FILSAFAT SEJARAH SPEKULATIF ABDURRAHMAN WAHID (Bagian 2)

Oleh: Mh. Nurul Huda

Kiranya ada dua strategi yang digunakan Gus Dur dalam filsafat sejarah spekulatifnya untuk memprediksi masa depan. Pertama, membaca dan merenungkan karya-karya sejarah peradaban yang ditulis para ahli sejarah besar dan menemukan pola-polanya; dan kedua, membangun kembali narasi-narasi sejarah yang baru, baik yang sifatnya umum maupun partikular (tidak menggantikan narasi sejarah yang ada secara keseluruhan, tapi pada bagian-bagian yang “missing” atau terdapat “blankspots” yang memungkinkan penafsiran) berdasarkan penyelidikan atas data-data sejarah yang dapat dimengerti (intelligible). Dengan demikian, bila ada sejarawan yang tidak menyetujui narasi sejarah baru versi Gur Dur, maka sejarah baru ini seyogyanya diperlakukan sebagai sejarah konterfaktual(counterfactualhistory) terhadap sejarah versi lama/resmi.

Pola Sejarah Dunia

Paling tidak ada lima sejarawan yang karangannya dikutip Gus Dur sebagai bahan perenungan dalam beberapa makalah dan kolomnya. Kelimanya adalah Jan MariusRomein (1893-1962) sejarawan Belanda pengarang Aera Eropa: Peradaban Eropa sebagai Penjimpangan dari Pola Umum (1956), Arnold J. Toynbee (1889-1975) sejarawan Inggris penulis A Study of History (12 jilid: 1934-1961), Ibnu Khaldun (1332-1406) sejarawan muslim kelahiran Tunisia yang mengarang Muqaddimah(1377), OswaldArnold Gottfried Spengler (1889-1936) sejarawan berkebangsaan Jerman pengarang The Decline of The West(1918, 1922), dan José Ortega y Gasset(1883–1955) sejarawan berkebangsaan Spanyol pengarang The Revolt of the Mass(1930). Diperkirakan tiga sejarawan ini memberi pengaruh paling besar terhadap pemikiran sejarah spekulatif Gus Dur. Khususnya Jan Romein, yang disarankan Gus Dur agar dibaca oleh para santrinya.

Menurut Jan Romein (tepatnya menurut pembacaan Gus Dur), sejarah bangsa-bangsa di dunia secara umum mengikuti sebuah Pola Kemanusiaan Umum (PKU). PKU memiliki tanda-tanda: keyakinan agama tradisional, jalan hidup masyarakat agraris dan kekuasaan besar sang raja. Ketika krisis moral menimpa umat manusia pada abad ke-6 sebelum masehi, terjadi dua perbedaan respon. Semua bangsa pada umumnya merespon krisis moral dengan penyegaran moral. Hal ini ditandai dengan hadirnya sang moralis yang dihormati dan dijadikan panutan oleh bangsa tersebut. Misalnya Akhnaton di Mesir, Zarathustra di Persia, Budha Gautama di India, serta Laotse dan Konghucu di daratan Cina. Para moralis ini mengembalikan dunia kepada tradisionalismenya, dengan memperkuat “keseimbangan” (MSN, 96-97; IIAIK, 118)

Pengecualian terjadi pada bangsa Eropa. Sejak filosof Yunani Kuno, mereka memberi respon berbeda, yakni menyimpang dari PKU, dengan mengajukan rasionalitas sebagai ukuran tindakan manusia. Melalui supremasi hukum dalam PaxRomana, pengorganisasi rapi Gereja Katolik, dilanjutkan era pencerahan, terus ke arah rasionalitas yang bersandar pada pendekatan empirik, revolusi industri, dan berlanjut abad ideologi hingga abad ke-20 yang membawa ketidakpastian ideologis. Rasionalitas mengalahkan PKU atas nama “kemajuan”. Akibatnya sebagaimana dinyatakan Gus Dur dengan mengutip OswaldSpengler dalam buku The Decline of The West, kejayaan peradaban Barat dalam abad ke 20 ini mulai mengalami keruntuhan (Untergang).

Selanjutnya kata Gus Dur, dengan penyimpangan PKU memaksa Eropa memaksa dunia untuk menemukan PKU II (TweedeAlgemeeneMenselijk Patron), yang belum dikenal bentuk finalnya. (MSN, 95-98; IIAIK, 117).

Sementara itu, Toynbee berpandangan bahwa sejarah semua bangsa ditentukan oleh suatu proses, yakni tantangan (challenge) dan jawaban (response). Menurut Toynbee (menurut Gus Dur tepatnya), kerajaan-kerajaan besar secara umum berada di tepi sungai karena kemampuan mereka menjawab tantangan yang ditimbulkan oleh sulit dan beratnya kondisi geografi daerah-daerah tepi sungai. Jawaban yang tepat masyarakat setempat dalam menaklukkan kondisi daerah-daerah tepi sungai, selanjutnya memupuk kemampuan dan kekuasaan kerajaan-kerajaan itu menjadi besar dan kuat (MSN, 95-98). Gus Dur juga tertarik pada pendapat Toynbee tentang Oikumene Islam, yang menjadi salah satu dari enam belas oikumene yang menguasai dunia. Oikumene Islam menginspirasi sejarah spekulatif versi Gus Dur mengenai kosmopolitanisme peradaban Islam.

