Menu Halal ala Seven Eleven

Oleh Ahmad Suaedy

Garis nasib tak dapat ditolak. Dua Ramadhan terakhir saya berada di negeri seberang. Tahun 2009 saya di Thailand dan tahun 2010 di Jepang.

Dua puluh hari pertama Ramadhan di Thailand, tiada masalah karena tinggal di Patani-yang mayoritas Muslim. Bahkan, saya menikmati menu buka dan sahur istimewa. Meski tinggal di asrama mahasiswa The Prince Songkhla University Pattani Campus, saya tak hanya bisa mencicipi masakan Melayu Thailand selatan yang lezat, tetapi juga disuplai buah-buahan super.

Kantin mahasiswa menyediakan durian montong yang dikupas dan dikemas dalam kotak plastik, ditambah buah-buahan Thailand lain. Itu menu makanan mahasiswa sehari-hari dengan harga terjangkau. Bukan hanya di Bangkok, sesungguhnya di hampir seluruh wilayah di Thailand, rakyat menikmati hasil pertanian berstandar tinggi. Ini, konon, berkat komitmen Raja Thailand pada pengembangan pertanian.

Sepuluh hari terakhir Ramadhan tahun lalu, saya sempat khawatir saat hijrah ke Bangkok. Di ibu kota Negeri Gajah Putih itu, penduduk Muslim-nya hanya 6 persen dan bermukim di semacam enclave.

Meski Thailand adalah negara monarki konstitusional dengan Buddhis sebagai agama resmi, saya menemukan gedung The Halal Science Center Chulalongkron University yang dilengkapi terjemahan Arab dan juga Thai. Di seberang gedung itu, terdapat aula besar dijadikan tempat food court. Di situlah mahasiswa dan sivitas akademika lain rehat mengisi perut. Sering kali tampak beberapa perempuan berkerudung dan pria berjenggot wajah Timur Tengah menyantap makanan di sana.

Tahun ini, saya ke Jepang. Dua puluh hari terakhir di Ramadhan, saya di Kyoto. Di kota nan indah ini, penduduk Muslim-nya mungkin kurang dari 1 persen. Mengapa mungkin? Jepang adalah negara yang tak peduli dengan agama penduduknya sehingga data statistik agama tak begitu penting!

Namun Jepang, juga Thailand, adalah bangsa yang terkenal fanatik dengan bahasa dan huruf khas masing-masing. Makanan kemasan pabrikan pun tidak menyediakan informasi ramuan masakan dalam huruf Latin dan bahasa Inggris.

Di Kyoto, anak saya nomor dua, Robith Basyarul Alam, setelah memilih-milih makanan kemasan di minimarket Seven Eleven, kesulitan mengenali makanan yang mengandung babi dan tidak, karena sepenuhnya bertulisan kanji. Akhirnya, dia harus bertanya kepada pelayan yang ternyata segera tanggap dan dengan ramah menjelaskan makanan yang mengandung babi dan tidak.

Mi kemasan yang sudah keburu dipilih anak saya pun digantinya dengan makanan kemasan yang lain. \"Arigatõgozaimasu, alias terima kasih,\" katanya.

Tidak ada yang sulit selain harus sering bertanya.

Ahmad Suaedy Direktur Eksekutif The Wahid Institute, Visiting Research Fellow, Kyoto University, Jepang

Tulisan ini dimuat di Kompas.com 9 September 2010