Pendidikan Lintas Generasi

 

Oleh Dian Nafi’*
Nabi Musa AS dan Firaun hidup di dalam dua generasi, meskipun satu zaman. Ketika Firaun sudah kuat berkuasa, Musa AS baru lahir. Firaun sudah menebar kelaliman saat Musa AS sedang menjalani penyelamatan dalam keranjang bayi yang diapungkan di sungai.

Kesenjangan generasional terlihat di situ, namun kualitas untuk menjembatani kesenjangan itu menarik sebagai pelajaran kita sekarang. Dan dari QS Al-Qashash kita banyak belajar.

Beliau kemudian diambil sebagai anak asuh Firaun, hanya mau disusui oleh dan dengan air susu ibu kandungnya, menjalani sejumlah tes naluriah kanak-kanak dan hingga tumbuh menjelang dewasa.

Kelaliman Firaun bersumber dari kekafirannya. Dengan itu Firaun memusatkan kekuasaan hanya kepadanya. Bahkan kekuasaan itu ia rohanikan, sehingga pelan tetapi pasti ia membangun citra diri menyesatkan. Ia mengaku sebagai tuhan.

Akibat yang menyertai kelaliman Firaun adalah perkelahian-perkelahian antarpenduduk beda suku. Yang dekat dengan Firaun merasa lebih berhak atas lebih banyak kemudahan daripada lainnya.

Nabi Musa AS sempat menyesal, upaya beliau melerai pertengkaran dua pemuda mengakibatkan tewasnya salah satu. Beliau menyangkal bahwa itu merupakan tindakan yang seharusnya.

Dan itu diikuti dengan tekad untuk tidak memihak kepada pelaku dosa. Di situlah Nabi Musa AS memasuki gerbang baru untuk menjadi diri sendiri. Fakta tidak disangkal, beliau hasil “didikan” keluarga Firaun, tetapi bukanlah fotokopi mereka.

Memphis, ibukota pemerintahan Firaun, telah menorehkan bekas mendalam dalam diri Nabi Musa AS muda. Masalah kemanusiaan sudah dipahami, tetapi kecakapan untuk menjawabnya belum cukup dikuasai. Penduduk menyarankan beliau menambah pengalaman.

Perjalanan pun ditempuh. Dipilihlah Kota Madyan, jaraknya delapan malam perjalanan kaki dari Mesir. Di sana berdiam Nabi Syuaib AS dan umat beliau. Demikian Al-Alusi menjelaskan dalam tafsirnya (Juz 15: 101).

Pengalaman pertama di Madyan terjadi. Beliau menolong perempuan yang dikalahkan dari antrean di sumur komunitas tempat warga menimba air, termasuk memberi minum ternak.

Setelah itu belajar kepada Rasul senior, yang merekam lebih banyak pengalaman dan kearifan. Nabi Syuaib AS mengambil beliau sebagai menantu. Manajemen peternakan dipelajari sebagai penopang ekonomi keluarga. Hingga tiba saatnya tempaan spiritual dijalani dengan perjumpaan yang menyejarah di Bukit Tursina.

Diplomasi
Ada kesinambungan dalam pendidikan yang dijalani Nabi Musa AS. Dari Firaun, Nabi Musa AS terbiasa dengan diplomasi berkelas tinggi. Juga belajar tentang kerja tim, terbukti beliau memohon kepada Allah agar saudaranya, Harun AS, diangkat sebagai Nabi dan Rasul yang menemani dalam misi. Dari si Firaun, terlihat kerapian manajemen layanan publik. Dari Nabi Syuaib AS, diperoleh muatan kurikulum bagi layaknya seorang Nabi dan Rasul. Yang dengan itu kelaliman Firaun hendak dikoreksi.

Untuk kerja besar dan sekaligus meniadakan korban sia-sia dari kalangan masyarakat luas, maka pendidikan lintas generasi penting adanya. Model pendidikan ini memberikan hak kepada Nabi Musa AS untuk menguasai muatan kurikulum “di atas” yang dipelajari Firaun.

Dalam model itu, Nabi Musa AS dididik sebagaimana umumnya anak-anak dan pemuda sebaya beliau dengan tambahan muatan tanggung jawab melebihi kebanyakan orang seusia beliau. Dan di balik itu adalah rahasia-Nya, bahwa kelak Sang Nabi harus mendampingi umat beliau, Bani Israil, berkelana di padang Tiih selama empat puluh tahun (QS Al-Maidah: 26), untuk membangun tabiat/karakter mereka (Ar-Razi dalam Mafatih al-Ghaib, Juz 1: 321).[]

* Pengasuh Ponpes Al Muayyad Windan, Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo
(www.sopolos.co.id, Jum'at, 08 Agustus 2008).