Pola-pola sejarah yang dikemukakan oleh dua sejarahwan dunia ini memberi pengaruh masing-masing pada pemikiran Gus Dur. Dari Romein, Gus Dur belajar mengenai pentingnya rasionalitas yang mendorong kemajuan Eropa, yang kiranya dalam pandangan Gus Dur kemajuan sebenarnya juga dapat dicapai tanpa mesti meninggalkan PKU. Koeksistensi rasionalitas dan keyakinan agama dapat diwujudkan dalam dunia nyata yang baru (terlihat  dalam “Traktat”). Jan Romein juga berpengaruh besar terhadap Gus Dur dalam membawa pandangannya mengenai Pancasila sebagai jalan alternatif ketiga dari teokrasi dan sekularisme (IIAIK, 118). Kiranya inilah PKU II ala Gus Dur yang dibutuhkan Eropa abad ini.

Adapun dari pola sejarah yang dikemukakan Toynbee, proses “tantangan” dan “jawaban” memiliki arti yang mendalam bagi Gus Dur. Cukuplah kiranya paparan mengenai perjuangan Gus Dur di era turbulens di muka menjadi gambaran. Adapun upaya Gus Dur yang menguji validitas keberlakuan sejarah spekulatif Toynbee yakni mengapa kenyataannya tidak semua kerajaan besar berada di tepi sungai, dan bagaimana mengukur besar-kecilnya tantangan itu (MSN, 95-98), adalah satu penyataan “konterfaktual” yang ditujukan untuk mempersoalkan generalisasinya yang terlalu luas. Sama sekali ia tidak dimaksudkan untuk menolak pola proses “tantangan” dan “respons” di atas (pernyataan atau sejarah konterfaktual juga diajukan Gus Dur dalam membaca sejarah Islam dan sejarah nusantara).

Justeru yang menarik adalah bagian-bagian mendasar dari filsafat sejarah Toynbee yang tidak dinyatakan secara eksplisit, namun yang paling berpengaruh terhadap pemikiran dan pengalaman hidup Gus Dur. Kiranya pengaruh ini terlihat dalam sejumlah aspek, diantaranya dari segi metode yang secara implisit nampak dalam sejumlah makalah dan esei kolomnya. Tak jauh berbeda dari Toynbee, Gus Dur menggunakan metode berbahan dasar amat variatif.

Pertama sejarah, yang mengamati atau membaca peristiwa-peristiwa partikular di masa lalu. Misalnya membaca buku-buku filsafat sejarah dunia, sejarah lisan, bahkan deskripsi mendalam atas pengamatan atau pengalaman hidup sehari-hari (dalam esei “pesantren sebagai subkultur” dan esei-esei “antropologi kyai”). Kedua sains, yang berusaha membangun yang universal atau hukum-hukum umum dari pengamatan atas kesamaan-kesamaan dari yang partikular.

Selanjutnya ketiga, narasi puitik, yang berasal dari kisah novel, drama film atau drama pewayangan, yang dimanfaatkan untuk menyingkap kebenaran moral dari relasi-relasi antar personal dalam dunia nyata. Misalnya kisah novel “pendeta detektif” di muka, atau kisah-kisah dalam dunia pewayangan. Dan yang keempat, intuisi, yang menyediakan wawasan  mengenai keseluruhan semesta dan hakikat waktu yang subjektif sifatnya yang tak terlalu memperdulikan abstraksi analitik. Perlu dinyatakan pula wawasan intuitif Gus Dur secara dominan berkat pengaruh “sufisme” atau “fiqih sufistik” (terlihat nanti dalam “Traktat”), sehingga bagi masyarakat modern yang terbiasa dalam rasionalitas instrumental akan memperoleh kesan Gus Dur sebagai pribadi yang membingungkan dan kontroversial.

Selain buku A Study of History, kiranya Gus Dur juga membaca sejarah Yunani melalui Toynbee yang menulis Tragedy of Greece(1920). Tragedi adalah situasi atau pengalaman yang sering berulang (leitmotif) yang dalam pengertian bangsa Yunani dipahami sebagai relasi yang sangat rumit (complicated) dan detil antara para pemain, keadaan, beserta akibat-akibat yang diharapkan maupun yang tidak diharapkan. Toynbee menyadari bahwa kenyataan peradaban saling berinteraksi dan saling pengaruh-mempengaruhi, yang pada akhirnya akan melahirkan bentuk dan warna baru yang lebih tinggi. Gus Dur nampaknya juga menimba wawasan ini darinya (terlihat dalam “Traktat”).

Pengaruh Toynbee juga dijumpai dalam masalah etik, spiritualitas dan agama. Gagasan yang terakhir ini terkait erat dengan pandangan Toynbee tentang tahap-tahap perkembangan sejarah dunia. Menurut Toynbee, sejarah berkembang dalam empat tahap: kelahiran (genesis), pertumbuhan (growth), kemacetan (breakdown), dan kehancuran (disintegration). Namun bukan berarti sejarah akan berkembang secara siklis atau sekadar repetisi belaka yang berjalan secara pasti, melainkan satu gerak berulang maju-mundur yang didasarkan pada kemampuan merespon tantangan. Kemampuan individu atau masyarakat dalam menjawab tantangan secara tepat akan segera mendorong roda sejarah masyarakat itu bergerak maju, dan sebaliknya.

Gus Dur mengambil hikmah dari pola tantangan dan respons, juga terinspirasi oleh gerak maju non-repetisi tersebut. Hanya saja, bagi Gus Dur, kekhasan budaya dominan yang ada dalam diri suatu masyarakat atau bangsa yang bersangkutan akan mempengaruhi “corak” atau karakteristik umum dari hasil proses tantangan-respons. Corak ini pula yang pada gilirannya memberi bentuk suatu peradaban yang sifatnya partikular dan lebih sempit (dalam “Traktak” akan muncul dari corak keislaman dan bentang wilayah jangkauan peradabannya).

