya tertuang dalam kolom-kolom dekade 1980an, yang secara umum membahas konsepsi sistem kemasyarakatan menurut Islam, konsepsi kenegaraan dan kebangsaan, serta strategi atau model perubahan sosial yang paling realistik dijalankan dalam situasi yang serba mungkin. Untuk menyebut sebagian kecil saja kolom-kolom tersebut, diantaranya: “Islam sebagai sistem kemasyarakatan” (1981), “Republik Bumi di Sorga” (Prisma, Oktober 1983), “Jangan Paksakan Paradigma Luar Terhadap Agama”, (Prisma, Septeber 1982), “Pedang Gedeon dan Abu Jihad” (Kompas, 10 Juni 1988), “Perubahan Struktural Tanpa Karl Marx” (Tempo, 13 Februari 1982), “Umat Islam Seyogyanya Menghindari Ekslusivisme” (Berita Buana, 26 April 1983), “Agama dan Kebangsaan” (Tempo, 24 Septeber 1983), “Dialektika Islam, Adat dan Kebangsaan Dalam Tradisi Minang” (Tempo, 4 Mar 1989), dan “Pribumisasi Islam” (1989).

Dua buah artikel yang amat relevan bagi sejarah spekulatif Gus Dur juga ditulis pada masa-masa ini, tepatnya setelah setahun ia memimpin PBNU. Pada tahun 1985, ia memikirkan apa yang disebutnya “kebangkitan peradaban Islam” melalui sebuah artikel dengan judul retoris: “Kebangkitan Kembali Peradaban Islam: Adakah Ia?” (IK, 15-26; PNAK, 167-177). Lalu ia matangkan muatan dan arahnya dalam tiga tahun kemudian melalui kolom yang terbit pada 26 Januari 1988 di Harian Pelita berjudul “Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam” (IK, 3-14; PNAK, 179-188).

Dalam artikel terakhir, Gus Dur mengidentifikasi “pola-pola sejarah peradaban” yang diproyeksikan bagi terbentuknya masa depan peradaban Islam dengan karakternya yang baru dan khas. Dua tulisan yang dapat kita sebut “Traktat Peradaban Islam”,atau dapat juga disebut “Traktat Peradaban Islam Nusantara” sejauh karakternya dianggap mewakili ke-nusantara-an, berisi tendensi kemajuan sejarah versi Gus Dur, yang bersifat kosmopolitan, menghargai keragaman dan menjunjung tinggi martabat kemanusiaan.  (bersambung pada bagian ke-2)

Sumber Rujukan

GDMPZ = Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman. (Abdurrahman Wahid. Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman: Warisan Pemikiran Abdurrahman Wahid. Dipengantari oleh Jakob Oetama dan diepilogi oleh A.S. Hikam. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010)
GDMKR = Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat (Abdurrahman Wahid. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat. Dipengantari oleh Jakob Oetama. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008)
IIAIK = Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Abdurrahman Wahid. Islamku, Islam Anda, Islam Kita:Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Dipengantari oleh M Syafi’i Anwar. Jakarta: The Wahid Institute, 2006)
IKNITK = Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan.  (Abdurrahman Wahid. Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan. Dipengantari oleh Agus Maftuh Abegebriel. Jakarta: The Wahid Institute, 2007)
KKAAW = Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahwan Wahid. (Abdurrahman Wahid. Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahwan Wahid Selama Era Lengser. Dipengantari oleh KH. A. Mustofa Bisri. Yogyakarta: LKiS, 2002)
KKBS = Khazanah Kiai Bisri Syansuri. (Abdurrahman Wahid. Khazanah Kiai Bisri Syansuri: Pecinta Fiqih Sepanjang Hayat. Jakarta: Pensil-324, 2010)
KNMP = Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. (Abdurrahman Wahid. Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Dipengantari oleh Mohamad Sobary. Yogyakarta: LKiS, 2010)
MKK = Misteri Kata-Kata. (Abdurrahman Wahid. Misteri Kata-Kata. Jakarta: Pesin-324, 2010)
MSN = Membaca Sejarah Nusantara. (Abdurrahman Wahid. Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur. Dipengantari oleh KH. Mustofa Bisri. Yogyakarta: LKiS, 2010)
MT = Menggerakkan Tradisi. (Abdurrahman Wahid. Menggerakkan Tradisi. Dipengantari oleh Hairus Salim HS. Yogyakarta: LKiS, 2010)
SM = Sekadar Mendahului. (Abdurrahman Wahid. Sekadar Mendahului: Bunga Rampai Kata Pengantar. Dipengantari oleh Y.B. Mangunwijaya. Bandung: Penerbit Nuansa, 2011)
TTPD = Tuhan Tidak Perlu Dibela. (Abdurrahman Wahid. Tuhan Tidak Perlu Dibela. Dipengantari oleh Bisri Effendy. Yogyakarta: LKiS, 2011)
PNAK = Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. (Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. Depok: Desantara, 2001)
PPGD = Prisma Pemikiran Gus Dur. (Abdurrahwan Wahid. Prisma Pemikiran Gus Dur. Dipengantari oleh Greg Barton dan Hairus Salim HS. Yogyakarta: LKiS, 2010)
Sumber Rujukan Lain:
Aviezer Tucker (ed.). A Companion to the Philosophy of History and Historiography. UK: Blackwell Publishing Ltd,2009.
M.C. Lemon. Philosophy of History: A Guide for Students. London: Routledge, 2003.