Pluralisme, Solusi bagi Malaysia

Syamsul Arifin*

SELAMA dua hari, 9-10 Januari lalu, saya dan beberapa teman terlibat diskusi dengan tiga peneliti senior dari tiga universitas Australia untuk memperkaya rencana penelitian tentang perkembangan Islam kontemporer di Indonesia. Nama salah seorang peneliti senior dari Australia itu cukup familier bagi masyarakat Indonesia, yakni Greg Barton. Dia berasal dari Deakin University, Geelong, Victoria, Australia.

Ihwal popularitas Greg Barton di Indonesia tidak bisa lepas dari publikasi dua bukunya dalam versi bahasa Indonesia. Yakni, Gagasan Islam Liberal di Indonesia, yang terbit pada 1999. Yang kedua adalah Biografi Gus Dur: The Authorized Biography of Abdurrahman Wahid. Sejak terbit pada 2003 sampai 2008, buku tersebut telah mengalami cetak ulang sampai delapan kali.

Di sela-sela jeda diskusi, saya menyempatkan bertanya kepada Greg Barton tentang kelanjutan pemikiran Gus Dur. Menurut Greg Barton, pemikiran Gus Dur memiliki kekuatan. Selain dari sisi tema yang merambah ke berbagai ranah, relevansinya baik bagi masyarakat Islam dan non-Islam di Indonesia, maupun masyarakat agama di belahan bumi lainnya. Karena itu, menurut Greg Barton, perlu ada agenda "menginternasionalkan' pemikiran Gus Dur. Dan sepertinya, salah satu agenda kerja intelektual Greg Barton akan mengarah pada gagasan tersebut.

Mengapa Internasionalisasi?

Indonesia sungguh beruntung memiliki tokoh sekaliber Gus Dur. Pada diri Gus Dur tentu melekat sejumlah keterbatasan dan kelemahan. Tetapi, jika memperhatikan fenomena pada saat Gus Dur dikebumikan di tempat kelahirannya, yang tampak ke permukaan justru kelebihannya. Yang merasa sedih atas kepergian Gus Dur, tidak hanya kalangan nahdliyin, atau masyarakat Islam. Masyarakat lintas agama pun ikut kehilangan.

Hanya tokoh yang pernah menaman benih-benih keterbukaan pada masa hidupnya yang bakal menuai sambutan demikian antusias dan masif di saat wafatnya. Dan, Gus Dur merupakan sedikit tokoh yang dimaksud. Fakta ini merupakan suatu kredit poin yang memudahkan pemikiran Gus Dur bisa diterima oleh khalayak luas sampai ke luar Indonesia.

Gus Dur dikenal luas sebagai tokoh yang selalu memiliki energi melimpah di saat memperbincangkan keterbukaan. Visi keterbukaan yang dianut Gus Dur adalah kesediaan menciptakan ruang dialog yang berlanjut pada pengakuan dan penerimaan terhadap kelompok lain yang berbeda. Karena itu, Gus Dur tanpa beban menerima demokrasi, kendati ada beberapa kelompok dalam Islam yang terus-menerus melakukan stigmatisasi terhadap demokrasi sebagai ideologi sekuler, bahkan disebut pula kafir.

Dalam suatu tulisannya, Agama dan Demokrasi, yang terdapat dalam buku, Islam Kosmopolitan: Nilai-Nilai Indonesia dan Transformasi Kebudayaan (2007), Gus Dur berargumen ihwal penerimaannya terhadap demokrasi. Bagi Gus Dur, dalam demokrasi terkandung kebajikan universal karena adanya pengakuan secara egaliter terhadap manusia tanpa memandang asal-usul etnis, agama, jenis kelamin, dan bahasa ibu. Kandungan demokrasi tersebut, menurut Gus Dur, seharusnya tidak dilawankan dengan agama. Islam misalnya. Ini mengingat adanya pengakuan yang sama dari semua agama terhadap kesetaraan manusia.

Sikap konstruktif Gus Dur terhadap demokrasi berlanjut pada penerimaannya yang tidak kalah konstruktif terhadap pluralisme. Jika kemudian SBY, presiden RI, menyebut Gur Dur sebagai Bapak Pluralisme, disusul Amien Rais, tokoh Muhammadiyah dan PAN, yang menilai Gus Dur sebagai ikon pluralisme, bukanlah ungkapan yang berlebihan. Semasa hidupnya, lebih-lebih ketika memiliki otoritas sebagai presiden ke-4 RI, Gus Dur menelurkan kebijakan yang berujung pada pengakuan politik (political recogniton) terhadap kelompok minoritas.

Kasus Malaysia

Demokrasi dan pluralisme hanyalah secuil gagasan kunci Gus Dur di antara banyak gagasan kunci lain yang terserak di beberapa tulisannya. Tetapi, memang kedua gagasan kunci itulah yang banyak dibaca dan diungkap kembali oleh kalangan yang segaris dengan pemikiran Gus Dur. Daya tarik kedua gagasan Gus Dur tersebut, tampaknya, tidak bisa dilepaskan dari kondisi silang sengkarut yang masih mewarnai kehidupan masyarakat Islam, terutama terkait isu kemajemukan agama.

Gambaran teraktual terjadi di Malaysia. Yakni, konflik antaragama di Malaysia yang dipicu klaim kesahihan (truth claim) pemakaian kata Allah. Masyarakat Islam di Malaysia -kendati tidak seluruhnya- menghendaki hanya orang yang beragama Islam yang boleh menggunakan kata Allah. Sikap ini berbuntut aksi teror terhadap beberapa gereja yang dilakukan pihak yang berkeberatan dengan penggunaan kata Allah oleh kaum nasrani di sana.

Andaikan masih hidup, Gus Dur pasti bereaksi keras terhadap konflik antaragama yang terjadi di Malaysia itu. Pada kasus yang terjadi di Malaysia, kita menemukan relevansi pemikiran Gus Dur tentang pluralisme. Sebagaimana Malaysia, Indonesia terbukti memiliki potensi konflik yang dipicu perbedaan agama. Tidak hanya Malaysia dan Indonesia, di belahan bumi lain juga terdapat potensi konflik yang berakar pada masalah kemajemukan. Pada titik inilah gagasan internasionalisasi pemikiran Gus Dur memiliki relevansi yang kuat.

Hanya masalahnya, apakah generasi sepeninggal Gus Dur memiliki obsesi ke arah tersebut. Mudah-mudahan nama besar Gus Dur tidak malah dikerdilkan segelintir orang yang ingin menjadikan Gus Dur hanya sebagai nama partai. Jika hal itu terjadi, Gus Dur hanya dimiliki segelintir orang. (*)

*). Prof Dr Syamsul Arifin MSi, guru besar sosiologi agama dan wakil direktur PPs Unmuh Malang

Sumber: Jawapos | Jum'at, 15 Januari 2010