Sebagaimana Toynbee, Gus Dur kiranya juga memberi arti penting peran “individu” dalam menjawab tantangan kesejarahan (dapat dilihat berdasarkan narasi antropologi kyai dan narasi lain mengenai Kiai Achmad Siddieq, Gus Miek, RomoMangun, dll). Digambarkan oleh Toynbee bahwa aktor penggerak sejarah peradaban secara umum memiliki “personalitas kreatif” yang menyerupai pribadi mistik seorang “pemimpin kharismatik” dengan kemampuan mendiagnosa masalah. Namun yang juga tak kalah penting lagi, menurut Toynbee, aktor sejarah harus menjalani tiga fase hidup: (a) fase penempaan diri, nyepi; (b) fase liminalitas; dan (c) fase integrasi sosial. Setelah fase penempaan diri yang berhasil membawa “mutasi kreatif” dalam dirinya, sang aktor lalu terdorong untuk mentransfer “mutasi kreatif” itu ke tubuh masyarakat secara luas. Pekerjaan ini penuh risiko. Jika gagal mengubah lingkungan masyarakatnya, ia akan berada dalam hantaman bahaya atau diasingkan oleh inertia sosial yang belum bermutasi. Dan jika sukses, maka akan terjadi mimesis (peniruan) dalam masyarakat (dan secara otomatis pengikutnya) dan mendorong maju peradaban. Namun demikian, sayangnya, menurut Toynbee, mimesis sosial ini dapat berlangsung separoh atau hanya di level permukaan, dan sifatnya hanya pura-pura belaka, tanpa mutasi kreatif yang jenuin dan utuh dalam diri masyarakat. Dan bila hal ini terjadi, maka transformasi terancam macet dan gerak maju peradaban akan gagal.

Toynbee mengamati bahwa semua sejarah peradaban telah gagal memberi kedamaian dan tatanan social yang berlangsung lama, abadi. Misalnya peradaban Yunani gagal meskipun ditopang filsafat dan sains. Bangsa Barat modern juga bergantung pada sains dan filsafat; dengan sains mereka menguasai alam fisik, dengan filsafat mereka menguasai hasrat secara intelektual sehingga sifatnya dapat terdiskoneksi dan lemah. Sains dan intelek juga punya “sisi gelap”, yakni arogansi dan kebanggaan yang eksesif, tempat munculnya kebusukan dan kejahatan. Tragedi, perang, dan penderitaan umat manusia tetap terus berjalan. Toynbee akhirnya berkesimpulan bahwa ada yang hilang dari peradaban-peradaban itu, yakni etika. Yang dimaksudkan bukan filsafat etika yang sekadar diolah oleh rasio, melainkan ditopang oleh kebersihan hati yang memiliki bela rasa spiritual (spiritual compassion).

Sebagaimana Toynbee, individu-individu yang telah “bermutasi kreatif” dan yang memiliki “spiritual compassion” macam ini juga punya arti penting di mata Gus Dur. Mereka yang punya sejenis “kedalaman rasa” atau sikap bela-rasa kepada orang lain yang lemah, melarat, marhaen, mustadhafin, madzlumin dan proletar. Perihal “kedalaman rasa” ini telah disinggung pertama kalinya oleh Gus Dur pada tahun 1974 dalam esei panjang “Pesantren sebagai Subkultur”. Selanjutnya melalui kolom Tempo, 17 Juni 1978, ia menjabarkan pokok ini dalam “Moralitas: Keutuhan dan Keterlibatannya”, dan dua bulan kemudian kontekstualisasi gagasan itu ditulis pada halaman majalah yang sama berjudul “Demokrasi Haruslah Diperjuangkan” (12 Agustus 1978). “Kedalaman rasa” pula yang menyatukan erat antara tiga sosok sebangsa berbeda agama: Gus Dur, RomoMangun dan Ibu Gedong. Narasi “antropologi kyai” juga mesti ditempatkan dalam konteks bela-rasa ini.

Pola Sejarah Islam

Dalam artikel “Universalisme Islam dan Kosmopolitanisme Peradaban Islam” (1988), Gus Dur melukiskan betapa penting peran individu-individu dalam sejarah peradaban Islam. Suatu masa sejarah sejak awal Nabi Muhammad SAW melakukan pengorganisasi sosial di Madinah hingga munculnya para ensiklopedis Muslim awal pada abad ketiga hijriah. Masa ini juga ditandai oleh saling serap antara peradaban-peradaban yang lain di sekitar dunia Islam dari sisa-sisa peradaban Yunani kuno hingga peradaban anak benua India.

Pada masa-masa emas peradaban tersebut muncul individu-individu seperti Abu Hasan Al-Asyari, Abu Mansur Al-Maturidi, dan Al-Baqillani yang melahirkan ilmu kalam skolastik dari kaum Sunni dalam rangka merespon secara dialektik pandangan-pandangan kaum Mu’tazilah. Individu-individu lainnya yang berperan dalam suatu kontinuitas sejarah peradaban adalah Imam Hasan Al-Basri yang ahli tasawuf dan sekaligus ahli bahasa, Imam Al-Khalilibn Ahmad al-Fadahidi yang filolog dan peminat filsafat Yunani, Imam Syafi’i yang mujtahid di bidang hukum fiqh, dan lain-lainnya.

Situasi awal yang menunjukkan dialektika budaya dan pemikiran secara bebas  antara Mu’tazilah dan Sunnidiatas, dalam pandangan “sejarah konterfaktual” Gus Dur, merupakan cerminan peradaban Islam yang nyata berwatak kosmopolit yang “tidak memunculkan hardikan atau tuntutan legal-yuridis, melainkan sebagai perdebatan ilmiah yang tidak mengambil sikap mengadili atau menghakimi.  Baru ketika kemapanan masyarakat Islam mengambil tindakan melarang perdebatan ilmiah dan sembari memproklamasikan ajaran-ajaran Al-Asy’ari dan kawan-kawan sebagai kebenaran ajaran Islam satu-satunya, watak kosmopolitan dari peradaban Islam mulai terputus dengan sendirinya (IKNITK, 10-11).

