Oase Humor Itu Bernama Gus Dur

Pada 1960-an ada seorang sopir taksi di Jakarta yang mengantarkan penumpang asal Amerika Serikat (AS). Sang penumpang yang berpembawaan arogan itu kerap bertanya tentang bangunan-bangunan yang dilewati selama perjalanan. "Itu gedung apa?" tanya orang AS itu. "Oh itu Sarinah, pusat perbelanjaan termodern saat ini. Dibangun dalam waktu empat tahun," jawabnya.

"Wah, kalau di negeri saya hanya butuh waktu dua tahun. Lantas, itu gedung apa?" timpal sang penumpang. Sang sopir kali ini menjawab lebih lugas, "Itu Hotel Indonesia, dibangun hanya dalam waktu dua tahun." Lagi-lagi, bule itu menjawab pongah, "Kalau di AS, gedung seperti itu pasti sudah berdiri hanya dalam waktu satu tahun saja."

Sang sopir semakin kesal saja. Ketika melewati Stadion Senayan, kembali sang warga AS bertanya tentang bangunan yang dilewati taksi itu. Kali ini sang sopir menjawab kalem, "Wah, saya tidak tahu. Kemarin sih belum ada!"

Jangan salah, prolog di atas bukan cuplikan dari serial buku humor "Mati Ketawa....", atau kisah lucu yang dimuat media massa. Guyonan itu hanya salah satu saja dari serangkaian joke segar yang disampaikan mantan Presiden RI K.H. Abdurrahman Wahid alias Gus Dur pada "Talkshow Milad ke-65 Gus Dur: Halo-Halo Bandung Keur Gus Dur, Sebagai Bapak Bangsa" di Sasana Budaya Ganesha (Sabuga) Bandung, Minggu (28/8/2005).

Talkshow menghadirkan "pembedah" sosok Gus Dur cendekiawan muslim Dr. K.H. Jalaluddin Rakhmat dan sejarawan Dr. Ninna H. Lubis dengan moderator Setia Permana. Kegiatan tersebut digelar sekelompok warga Jabar yang dimotori Duddy S. Sutandi. Selain dialog, acara dimeriahkan dengan penampilan musik tasawuf oleh Dang Faturahman, terbang Mahmud, dan penyair Godi Suwarna.

Gus Dur memang sosok kontroversial dan multidimensi. Ia dikenal sebagai sosok kiai, tapi juga licin berkubang dalam perpolitikan nasional hingga akhirnya sempat menjadi presiden di negeri ini. Di sisi lain, ia juga sosok yang konsisten memperjuangkan kaum minoritas, meskipun untuk itu ia kerap dicap "kafir" oleh mereka yang tidak sepaham dengan pemikirannya.

Ungkapan-ungkapan Gus Dur yang cerdas tapi terkadang nyeleneh sulit dicerna, bahkan membuahkan pertanyaan lanjutan. Namun, pada akhirnya membuat bangsa ini mesti berpikir ulang tentang banyak hal yang sudah menjadi bagian "pengetahuan dan pemahaman" masyarakat.

Bagi sebagian kalangan pengkritiknya, humor-humor yang disampaikan Gus Dur adalah bentuk ketidakseriusan dan menggambarkan dirinya yang menggampangkan persoalan. Namun, justru bagi Kang Jalal--panggilan akrab Jalaluddin Rakhmat-- sense of humour yang tinggi justru menunjukkan kapasitas spiritual intelligence (SI) yang tinggi dari seseorang.

"Itu yang kemudian lama saya pelajari lewat literatur yang didapatkan, termasuk dari pakar psikologi Tony Buzan. Ciri kedua adalah selalu memunculkan unsur kebaruan dalam pemikirannya, dan ketiga adalah perilaku dan praktik keberagamaannya (religiositas) senantiasa menghargai pemeluk agama-agama lain. Itu semua terefleksikan oleh apa yang dilakukan oleh Gus Dur," ungkap Kang Jalal.

