Selamat Jalan Wahai Kesederhanaan!

Oleh: Hamzah Sahal

"\"\""nggak siapa yang tidur di belakangmu, di lantai depan TV 14 inchi?\" \"Ndak Tahu, Mas. Paling kerabat Guru Gus Dur dari Jombang atau siapa gitu,\" jawab saya.

\"Itu Gus Dur,\" kata Rumadi. Kami semua geleng-geleng kepala dan mengelus dada. Guru Gus Dur tidur hanya beralaskan selembar karpet tipis, satu bantal dan bantal guling yang didekapnya, padahal dalam keadaan sakit. Pada waktu itu kami ngobrol biasa, senda gurau ngalor-ngidul. Rumadi pun mengaku baru tahu setelah perjalanan pulang. Itulah kebiasaan tidur Guru Gus Dur: sangat sederhana.

Rabu petang, 30 Desember 2009, Guru Gus Dur menghembuskan nafas terakhir di RSCM, Jakarta Pusat. Keesokan harinya, Guru Gus Dur dimakamkan di pekuburan sederhana, di tanah datar, di pesantren peninggalan kakeknya, Tebuireng Jombang.

Selamat jalan Wahai Kesederhanaan!

Penulis adalah aktivis PP Lakspesdam NU

Dimuat juga di gusmus.net

More Tags

Kesederhanaan