Dalam pandangan Gus Dur bila suatu peradaban juga diukur oleh kehebatan teknologi, keagungan arsitektural, ketinggian hasil karya seni dan sastra, dan sumbangannya pada ilmu pengetahuan, maka peradaban Islam juga manifest dalam bidang-bidang tersebut. Kota-kota dunia Islam masa lampau diwarnai gedung-gedung megah berarsitektur indah. Dalam ilmu pengetahuan ada Al-Khawarismi yang ahli matematika dan astronomi, dan Ibnu Tufail yang ahli filsafat dan kedokteran. Dalam bidang sastra, muncul individu-individu seperti Abunawas, Al-Jahiz, Abil Ala al-Ma’arri dan al-Rumi sang penyari sufi yang disegani, Al-Kindi yang ahli dalam bidang logika, aritmatika, astrologi geometri, kedokteran, dan lain-lain. Dan masih banyak lagi sastrawan dan ilmuwan-ilmuwan Islam yang memberikan sumbangan besar bagi peradaban Islam bahkan peradaban Eropa.

Apa yang hendak diungkap dari fakta sejarah “konterfaktual” versi Gus Dur dari dunia Islam masa lampau bagi peradaban dunia modern masa kini?

Jawabannya adalah agama dan masyarakat Islam yang saleh dapat membangun peradaban yang begitu megah bagi peradabannya bahkan membawa pengaruh hingga lain benua. Keluhuran spiritual dapat melahirkan masyarakat yang beradab sekaligus kemegahan material. Peradaban Islam masa lampau benar-benar berwatak kosmopolitan, diantaranyatermanifestasi dalam bentuk: hilangnya batasan etnik berupa interaksi dan pergaulan tanpa diskriminasi, kuatnya pluralitas budaya yang saling menghormati, heterogenitas politik tanpa permusuhan, adanya dialog yang bebas dan saling menghargai, dan kehidupan beragama yang eklektik yang ditimba dari keluhuran peradaban-peradaban yang pernah dilahirkan oleh umat manusia. Soal peradaban Islam tersebut kini runtuh adalah cerita yang lain, karena setiap peradaban memang selalu mengalami fase jatuh bangun, sebagaimana peradaban Yunani, dan lain-lainnya seperti dicatat oleh para sejarawan dunia, diantaranya oleh Ibnu Khaldun mengenai peradaban Islam.  

Gus Dur sendiri tak dapat diragukan lagi merupakan pembaca Muqaddimah yang dikarang oleh Ibnu Khaldun, seorang sejarawan yang peletak mula satu sistem sejarah spekulatif dari dunia Islam kelahiran Tunisia. Karyanya dipuji oleh Toynbee sebagai “karya agung yang belum tertandingi oleh otak cemerlang dari ruang dan waktu manapun”, sekaligus “bapak pendiri ilmu sosial positif, historis dan benar-benar saintifik”. Kiranya yang dikagumi oleh Gus Dur dari sosok Ibnu Khaldun adalah sikap kejujuran ilmiahnya dan keteguhan spiritualnya sebagai seorang muslim. Dari sisi kejujuran ilmiahnya, ia bersikap realistik dalam mengamati manusia dan masyarakat, kehidupan social dan politik. Di sisi yang lain, sebagai muslim, Ibnu Khaldun juga mengetahui kemana tujuan sejati manusia dan masyarakat seharusnya diarahkan.

Peradaban atau kebudayaan, bagi Khaldun, berpusat di sekitaran kota yang mula-mulanya berbudaya primitive yang diikat solidaritas kesukuan. Lalu masyarakat primitive ini semakin besar dan maju, yang lalu dibaca oleh Gus Dur dalam konteks kekinian semakin diikat oleh kesadaran dan keterikatan senasib sebagai warga bangsa yang satu. Lalu karena bermewah-mewah ria hingga lupa diri, peradaban bangsa itu pada akhirnya hancur.

Gerak siklis peradaban ini digambarkan oleh Khaldun dalam lima tahap, yang mencerminkan kekuasaan teokrasi Islam pada jamannya (abad ke-14 M) Pertama, periode pemapanan berbasis solidaritas keluarga dan agama, yang penting untuk memelihara negara. Kedua, penguasa memonopoli kekuasaan dengan menggusur rekan-rekan yang awalnya pembentuk solidaritas alamiah yang tidak berdasarkan agama maupun kesukuan, dan memperlakukan birokrasi dan tentara sebagai instrument kekuasaan; ketiga, penguasa hanya melayani kebutuhan dirinya sendiri, bermewah-mewah dengan uang pajak untuk mempercantik kota, dan membangun ekonomi kelas menengah, pengembangan sains dan seni, dan memperlakukan mereka sebagai patron proyek; keempat, penguasa berpuas diri seolah kehidupan mewah itu berjalan abadi; dan terakhir kelima, pemerintah hidup royal dan boros, solidaritas alamiah hilang, birokrasi dan tentara tidak lagi loyal, pajak naik untuk memuaskan kemewahan penguasa, masyarakat manja dan makin lemah, dan putus asa. Wilayah terdisintegrasi, muncul intrik dan saling khianat dan dijajah oleh bangsa lain.

Menurut Khaldun, gerak peradaban yang jatuh-bangun tersebut tidaklah bersifat mutlak atau selalu suram macam itu. Sebagaimana diulas Gus Dur di muka, gambaran pemerintahan teokratik Islam oleh Khaldun berbeda dengan masa-masa awal peradaban Islam. Pada masa Ibnu Khaldun, pemerintahan teokratik menjauh dari keluhuran budi spiritual dan cenderung materialistic, rakus dan korup. Oleh karena itu, kiranya dapat dikatakan bahwa bila masyarakat Islam ingin menghindari kutukan sejarah siklis itu, maka mereka harus mengikuti “hukum Tuhan” dan keluhuran rohani, serta menghindari gaya hidup negatif tersebut. Jika hal itu dipenuhi, maka peradaban Islam akan abadi dan tidak akan jatuh bangun lagi.