Bahkan, menurutnya, literatur lanjutan soal "kedudukan humor" dalam agama menunjukkan bahwa Rasulullah Muhammad s.a.w adalah sosok yang banyak bercanda. "Hal ini memupus bayangan saya selama ini bahwa seseorang yang cerdas secara spiritual mestilah sosok yang angker, berwibawa, dan tak banyak bercanda," ujarnya.

Bagi Kang Jalal, Gus Dur adalah sosok yang mendekonstruksi pemikiran masyarakat Indonesia yang sekian lama terpenjara dalam simbol. "Gus Dur orang yang sangat konsisten membela perbedaan pendapat. Ketika saya bersama teman-teman tidak mendapatkan tempat untuk merayakan Hari Assyura (diperingati oleh golongan Syiah, -red.), justru Gus Dur yang mempersilakan merayakannya di Masjid Ciganjur, kediamannya," tegasnya.

Demikian pula dalam kasus Ahmadiyah belakangan ini, Gus Dur melakukan pembelaan secara konsisten, sebagaimana dilakukannya pula pada penghayat aliran kepercayaan, kejawen, Sunda wiwitan, dan kalangan minoritas lainnya.

Satu hal "misterius" lain yang disinggung Kang Jalal adalah kebiasaan Gus Dur yang kerap tertidur dalam beberapa kesempatan acara, baik seminar, pertemuan, pengajian, dll. "Mulanya, saya sempat merasa saya kok tidak dihargai. Tapi, ketika Gus Dur mendapat kesempatan menjawab pertanyaan yang diajukan, jawaban sangat mendetail dan jauh melebihi orang yang 'tersadar' sekalipun," katanya.

Lantas, apa jawaban Gus Dur tentang kebiasaan "berhumor ria" itu? "Saya menghargai kejujuran Kang Jalal menyampaikan pendapat tentang saya. Tak penting apa yang disampaikannya itu betul atau tidak, tapi yang penting kejujuran. Bangsa ini hampir kehilangan kejujurannya," kata Gus Dur.

Humor, bagi Gus Dur adalah media untuk menyeimbangkan keadaan. "Sesuatu yang membuat kita tetap waras, tidak berlebihan ke kanan atau ke kiri. Mulanya mengumpulkan banyak joke itu sih tidak sengaja, pada waktu dulu masih nyantri bersama teman-teman. Ternyata, banyak hal di sekeliling kita yang sebetulnya dapat membuat kita tertawa dan menertawakan diri," tuturnya.

Jadi, tambahnya, banyak di antara humor-humor itu yang memang kejadian senyatanya. "Yang kemudian digali sebagai upaya untuk tetap membuat kita seimbang. Seperti humor tentang tidak batalnya orang yang tertidur di masjid bila bersandar pada tiang. Lantas ada yang bertanya, bagaimana kalau yang disandarinya orang. Itu kejadian sebenarnya," ujar Gus Dur.

Menanggapi ulasan Nina Lubis yang mencermati Gus Dur dari perspektif Weberian tentang kepemimpinan, Gus Dur mengatakan, ia tidak pernah memiliki motif apa pun ketika menyampaikan pernyataan bahwa ia masih keturunan Panjalu, Cina, Arab, dsb.

"Bahwa apa yang saya sampaikan memang ada pembuktian, meskipun tidak harus tertulis. Seperti juga pernyataan Moammar Khadafi yang menyebutkan saya ada garis keturunan dari Libya. Apa yang saya sampaikan karena saya ingin lebih dekat dengan keluarga dan meneguhkan silaturahmi," jelasnya.

Pada epilog tanggapannya, tak luput Gus Dur menyampaikan kembali humornya. Di Stasiun Cirebon, duduk seorang Sunda. Lantas, lewat penjual nangka di luar gerbong kereta. Ia memanggil sang penjual, "Mang, nangkana, nangkana! Alih-alih mendekat, sang penjual nangka justru semakin menjauh. Ingin tahu kenapa? Tanya saja apa arti "nangkana" kepada Wong Cerbon!

Sumber Pikiran Rakyat, 29/8/2005