Kiranya poin terakhir ini utamanya yang ditimba hikmahnya oleh Gus Dur. Bahwa peradaban suatu bangsa dapat jatuh dan bangun, karena kehampaan spiritual, pengabaikan keimanan atas “hukum Tuhan” dan kehilangan watak kosmopolitannya. Adapun “hukum Tuhan”, nanti akan dimaknai oleh Gus Dur  secara baru menurut tradisi penerapan fiqh-sufistik dalam konteks kebutuhan yang baru sesuai trend sejarah kontemporer.

Gus Dur menggaungkan pandangannya sebagai berikut: “Salah satu satu syarat mutlak bagi kebangkitan kembali sebuah peradaban dunia sudah terpenuhi oleh peradaban Islam, yaitu persambungan elemen-elemen kehidupannya, sehingga kerangka tangguh bagi kebangkitan kembali sendiri.

Elemen-elemen itu sebagaimana digambarkan dari persambungan warisan material yang begitu megah, kemudian diantarkan oleh keagungan rohani yang sudah lestari ke gerbang kebangunan kembali oleh kelengkapan yang telah berkembang dalam dirinya, membentuk sekuen-sekuen/bagian-bagian yang berurutan dari gambaran terpenuhinya persyaratan kebangkitan kembali peradaban Islam” (INKITK, 17).

Kelengkapan-kelengkapan yang dimaksudkan Gus Dur di atas tidak lain dari pada mewujudkan kembali ajaran-ajaran Islam dalam bidang hukum agama (fiqh), keimanan (tauhid) dan etika (akhlaq) yang merupakan fondasi kepedulian atas kemanusiaan (al-insaniyyah). Adapun keagungan rohani yang sudah lestari kiranya dimaksudkan sebagai tradisi luhur yang hidup di masyarakat lokal seluas wilayah persebaran agama Islam yang memberi warna bagi kekhasan perwujudan ajaran Islam itu sendiri. Di wilayah Nusantara misalnya, bagian dari persambungan sekuensi sejarah Islam itu dimainkan oleh wali sogo dan dilanjutkan oleh pesantren hingga dewasa ini.

Pola Sejarah Nusantara

Kiranya pada bagian ini tak perlulah diuraikan detil-detil sejarah gelombang perkembangan Islam dan persambungannya dari tempat asalnya,  persinggahan-persinggahannya hingga kawasan nusantara. Sejarah mengenai hal itu dapat dibaca dalam makalah Gus Dur berjudul “Asal Usul Tradisi Keilmuan Pesantren” yang ditulis pada 1984 (MT, 213-231) atau bacaan-bacaan yang lain. Namun dari makalah itu, Gus Dur menggarisbawahi inti tradisi Islam yang kenyal-lentur dan moderat di Indonesia, yakni kentalnya orientasi fiqih-sufistik yang manifestasinya bertumpang tindih dengan pandangan mistik orang Jawa atau penduduk setempat.

Yang paling relevan dalam kerangka tulisan ini adalah pembacaan Gus Dur mengenai gerak sejarah nusantara secara keseluruhan melalui proses dialektika dimanakeagungan rohani yang sudah lestari, Islam dan kebangsaan Indonesia berpadu di dalamnya. Dalam dialektika sejarah (berjalan melalui proses “challenge” dan “response”) itu Gus Dur menggambarkan bahwa pada akhirnya nilai-nilai luhur tetaplah tahan banting, liat, lestari dan melahirkan peradaban baru. Ini terjadi tidak hanya terbatas pada dialektika “pertemuan/pertempuran antara Kerajaan Hindu Kalingga di Jawa Tengah dan Kerajaan Syailendra yang beragama Budha” yang akhirnya melahirkan paham campuran Hindu dan Budha (Bhairawa) dan berdirinya Kerajaan Singosari yang bertradisi Bhairawa(MSN, 1-4). Dialektika juga berlangsung antara antara Islam dan Bhairawa sendiri (MSN, 17-29) serta Islam dan nasionalisme di era modern. [Dalam catatan sejarah tiga kerajaan ini, Gus Dur mengetahui adanya “blankspots”, yang memungkinkannya untuk berspekulasi. Mengenai sejarah spekulatifnya, dapat dibaca dalam Membaca Sejarah Nusantara].

Dalam pengantar editorial, untuk buku Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia (2009), berjudul “Musuh Dalam Selimut” Gus Dur kembali menguraikan proses dialektika tersebut. “Satu hal yang unik di Nusantara adalah, sekalipun pertentangan semacam ini terjadi berulang-ulang sejak masa nenek moyang bangsa Indonesia, ajaran spiritual dan nilai-nilai luhur jiwa-jiwa yang tenang tetap dominan di tanah air kita. Prinsip “Bhinneka Tunggal Ika” MpuTantular misalnya, telah mengilhami para penguasa Nusantara dari jaman Hindu-Budha hingga dewasa ini; dan Sunan Kalijogo –yang terkenal akomodatif terhadap tradisi lokal—mendidik para penguasa pribumi tentang Islam yang damai, toleran dan spiritual. Melalui para muridnya, antara lain Sultan Adiwijoyo, Juru Martani, dan Senopati ingAlogo, Sunan Kalijogo berhasil menyelamatkan dan melestarikan nilai-nilai luhur tersebut yang manfaatnya tetap bisa kita nikmati hingga dewasa ini” (ILN, 14-15).

Diuraikan pula dalam pengantar itu, dialektika tersebut berlanjut hingga proses kelahiran dan tumbuhnya kesadaran kebangsaan. Pertentangan-pertentangan  yang terjembatani lewat proses dialog, yakni antara Islam dan nasionalisme, berhasil melahirkan suatu konsep negara yang bukan berbentuk Negara Islam dan bukan sama sekali menghilangkan arti Islam sendiri. Gus Dur menyebut keterlibatan sebagian tokoh dalam dialektika sejak tahun 1919, seperti H.O.S. Tjokroaminoto, KH. HasjimAsy’ari, dan KH. WahabChasbullah, serta Soekarno (masih usia 18 tahun, menantu Tjokroaminoto) yang ikut aktif dalam pertemuan mingguan. Nahdlatul Ulama (NU) bahkan dalam Muktamar Banjarmasin pada tahun 1935 memutuskan untuk tidak mendukung terbentuknya Negara Islam, melainkan suatu masyarakat Islami yang membolehkan pendirian Negara bangsa.  Kesadaran tersebut, dalam kisah Gus Dur, lalu diwariskan ke generasi berikutnya seperti Abdul Wahid Hasyim (putra KH. HasjimAsy’ari), KH. A. Kahar Muzakkir (Yogyakarta, tokoh Muhammadiyah), dan H. Ahmad DjoyoSugito (tokoh Ahmadiyah). Sepuluh tahun kemudian setelah muktamar NU, Soekarno dan Muhammad Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI, membentuk sebuah negara bangsa yang kental nilai-nilai keagamaan, budaya dan tradisinya dengan penghargaan tinggi terhadap keanekaragaman masyarakat.

Gus Dur pun mengemukakan betapa dialektika sejarah itu telah membentuk pencapaian kesadaran bersama yang lebih tinggi. “Gagasan Negara bangsa ini adalah buah dari pahit getir pengalaman sejarah Nusantara sendiri. Pada satu sisi, sejarah panjang Nusantara yang pernah melahirkan dan mengalami peradaban-peradaban besar Hindu, Budha, dan Islam selama masa kerajaan Sriwijaya, Sailendra, Mataram I, Kediri, Singosari, Majapahit, Demak, Aceh, Makasar, Gowa, Mataram II dan lain-lain telah memperkuat kesadaran tentang signifikansi melestarikan kekayaan dan keragaman budaya dan tradisi bangsa. Sementara pada sisi yang lain, dialog terus menerus antara Islam sebagai seperangkat ajaran agama dengan nasionalisme yang berakar kuat dalam pengalaman bangsa Indonesia telah menegaskan kesadaran bahwa Negara bangsa yang mengakui dan melindungi beragam keyakinan, budaya dan tradisi bangsa Indonesia merupakan pilihan tepat bagi bangunan kehidupan berbangsa dan bernegara. Pepatah MpuTantular, ajaran dan gerakan Sunan Kalijogo, serta keteladanan lain semacamnya dengan tepat mengungkapkan kesadaran spiritual yang menjadi landasan kokoh Indonesia modern dan melindungi dari perpecahan sejak proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945” (ILN, 16).

Selanjutnya Gus Dur juga menunjukkan bagaimana jalan sejarah itu  berlangsung melalui tragedi demi tragedi. “Dengan segenap hubungan fluktuatif yang terjadi, semua ini bukanlah sebuah proses yang mudah, ini merupakan fakta historis yang harus kita sadari dan pahami… Beberapa periode sejarah Nusantara berlumur darah akibat konflik yang terjadi –antara lain- atas nama agama… Memang ada relasi fluktuatif antar agama (c.q. Islam) dengan nasionalisme (c.q. Pancasila). Ada kelompok yang ingin mendirikan Negara Islam melalui konstitusi (misalnya dalam Majlis Konstituante) dan lainnya melalui kekuatan senjata (seperti dalam kasus DI/TII). Namun selalu ada mayoritas bangsa Indonesia (muslim dan non-muslim) yang setuju dengan Pancasila dan memperjuangkan gagasan para Pendiri Bangsa. Semua ini menjadi pelajaran sangat berharga bagi kesadaran tentang pentingnya bangunan Negara bangsa.” (ILN, 17).
Pembacaan Gus Dur mengenai sejarah nusantara dan sejarah kebangsaan tersebut menggarisbawahi tiga hal penting. Proses “perubahan dan kesinambungan” telah berlangsung dalam gerak sejarah lama (1). Meskipun tragedi demi tragedi terjadi (ada gaung suara Toynbeedisini), namun perkembangan itu mesti dilihat secara keseluruhan sebagai bertahan dan menangnya spiritualitas jiwa-jiwa yang tenang (al-nafsal-muthmainnah) dan manifestasinya dalam dunia yang berbeda dan yang senantiasa berubah (2). Dan bila hal ini dihubungkan kembali dengan pandangan Jan Romein, maka pola sejarah nusantara selalu ingin berada dalam jalur dan tidak menyimpang dari Pola Kemanusiaan Umum (3).
Pola sejarah nusantara inilah kiranya yang memandu Gus Dur secara intuitif dalam bertindakan secara menyejarah. Mulai dari dukungan terhadap penerimaan asas tunggal Pancasila, melerai pertengkaran “modern dan tradisional” dan pertentangan “Barat dan Timur”, mengatasi perdebatan mengenai nilai-nilai keindonesiaan, hingga pendirian Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sebagai partai terbuka bagi muslim maupun non-muslim yang tidak membawa warna “NU murni” (MSN, 18-19).
Trend-Trend Kontemporer
“Pengalaman adalah guru yang terbaik”, begitu kata orang. Mengenai hal ini Gus Dur memiliki ungkapan yang khas sebagaimana dikutip di bawah judul tulisan ini. “Guru spiritualitas saya adalah realitas, dan guru realitas saya adalah spiritualitas”. Kehidupan manusia (beragama maupun yang tidak beragama) memang ada di dunia nyata yang dipenuhi tindakan-tindakan beragam manusia, dan bukan hanya di dunia ideal dan impian-impian belaka. Karena itu kehidupan dengan seluruh dinamikanya harus juga diperhitungkan sebagai realitas sejarah.
Diantara kenyataan yang tidak dapat dielakkan adalah keberlakuan Deklarasi Universal HAM Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun 1948 yang telah diratifikasi oleh negeri-negeri muslim. Juga gelombang perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan dan bangkitnya nasionalisme yang dianut oleh bangsa-bangsa pascakolonial. Selain itu juga demokratisasi, meningkatnya hubungan antarbangsa yang bersifat interdependen, menguatnya tuntutan penegakan kedaulatan hukum, kesetaraan, dan perlindungan terhadap martabat manusia. Kenyataan-kenyataan tersebut harus diterima, sebab “sikap menolak, hanya akan berakibat seperti sikap burung onta yang menolak kenyataan dan menghindarinya, dengan bersandar kepada lamunan indah tentang keselamatan diri sendiri. Sikap seperti ini, hanya akan berarti menyakiti diri sendiri dalam jangka panjang” (IIAIK, 121-123).
Kiranya Gus Dur memandang trend-trend yang diajukan oleh kenyataan sejarah ini sebagai bagian dari tantangan yang harus direspons oleh masyarakat Islam yang memiliki “kelengkapan” untuk hal itu. Kemampuan melakukan reinterpretasi ajaran melalui perangkat-perangkat yang dimiliki (fiqh,ushulfiqh, qawaidulfiqh) tidak saja akan menentukan nasib masa depan masyarakat Islam sendiri, tetapi juga untuk menemukan kembali watak universalitas Islam dan relevansinya yang shalihunlikullizamâninwamakânin.

Trend sejarah lainnya yang dibaca secara jeli oleh Gus Dur adalah berkembangnya moralitas politik suatu bangsa yang ditopang oleh ajaran-ajaran umum semua agama. Dalam pandangan Gus Dur, ajaran moral agama dapat menjadi penopang bagi etika politik bangsa, sebagaimana peran yang  dijalankan dalam pemerintahan oleh partai-partai di luar negeri yang disokong oleh organisasi keagamaan. Ia mencontohkan Soka Gakkai, sebuah organisasi Buddha terbesar di dunia, yang dalam tiga dasawarsa terakhir mendukung Partai Komeito (partai bersih) yang mitra junior Partai Demokratik Liberal di Jepang.

Demikian pula di India, RSS (RashtriyaSwayamsevakSangha) sebuah organisasi keagamaan Hindu terbesar yang didirikan pada tahun 1925, mendukung BharatyaJanathaParty(BJP), dan juga Jam’iyyahal-TaqribBainaal-Madzâhib, yang pernahmendukung Presiden Iran Mohammad Khatami. Partai-partai CDU (Christian Democratic Union, Uni Demokratik Kristen) di Jerman dan sejumlah negara lain juga diilhami oleh nilai-nilai etika Gereja Kekristenan.

Atas dasar kesadaran itu pula bahwa agama harus berfungsi nyata dalam kehidupan, maka Gus Dur pun mendirikan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang disokong oleh organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (IIAIK, 24, 55, 384). Kemungkinan-kemungkinan di masa depan bahwa partai-partai yang diilhami moralitas agama ini dapat berperan dalam kerjasamanantar-bangsa dan perdamaian dunia kiranya kian terbuka lebar. Dengan penuh keyakinan, Gus Dur pernah mengatakan: “Inilah yang membuat mengapa PKB (Partai Kebangkitan Bangsa) memiliki prospek sangat cerah sebagai pemenang mayoritas tunggal dalam pemilu Indonesia tahun depan. Ini tampak jelas bagi orang yang mengikuti dan mengamati komunikasi langsung antara PKB dan seluruh masyarakat bangsa Indonesia” (IIAIK, 387).

Sebelum tulisan ini ditutup, perkenankan saya menggarisbawahi pokok-pokok utama yang dapat ditarik hingga paragraf ini. Dalam perenungannya yang panjang, kiranya Gus Dur menemukan pesan-pesan moral dalam sejarah peradaban dunia sebagaimana dikemukakan oleh Jan Romein, Toynbee, dan Ibnu Khaldun. Pesan itu adalah pentingnya etika bersama yang lahir dari kedalaman rasa (compassion) yang berasal dari keyakinan agama masing-masingsebagai syarat penopang bagi peradaban masyarakat atau suatu bangsa untuk maju dan tak jatuh-bangun lagi.

Dalam kolom “Membaca Sejarah Lama (19)” (MSN, 98), Gus Dur menyadari bahwa tak ada kerangka filsafat sejarah yang dapat memberi kepastian memuaskan. Tapi bukan berarti dengan begitu semua kerangka pemahaman dan penafsiran atas sejarah perjalanan bangsa-bangsa ditolak. Sebab, dalam pandangannya, penolakan itu dapat “timbul dari sikap yang terlalu menganggap benar hal-hal yang sifatnya rasionalistik” semata. Selanjutnya Gus Dur berpendirian bahwa “sikap yang benar adalah memahami sebuah cara penafsiran yang tuntas untuk digunakan pada sebuah kasus saja dengan tidak menempuh cara generalisasi (ta’mim) apapun. Biarlah sejarah melakukan selebihnya, karena kita tidak puas dengan satu metode penafsiran pun”.

Pernyataan diataskiranyadapat dimaknai bahwa sejarah spekulatif Gus Dur tidak bersifat universal, melainkan partikular dan terbatas jangkauannya. Yakni suatu Peradaban Islam yang berwatak kosmopolitan yang hanya menjangkau bentangan wilayah Asia Tenggara hingga Marokko, yang nantinya akan berdampingan dengan Peradaban Indik dan Peradaban Sinetik. Apakah gerak menuju peradaban Islam yang baru ini sifatnya mutlak (inevitable), ataukah kontingen, Gus Dur menyatakan lewat kutipan yang berasal dari Ortega y Gassett bahwa “pada akhirnya, massa-lah yang menentukan segala-galanya”.

Penutup: Prediksi Sejarah

Pada tahun 1970an ada awal 1980an, Gus Dur menulis sebuah makalah berjudul “Kerangka Pengembangan Doktrin Ahlussunnah Wal Jamaah (Aswaja)” yang dimuat kembali dalam buku Islam Kosmopolitan: Nilai-nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (2007). Jika teks ini dapat dipandang sebagai kerangka programatikGus Dur bagi usahapengembangan Aswaja ala pesantren dan diproyeksikan untuk membentuk “Peradaban Islam” yang baru, maka tuntas sudah “Sang Penakluk” ini menuntaskan takdir sejarahnya dan menyediakan panduan (traktat) kepada pengikutnya.

Kini tinggallahkita,karena pada akhirnya manusia sendiri harus memilih (mengikuti “Traktat”) dan massa-lah yang menentukan segala-galanya (bagi terwujudnya peradaban yang diimpikan)! [Wallahua’lam]

Sumber Rujukan

GDMPZ = Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman. (Abdurrahman Wahid. Gus Dur Menjawab Perubahan Zaman: Warisan Pemikiran Abdurrahman Wahid. Dipengantari oleh JakobOetama dan diepilogi oleh A.S. Hikam. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010)
GDMKR = Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat (Abdurrahman Wahid. Gus Dur Menjawab Kegelisahan Rakyat. Dipengantari oleh JakobOetama. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2008)
IIAIK = Islamku, Islam Anda, Islam Kita (Abdurrahman Wahid. Islamku, Islam Anda, Islam Kita:Agama Masyarakat Negara Demokrasi. Dipengantari oleh M Syafi’i Anwar. Jakarta: The Wahid Institute, 2006)
IKNITK = Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan.  (Abdurrahman Wahid. Islam Kosmopolitan, Nilai-nilai Indonesia & Transformasi Kebudayaan. Dipengantari oleh Agus MaftuhAbegebriel. Jakarta: The Wahid Institute, 2007)
ILN = Ilusi Negara Islam. (Abdurrahman Wahid (ed.). Ilusi Negara Islam: Ekspansi Gerakan Islam Transnasional di Indonesia. Jakarta: The Wahid Institute, 2009)
KKAAW = Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahwan Wahid. (Abdurrahman Wahid. Kumpulan Kolom dan Artikel Abdurrahwan Wahid Selama Era Lengser. Dipengantari oleh KH. A. Mustofa Bisri. Yogyakarta: LKiS, 2002)
KKBS = Khazanah Kiai BisriSyansuri. (Abdurrahman Wahid. Khazanah Kiai BisriSyansuri: PecintaFiqih Sepanjang Hayat. Jakarta: Pensil-324, 2010)
KNMP = Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. (Abdurrahman Wahid. Kiai Nyentrik Membela Pemerintah. Dipengantari oleh Mohamad Sobary. Yogyakarta: LKiS, 2010)
MKK = Misteri Kata-Kata. (Abdurrahman Wahid. Misteri Kata-Kata. Jakarta: Pesin-324, 2010)
MSN = Membaca Sejarah Nusantara. (Abdurrahman Wahid. Membaca Sejarah Nusantara: 25 Kolom Sejarah Gus Dur. Dipengantari oleh KH. Mustofa Bisri. Yogyakarta: LKiS, 2010)
MT = Menggerakkan Tradisi. (Abdurrahman Wahid. Menggerakkan Tradisi. Dipengantari oleh Hairus Salim HS. Yogyakarta: LKiS, 2010)
SM = Sekadar Mendahului. (Abdurrahman Wahid. Sekadar Mendahului: Bunga Rampai Kata Pengantar. Dipengantari oleh Y.B. Mangunwijaya. Bandung: Penerbit Nuansa, 2011)
TTPD = Tuhan Tidak Perlu Dibela. (Abdurrahman Wahid. Tuhan Tidak Perlu Dibela. Dipengantari oleh Bisri Effendy. Yogyakarta: LKiS, 2011)
PNAK = Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. (Abdurrahman Wahid, Pergulatan Negara, Agama dan Kebudayaan. Depok: Desantara, 2001)
PPGD = Prisma Pemikiran Gus Dur. (Abdurrahwan Wahid. Prisma Pemikiran Gus Dur. Dipengantari oleh GregBarton dan Hairus Salim HS. Yogyakarta: LKiS, 2010)
Sumber Rujukan Lain:
Abdurrahman Wahid &DaisakuIkeda. Dialog Peradaban untuk Toleransi dan Perdamaian. Jakarta: Penerbit Gramedia, 2010.
Arnold J. Toynbee. A Study of History (1934-1961)
Arnold J. Toynbee&DaisakuIkeda. Perjuangan Hidup: Sebuah Dialog. Jakarta: P.T. Indira, 1987.
AviezerTucker (ed.). A CompaniontothePhilosophy of HistoryandHistoriography. UK: BlackwellPublishing Ltd,2009.
Ibnu Khaldun, Muqaddimah, Pasal 2. Terjemahan. Pustaka Al-Kaustar, 2001
M.C. Lemon.Philosophy of History: A Guide for Students. London: Routledge, 2003.
.